fanfiction Barbie Hae Sequel chapter 4

BARBIE HAE SEQUEL COVER FANFICTION KIHAE SIHAE KYUHAE KIBUM DONGHAE ROMANCE FLUFF NC17 MATURE CUTE

Title : Barbie Hae Sequel
Author : Nazimah Agustina a.k.a Kang Hyo Sang
Pairing : KiHae and other
Cast : Kim Kibum, Lee Donghae, Cho Kyuhyun, Kim Heechul, Kim Ryeowook, Choi Siwon, Park Jung Soo, Cho Ahra
Rating : T-M
Genre : Romance, Fantasy, Family
Disclaimer : Tuhan Yang Maha Esa
Summary : Baca Barbie Hae dulu biar bisa lebih mengerti FF ini, jangan lupa review ya!
Warning : Gender switch! Cerita tidak masuk akal! Cerita pasaran!

.
.
Tidak suka, tidak usah dibaca!
.
.

Sebelumnya ….
.
.

Duk… duk… duk…
.
Heechul menggedor pintu kamar adiknya kasar, iapun menekan-nekan kenop pintu. Kibum beruntung karena pintu kamarnya terkunci.
“Huusstttt!” seru kibum membekap mulut Hae dengan sebelah tangan.
“Kim Kibum buka pintunya!” teriak Heechul dari luar kamar.
Duk… duk… duk…
Dan kembali suara gedoran terdengar, Kibum mengedarkan pandangannya panik. Dengan cepat ia menghampiri lemari pakaian dan dibukanya lebar pintu itu, ia kemudian mengangkat tubuh Hae ala bridal style dan tanpa berpikir, namja itu langsung saja memasukkan Hae ke dalam lemari, menutupnya, dan tak lupa menguncinya.
.
.
Ceklek
.
.
“Ada apa noona?” tanya Kibum pura-pura tidak tahu. Tanpa menjawab, Heechul langsung saja memasuki kamar adiknya dan mengedarkan pandangannya.
“Kau ikut denganku!” perintah Heechul menarik pergelangan tangan Kibum keluar dari kamar tidurnya.
.
.
Blaaamm
Dan suara pintu yang ditutup dengan kasar pun terdengar.
.
.
Beberapa saat kemudian…
Didalam lemari …
.
Duk… duk… duk…
“Hiks… hiks… Kibummie!”
Duk… duk… duk…
“Bukaaaa!”
.
.
.
Chapter 4
.
.
“Hooaammhh,, ada apa ini sebenarnya eonnie? Kibummie?” tanya Ryeowook mengucek matanya yang masih mengantuk.
“Jadi suara apa, ah bukan! Tapi suara siapa yang kudengar tadi eoh?” tanya Heechul pada Kibum, jangan lupakan tatapan tajamnya pada sang adik.
“Suara? Suara apa? Aku tidak mendengar apapun!” elak Kibum menatap tak suka noona tertuanya itu.
“Suara? Memangnya suara apa eonnie?” tanya Ryeowook menimpali dengan kening berkerut.
“Tadi aku mendengar suara yeoja tertawa dari kamar Kibum.” Jawab Heechul membuat Ryeowook membuka matanya lebar.
“Suara? Tertawa? Yeoja? Selarut ini?” tanya Ryeowook dengan wajah horror menatap Kibum dan Heechul bergantian. Heechul mengangguk dan Kibum nampak tidak peduli.
“Huweee aku takut!” pekik Ryeowook membuat Heechul dan Kibum terkejut mendengarnya.
“Apa yang kau takutkan Ryeong-ah?” tanya Heechul tidak mengerti pada sang adik yang kini bergelayut manja di lengannya.
“Jangan-jangan itu hantu, huwaaa!” sahut Ryeowook semakin memeluk lengan Heechul erat membuat Heechul mau tidak mau melunak juga akhirnya.
“Tenanglah, tidak ada hantu!” ujar Heechul menenangkan.
“Aku tidur dengan eonnie malam ini eoh?” tanya Ryeowook mendongakkan kepalanya dengan jurus puppy eyes, Heechul mendengus.
“Ish baiklah!” sahutnya membuat Ryeowook tersenyum.
“Kali ini kau selamat Kim Kibum!” desis Heechul memandang Kibum tajam, Kibum menyerigai dan pergi dari ruang tengah, berjalan santai menuju kamar tidurnya.
.
.
.
Ceklek
.
.
.
Kibum menutup pintu kamarnya, dan berjalan menuju ranjangnya.
“Hoaaahhm!” serunya menguap lebar menandakan ia sudah mengantuk. Ketika ia hendak berbaring, secara tidak sengaja pandangannya menangkap lemari pakaian miliknya.
‘Kenapa seperti ada yang terlupa ya?’ tanyanya dalam hati dengan masih menatap bingung lemari tersebut.
‘Ah mungkin hanya perasaanku saja!’ lanjutnya lagi kemudian berbaring dan memejamkan matanya.
.
.
Beberapa saat kemudian …
.
.
.
“MWO???” pekiknya terbangun, dengan cepat ia menghampiri lemari pakaiannya.
“Ish dimana aku menaruh kuncinya?” sungutnya mengedarkan pandangan, setelahnya ia membuka satu persatu laci yang ada di dekat lemari tersebut.
“Dapat!” serunya girang, langsung dimasukkannya kunci tersebut dan diputarnya.
.
.
Ceklek
Kriieet
.
.
BRUUUK
.
.
“Hae!” gumam Kibum khawatir ketika ia membuka pintu lemari tersebut lebar, Hae malah jatuh tidak sadarkan diri. Kibum mengangkat tubuh yang masih berbalut baju mandi itu ke ranjangnya.
“Hae bangunlah!” panggilnya khawatir dengan mengipas-ngipaskan buku tipis pada wajah Hae yang dipenuhi peluh.
“Mianhae eoh? Aku sama sekali tidak bermaksud mengurungmu di lemari!” sesal Kibum menggenggam jemari Hae erat.
“Aku memang bodoh! Seharusnya aku menyembunyikanmu di dalam kamar mandi tadi!” lanjutnya lagi dengan mata berkaca menahan tangis.
“Jangan tinggalkan aku eoh?” lirihnya menatap wajah pucat Hae, setetes air mata Kibum jatuh ke pipi porselen Donghae.
.
.

“Eunngghh…” lenguh Hae membuat Kibum tersenyum senang, ia menghapus air mata dengan sebelah tangannya.
“Kau sudah Sadar chagiya?” tanya Kibum mengecup punggung tangan Hae.
“Bummie…” gumam Hae masih dengan mata terpejam erat.
“Ne? aku disini!” sahut Kibum ikut menggumam.
“Aku takut!” ucapnya membuat Kibum berinisiatif untuk segera membangunkan yeojachingunya.
“Hae bangunlah!” seru Kibum mengguncang bahu Hae, memaksanya bangun namun Hae belum juga membuka matanya, ia hanya meracau.
“Bummie!”
“Ne, aku disini!”
“Gelap!”
“Buka matamu kalau begitu!”
“Bummie!”
“Ne?”
“Aku takut!”
“Aku bersamamu!”
“Jangan tinggalkan aku!”
“Tidak akan!” Kibum semakin panik, ia mengambil sapu tangannya kemudian berlari memasuki kamar mandi.
Di dalam kamar mandi ia membasahi sapu tangan tersebut dengan air yang mengalir dari westafel. Setelah diperas ia keluar dari kamar mandi dan menyapukan sapu tangan itu ke wajah Hae.
.
.
“Bummie…” lenguh Hae perlahan membuka mata indahnya membuat Kibum tersenyum untuk menyambutnya.
“Syukurlah kau sudah bangun chagiya!” ucap Kibum membelai pipi Hae sayang.
“Bummie hiks aku takut!” serunya memeluk Kibum erat.
“Mianhae eoh? aku memang bodoh!” sesal Kibum.
“Kau jahat hiks… hiks…” sahut Hae memukul bahu namja yang masih dipeluknya.
“Aku sama sekali tidak bermaksud seperti itu! Mianhae!” ucap Kibum mengelus surai coklat Hae.
“Kau tahu aku takut gelap!” Hae berkata dengan suara parau.
“Aku tahu, tapi aku sangat panik tadi! mianhae!” ucap Kibum lagi.
Hae melepas pelukannya dan berbaring, membelakangi Kibum.
Kibum tersenyum geli karena Hae yang berbaring di sebelah kiri kasur malah menghadap ke sebelah kanan. Jika Kibum berbaring di sebelahnya dan menoleh ke arah kiri bukankah mereka akan berhadapan?
Dan Kibum melakukan itu, ia berbaring di sebelahnya dan menghadap ke kiri dengan killer smilenya membuat Hae mendengus sebal dan berbalik, benar-benar membelakanginya.
“Aku benci padamu!” ketus Hae, Kibum tersenyum karena ia tahu Barbie Hae miliknya tidak mungkin benar-benar membencinya, Hae hanya kesal pada Kibum.
Kibum melangkahkan kakinya menuju lemari dimana ia mengunci Hae tadi. Hae berbalik dengan ragu, rupanya ia penasaran dengan tindakan Kibum.
Kibum tersenyum ketika menemukan piyama miliknya yang mungkin cocok dikenakan Hae, meskipun ia yakin akan longgar.
.
.
“Pakailah piyama ini, kau tidak mungkin tidur hanya dengan memakai baju mandi itu kan?” tanya Kibum lembut duduk disamping Hae.
Hae bangkit dan mendudukkan dirinya, maniknya menatap piyama yang disodorkan Kibum padanya. Diambilnya kasar piyama itu dan bergegas memasuki kamar mandi.
.
.
“Tidak ingin kupakaikan?” tanya Kibum usil.
BLAAAM
Itulah jawaban Hae, pintu kamar mandi yang ditutup kasar. Kibum terkekeh.
.
.
.
.
.
Tiga puluh menit kemudian…
.
.
“Euuunggh…” lenguh Kibum dalam tidurnya, ia meraba sisi tempat tidurnya yang lain, kosong.
Kening Kibum berkerut walau matanya masih terpejam, dibukanya kelopak mata dan ditolehkannya kepala untuk memastikan, kosong.
“Ia belum selesai juga?” tanya Kibum ragu setelah memeriksa jam wekernya.
.
.
Tok… tok… tok…
.
“Hae?” panggil Kibum pelan.
“Kau masih di dalam? Kenapa lama sekali?” panggilnya lagi disusul beberapa ketukan pelan.
.
.
.
Ceklek
.
.
.
Hae membuka pintu kamar mandi dan hanya menyembulkan kepalanya, tubuhnya ia sembunyikan di balik pintu.
“Kau kenapa? Sedang apa? Kenapa lama sekali?” tanya Kibum penasaran, apalagi melihat wajah kusut Hae.
Perlahan Hae kemudian membuka pintu kamar mandi sepenuhnya masih dengan bibir yang dimajukan, dan di detik berikutnya Kibum harus menahan tawanya karena Hae yang melotot padanya.
“Apa?!” tanya Hae galak.
“Tidak perlu segalak itu! kau tidak menyeramkan tahu!” sahut Kibum dengan jemarinya yang mengancingkan piyama yang dikenakan Hae, rupanya Hae tidak bisa memasang kancing baju sendiri.
“Aku sudah berusaha!” Hae mengeluh saat Kibum sudah setengah jalan(?) mengancingkan piyamanya.
“Tapi tidak berhasil juga!” keluhnya lagi setelah Kibum menyelesaikan memasang kancing terakhir.
.
.
.
“Selama ini kau yang selalu memakaikanku baju!” keluh Hae yang dijawab gumaman oleh Kibum.
“Kau yang memandikanku!” dan terdengar gumaman dari Kibum.
“Kau juga yang memakaikanku sepatu!” lanjutnya yang lagi-lagi dijawab gumaman oleh Kibum.
“Aku tidak bisa melakukan apa-apa!” simpulnya dengan wajah muram.
Kibum menggumam dan setelahnya ia nampak terkejut, “itu tidak benar!” sergahnya menoleh pada Hae. Mereka berdua kini duduk bersampingan di kasur Kibum.
“Itu benar!” elak Hae membuat Kibum menghela nafas. Namja itu memposisikan dirinya di depan Hae, kemudian ia mensejajarkan tingginya dan memegang pundak Hae, memaksa sang Barbie untuk mendongakkan kepalanya.
“Dengar! Aku sama sekali tidak merasa repot karenamu! Justru kau penyemangat hidupku nae Barbie! Tanpa kau hidupku kosong, datar-datar saja! Tapi setelah kau hadir dalam hari-hariku, hidupku lebih berwarna, dengan warna yang cerah tentunya. Percayalah!” jelas Kibum menatap dalam mata sembab Hae, dan jangan lupakan killer smilenya.
Hae tersenyum dan mengangguk, Kibum menuntunnya untuk berdiri kemudian memeluknya erat.
“Saranghae!” ucap Hae membenamkan wajahnya di di dada Kibum.
“Nado nae Barbie!” sahut Kibum mengeratkan pelukannya.
Setelah beberapa menit Kibum teringat dengan malam yang semakin larut, iapun melepas pelukannya. Ia tersenyum kemudian perlahan mendekatkan wajahnya, bermaksud mendapat night kiss(?), mungkin.
Sedikit lagi bibir keduanya bertemu namun Kibum harus menelan kecewa saat Hae mengacungkan jari telunjuknya menghalau bibir Kibum yang hendak menyentuh bibirnya sambil menggelengkan kepala pelan.
“Waeyo?” tanya Kibum dengan kening berkerut.
“Aku belum memaafkanmu!” ujar Hae dengan wajah sebalnya, Kibum mengangkat sebelah alisnya.
“Itu sudah berlalu bukan?” tanya Kibum menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal.
“Sebagai hukuman kau sudah mengurungku di dalam sana,” Hae menunjuk lemari Kibum.
“Kau tidak boleh menciumku apalagi berbuat lebih selama tiga hari!” pernyataan Hae membuat mata Kibum melotot.
“MWO? Selama itu?” tanya Kibum tidak percaya, Hae mengangguk dengan gaya angkuh, membuat Kibum gemas.
“Tidak bisa!” tolak Kibum membuat Hae menyernyit.
“Kau tidak boleh menyiksaku seperti itu!” kali ini ucapan Kibum melembut.
“Kau tega melakukan itu padaku eoh?” dan Kibum memasang wajah memelasnya pada Hae.
“Cabut hukumanku eoh?” pintanya lagi masih memasang wajah memelas.
Hae tampak berpikir, ia memandang wajah memelas Kibum padanya.
Hae mendengus, “baiklah, tidak sampai tiga hari. Tapi malam ini biarkan tubuhku beristirahat sepenuhnya eoh?” sahut Hae kemudian menguap.
Kibum tersenyum sumringah, “baiklah jika itu yang kau mau Barbie Hae!” jawab Kibum kemudian ikut menguap.
“Kita tidur eoh?” tanya Kibum, Hae mengangguk.
.
.
Keesokan harinya …
.
.
“Euunnggh…” lenguh Kibum, ia meraba sisi tempat tidur di sebelahnya sampai tangannya menyentuh boneka Barbie miliknya.
Kibum bagkit dari tidurnya, ia mengambil boneka tersebut. “Kita mandi eoh?” tanyanya tersenyum pada Barbie kesayangannya, ia kemudian bergegas menuju kamar mandi.
.
.
.
Barbie Kim’s Shop
02.00 pm
.
.
“Akhirnya selesai juga targetku hari ini!” seru Kibum senang setelah menyelesaikan pesanan salah satu rumah Barbie, ia kemudian menatap Hae yang ia letakkan di atas meja yang bersebrangan dengan meja kerjanya.
Kibum tersenyum, menatap penampilan Hae yang di desainnya sendiri adalah hiburan baginya. Hari ini ia mendadani Hae dengan gaun merah selutut tanpa lengan (ada yang ingat gaun yang dikenakan Hermione Granger di film Harry Potter and The Deathly Hallows part 1 saat pernikahan Bill Weasley dengan Fleur Delacour? Seperti itulah gaun yang dipakai Hae), rambut coklat ikalnya ia jepit dengan jepitan rambut berwarna senada dengan gaunnya, dan high heels berwarna hitam yang menambah nilai plus bagi Hae.
.
.
.
“Hoaamm!” Kibum menguap, ia memutuskan untuk kembali ke kamarnya untuk melanjutkan tidur, tidak lupa membawa Barbienya turut serta.
.
.
.
Ceklek
.
.
.
Kibum memasuki kamarnya, ia kembali menatap Hae dengan killer smilenya.
“Aku tidur dulu eoh?” tanya Kibum kemudian mendirikan Hae di atas meja. Setelahnya Kibum berbaring di kasur empuknya dan menikmati tidur siangnya.
.
.

Beberapa menit kemudian…
.
Tok… tok… tok…
“Ish! Siapa sih yang mengetuk pintu?” sungut Kibum namun tidak mau membuka matanya.
“Kibummie buka pintunya!” terdengar suara Ryeowook dari luar kamarnya.
Tok… tok… tok…
“KIBUMMIE!” pekik suara indah Ryeowook, yang bagi Kibum saat ini tidak terdengar indah sama sekali.
“NE!” teriaknya dan dengan malas Kibum beranjak dari ranjang menuju pintu kamarnya.
.
.
.
Ceklek
.
.
“Ada apa noona?” tanya Kibum kemudian menguap.
Ryeowook tersenyum penuh arti, ia langsung saja memasuki kamar Kibum.
“Ini dia!” ujar Ryeowook senang kemudian memegang Hae.
“Mau noona apakan Barbieku?” tanya Kibum.
Ryeowook tidak menjawab, ia memperhatikan barbie milik Kibum seksama hingga ia kembali tersenyum dan menaruh Hae kembali ke meja.
Ryeowook kemudian mengeluarkan kotak berisi boneka Ken –Barbie berjenis kelamin laki-laki- dari keantong plastik yang ia bawa. Yeoja itu mengeluarkan sang Ken dari kotaknya dan menaruhnya di sebelah Barbie Hae.
“Bukankah mereka sangat serasi Kibummie?” ujar Ryeowook tersenyum memandang pasangan Barbie dan Ken yang ada di atas meja. Kibum menyernyitkan dahi.
‘Serasi darimana? Hae hanya serasi bila bersanding denganku!’ nilai Kibum dalam hati.
“Itu untuk apa noona?” tanya Kibum.
“Aku tadi diberi hadiah boneka Ken dari temanku yang baru tiba dari luar negeri, dan aku memutuskan untuk memberikan pasangan untuk barbiemu.” Jelas Ryeowook membuat Kibum mengangkat sebelah alisnya.
“Tidak perlu noona, lebih baik bawa boneka Ken ini ke kamar noona ne?” usir Kibum mengambil boneka Ken dan menaruhnya ke tangan Ryeowook.
“Tidak mau! Kau saja sudah mendapat pasangan, kenapa barbiemu tidak eoh?” sergah Ryeowook menatap galak Kibum.
“Tapi itu tidak perlu noona!” sahut Kibum tidak mau kalah.
“Ken ini harus menjadi pasangan Barbie milikmu! Titik!” putus Ryeowook kemudian melangkahkan kakinya keluar kamar Kibum, Kibum mendengus.
“Lebih baik aku kembali tidur!” ucap Kibum kemudian mengambil Hae dan membawanya ke kasur, meninggalkan Ken dari Ryeowook tadi. Jadi Kibum cemburu pada boneka eoh?
.
.
.
03.00 pm
.
.
Hae tersenyum menatap wajah damai Kibum yang terlelap. Ia membelai wajah itu, sesekali dimainkannya jemarinya untuk menyentil bahkan mencubit hidung Kibum pelan membuat si pelaku tertawa terhibur.
“Hae…” panggil seseorang.
Hae menoleh ke belakang, ia mengerutkan kening dan dengan ragu menyahut, “kau?”
.
.
.
TBC
.
.
.
Bagaimana?

Related Post :
Other Post :

About agustinazimah

Nazimah Agustina | 24 Aug 1995 | East Borneo | Indonesia | SMTown Lovers | KiHae Shipper | Donghae Biased | Artworker

Posted on 20 Desember 2012, in Barbie Hae Sequel, Fanfiction and tagged , , , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink. 7 Komentar.

  1. mw baca cap 5. cara na gmn y?
    love this story

    Suka

  2. sandi untuk chap 5 apa ya ?

    Suka

Bagaimana menurut anda?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: