Tag

, ,

MAKNA LAGU INDONESIA RAYA 

pada lagu indonesia raya bait demi bait memiliki arti dan makna yang berbeda-beda,makna dan arti tersebut antara lain: Pada bait pertama dan kedua berartikan bahwa indonesia merupakan negara dimana kita hidup sampai mati,bahkan untuk membelanya dari penjajah kita rela sampai bertumpahan darah. pada bait ketiga dan keempat berartikan indonesia merupakan tempat dimana kita hidup dari kecil sampai ajal menjemput. pada bait ke lima dan keenam adalah indonesia merupakan negara kita yang sangat kita banggakan dan merupakan negara yang berdaulat. pada bait ke tujuh dan kedelapan adalah mengajak kita untuk bersatu membangun negara yang lebih baik . pada bait ke sembilan, sepuluh dan kesebelas berartikan mendoakan agar negara dan bangsa indonesia selalu makmur,sejahterah dan damai. pada bait ke duabelas, tigabelas dan empatbelas berartikan mengajak agar bangsa indonesia selalu berjuang dan berkorban untuk negara indonesia tercinta ini.

pada bait ke limabelas,enambelas dan tujuh belas mengartikan seberapa besarnya cinta yang harus kita berikan kepada negara ini dan para pahlawan yang sudah memerdekakan indonesia. pada bait ke lapanbelas, kesembilan belas dan keduapuluh mengartikan bahwa kita harus mencintai negara kita sendiri sebagai mana nenek moyang kita mencintai indonesia agar indonesia dapat terus berkembang dan jaya.pada bait selanjutnya mengartikan bahwa indonesia adalah negara yang kaya, subur dan indah dan di akhir lirik bermaknakan kita disuruh berdoa dan terus mensyukuri atas karunia yang telah tuhan berikan kepada negara kita yang tercinta ini.

Indonesia tanah airku, Tanah tumpah darahku.
Di sanalah aku berdiri, Jadi pandu ibuku.
Indonesia kebangsaanku, Bangsa dan Tanah Airku.
Marilah kita berseru “Indonesia bersatu!”

Kalimat-kalimat di atas adalah bait pertama lagu Indonesia Raya, lagu kebanggan bangsa Indonesia. Saya tidak hendak melanjutkan perdebatan tentang lagu Indonesia Raya. Saya hanya hendak berpendapat sebagai seoarang awam. Saya mendengar dan menghafal lagu ini sejak masuk Taman Kanak-kanak. Setiap hari Senin pagi sebelum pelajaran dimulai diselenggarakan upacara bendera. Lagu Indonesia Raya dilantunkan bersama-sama oleh seluruh peserta upacara. Semua tangan kanan berada di depan kening memberi hormat kepada sang saka merah putih yang dikibarkan oleh tiga pengebar bendera.

Dari TK sampai SMA rutinitas Senin ini masih berlangsung. Setiap Senin, saya mendengarkan lagu ini. Sejak kecil melalui lagu Indonesia Raya, saya mengenal Indonesia. Di SD kelas lima saat upacara bendera dan mendengar lagu Indonesia Raya timbul pertanyaan dalam diri saya. Rasanya ada sesuatu yang mengganjal saat mendengar baris ke dua. ‘Di sanalah aku berdiri’. Kenapa ‘di sana’, tidak ‘di sini’?`

Di SD oleh guru Bahasa Indonesia saya diajarkan membedakan arti kata ‘di sana’dan ‘di sini’. ‘Di sana’ dan ‘di sini’ adalah kata yang sama-sama menunjukan arah. ‘Di sini’ di gunakan jika kita bicara di suatu tempat akan menunjukan arah, arah yang akan kita tunjuk adalah tempat yang sekarang ditempati. Tidak terdapat jarak antara tempat berbicara dengan tempat yang dibicarakan. Contoh dalam kalimatnya kira-kira demikian; “Di mana kamu belajar mengaji?” tanya seorang pada temannya, dan temannya menjawab; “Di sini”. Jawaban ‘di sini’ menunjukan di tempat tersebut orang yang di tanya belajar mengaji.

‘Di sana’ digunakan jika kita bicara di suatu tempat akan menunjukan arah, arah yang akan kita tunjuk adalah tempat yang sekarang tidak kita tempati. Terdapat jarak antara tempat berbicara dengan tempat yang dibicarakan. Misalnya kita sekarang sedang berada di lapangan, dan membicarakan sawah, maka kita menunjuk arah sawah dengan kata ‘di sana’.

Kembali ke lagu Indonesia Raya. Saya merasa ada kejanggalan di baris ke dua. ‘Di sana lah aku berdiri, Jadi pandu ibuku’. Kita sekarang sedang berada di Indonesia, membicarakan tentang Indonesia, kenapa mengunakan kata ‘di sana’? Pertanyaan ini pernah saya ajukan kepada guru bahasa Indonesia waktu SD dulu dan beliau tidak menjawab. Di SMP pertanyaan serupa saya tanyakan kepada guru Pendidikan Moral Pancarila, saya tidak mendapatkan jawaban yang memuaskan. Guru saya menjawab “Ya memang yang buat lagu begitu.”

Setiap mendengar lagu Indonesia Raya ini selalu timbul pertanyaan dalam diri saya. Sampai ketika masuk SMA saya mereka-reka jawaban atas pertanyaan saya. Apakah lagu tersebut diciptakan di luar negeri sehingga menunjuk Indonesia dengan kata tunjuk ‘di sana’?

Menurut saya pengunakan kata ‘di sana’ karena lagu ini diciptakan jauh sebelum Indonesia menjadi Indonesia. Indonesia masih menjadi mimpi. Lagu Ini di dinyanyian pertama kali pada 28 Oktober 1928, maka logis jika mengunakan kata tunjuk ‘di sana’.

‘Di sana’ nanti jika Indonesia sudah merdeka, saya akan menjadi pandu ibuku. Karena sekarang angan-angan pada 28 Oktober 1928 itu sudah menjadi kenyataan, bukan lagi sekedar angan-angan, maka menurut saya sudah saatnya kata ‘di sana’ dalam lagu Indonesia Raya diganti dengan kata ‘di sini’.

Dengan diubahnya kata ‘di sana’ lagu ini akan lebih terasa gregetnya. Kita bernyanyi tidak sekedar bermimpi, berangan-angan tetapi juga merasakan dan menjiwainya dan melakukannya.

Mari kita nyanyikan lagu Indonesia Raya versi yang saya usulkan;

Indonesia tanah airku, Tanah tumpah darahku.
Disinilah aku berdiri, Jadi pandu ibuku.
Indonesia kebangsaanku, Bangsa dan Tanah Airku.
Marilah kita berseru “Indonesia bersatu!”
kak…gimana sih caranya memaknai hidup??”, sekilas pertanyaan seorang anak sanggar kepadaku saat istirahat latihan teater. Aku termenung sejenak, tersenyum kearahnya. senyumanku bukanlah tanda aku bisa memaknai pertanyaan itu sendiri, dan memberikannya jawaban kongkrit makna hidup, tapi senyumku seakan sesuatu yang menyadarkan diri pribadi, dan bertanya pada jiwa ini…”apa makna hidup yang engkau berikan bagi kehidupan??”. karena hidup sama seperti kertas yang engkau torehkan warna apapun diatasnya sesuai keinginanmu. atau bagaikan sketsa puzzle yang harus kita susun dengan sekali langkah dan kemudian mempertanggung jawabkannya.

makna hidup bagi setiap personil insan memiliki makna yang berbeda-beda. yang berpikiran hedonis, liberal, spiritual dan yang lainnya. seseorang terkadang memaknai hidup dengan cita- dan keinginannya sendiri tampa melihat makna hidupnya bagi orang. Right!!!!….kita selalu di berikan hak memotivasi diri untuk senantiasa maju kedepan hingga tangan meraup kesuksesan, tapi apalah artinya kesuksesan dan kebesaran itu sendiri tampa memberikan makna yang berarti bagi orang-orang disekitar kita.

sahabat, orang tua, kawan, dan semuanya yang berinteraksi langsung dengan kita adalah orang-orang yang akan memberikan makna pada hidup. Lantas individualis gimana??…manusia diciptakan untuk berdampingan dengan yang lain, karena terjadi ketergantungan secara naluri sebagai manusia dengan manusia yang lain. menghargai mereka, akan menyebabkan mereka pun menghargai kita, anda, dan saya. mendepak mereka, maka tindakan itupula yang akan kita tunai nantinya.

Aku langsung teringat dengan nasehat orang tuaku kala di berikan tugas sebagai wakil beliau, untuk meresmikan TPA Alquran di kalimantan selatan (tanjung). Hanya satu yang beliau katakan “Si Pak’karaja, Si pak’katau”, bahasa bugis yang artinya “JADIKANLAH SEMUA ORANG BAGAIKAN RAJA, DAN MANUSIAKAN MEREKA SEBAGAIMANA ENGKAU MENGANGGAP DIRIMU MANUSIA”. semua orang ingin dihargai, maka hargailah mereka semua…bukan dengan uang atau kedudukan tapi dengan budi baik kepada mereka, dan janganlah melakukan sesuatu kepada mereka yang dirimu sendiri tidak menginginkannya.

“hidup bagiku adalah frontasi pribadiku, berusaha menyingkirkan ego demi kebaikan orang banyak, bekerja bukan hanya untuk pribadi, bukan mengalah…tapi memberikan nuansa yang lebih variatif dalam merangkul makna hidup dan mewarnainya. toh’ kita tidak selamanya berada satu tempat dan satu atap, suatu hari nanti kita akan berpisah kembali ke tanah kelahiran masing-masing, maka nuansa dan makna yang kita ukirkan kepada orang lain akan terkenang olehnya dan menciptakan keindahan untuk di ceritakan sebagai arti kenangan manis. So…kamu tinggal memilih..memaknai hidupmu agar dikenang orang atau dilupakan karena di benci oleh mereka..???” itulah jawaban yang ku berikan padanya. yang bagi diriku sendiri gamang olehnya, karena sifat ikhlas berkorban pada orang lain masih merongrong diriku dan tidak seutuhnya. tapi setidaknya, aku masih bisa berusaha dan puas dengan jawabanku padanya.

Allah…terimah kasih, karena Engkau selalu mengingatkanku dan mereka dengan teguran-Mu yang kasih. Dan tegurlah kami lebih banyak, agar bangun dari kekhilafan walaupun kami harus tertatih untuk menempuh arti hidup dan kebenaran.

Baca juga :

kait kata :

makna lagu indonesia raya, makna dari lagu indonesia raya, arti lagu indonesia raya, arti dan makna lagu indonesia raya, makna lirik lagu indonesia raya, lirik lagu indonesia raya dan maknanya, makna dan arti lagu indonesia raya, lagu indonesia raya beserta maknanya,

makna indonesia raya, makna bait pertama lagu indonesia raya, apa makna dari lagu indonesia raya, lagu indonesia raya dan maknanya, pengertian tanah tumpah darahku, lagu yang bermaknakan Indonesia, syair lagu indonesia raya bait pertama, makna di setiap lirik lagu indonesia raya, lagu indonesia raya beserta makna, makna dari setiap bait lagu indonesia raya, makna dari setiap bait indonesia raya, arti makna lagu indonesia raya, arti bait pertama lagu indonesia raya, apa makna kata jadi pandu ibuku dalam lagu indonesia raya, arti dari makna yang terkandung di lagu indonesia per bait.

About these ads