Fanfiction Lukisan Chapter 6

Title : Lukisan

Author : Nazimah Agustina aka Nazimah Elfish

Pair : KyuMin, KiHae, YeWook

Rating : Teen

Cast : Lee Sungmin, Kim Kibum, Cho Kyuhyun, Lee Donghae, Lee Hyukjae, Kim Jong Woon, Kim Ryeowook, Choi Siwon

Genre : Romance, mystery, drama, angst

Disclaimer : Tuhan Yang Maha Esa

Summary : Pasangan muda Kyuhyun dan Sungmin membeli sebuah rumah yang dulunya milik pelukis terkenal. Semenjak menempati rumah tersebut, Sungmin kerap kali mengalami kejadian aneh yang membuatnya takut, terutama jika mengenai lukisan pemilik rumah terdahulu. Misteri apa yang ada dibalik rumah dan lukisan itu ?

Warning : gender switch, cerita pasaran, OOC ..

.

.

Tidak suka, tidak usah dibaca ..

.

Sebelumnya …

.

SEEERRRRR

Sungmin menyalakan keran yang ada di wastafel, ia kemudian memandang bayangan dirinya sendiri di cermin yang kemudian mulai berubah wujudnya, persis yang ia alami beberapa hari lalu.

Bohong jika Sungmin tidak merasa takut, tapi bukankah ini bukan yang pertama baginya?

Jika dulu sosok itu –Donghae- memandangnya dingin, kali ini ia memandang Sungmin sendu dengan pipinya tampak dialiri air mata.

‘Dia menangis?’ batin Sungmin seraya semakin mengeratkan pegangannya pada wastafel.

“Aku sama sekali tidak tahu, maaf!” ujar Sungmin lirih, entah kenapa ia seperti bisa merasakan kesedihan Donghae, kesedihan yang mendalam, seperti sebuah penyesalan di masa lalu yang tidak mungkin dapat diulang untuk mencegahnya terjadi, bak luka yang menganga lebar namun tidak kunjung terobati.

Sungmin kemudian menundukkan kepalanya karena matanya yang terasa panas kemudian terisak pelan, namun ketika ia mengangkat wajahnya, semua telah kembali normal, ia menatap bayangannya yang menangis.

“Aku mulai mengerti Kim Donghae, kau adalah arwah penasaran kan? Ada sesuatu yang ingin kau lakukan sebelum meninggalkan dunia ini, namun aku tidak tahu itu apa, maukah kau memberitahuku? Aku akan membantumu.” Ujar Sungmin lirih masih menatap bayangannya sendiri.

“Beri aku petunjuk lebih banyak dan lebih jelas lagi Donghae-ah! Jangan seperti ini!” harap Sungmin kemudian keluar dari kamar mandi.

~ Nazimah Agustina ~

~ 95line ~

~ Lukisan ~

~ Chapter 6 ~

 

 

Ceklek

“Kau tak apa?” Kyuhyun lantas bertanya pada istrinya kerena ia yang mendengar Sungmin berbicara di dalam kamar mandi.

“Tak ada.” Jawaban yang sesungguhnya tidak memuaskan Kyuhyun itulah yang diberikannya. Wanita itu kemudian langsung saja menuju ranjangnya, didudukinya ranjang itu dengan pandangan kosong.

“Sungmin-ah?” panggil Kyuhyun yang belum menyerah, ia merasa sangat cemas dengan keadaan Sungmin yang tidak begitu baik, keadaan istrinya yang tampak seperti orang linglung di matanya.

“Aku baik-baik saja!” Kyuhyun terkejut, jawaban Sungmin sama sekali bertolak belakang dengan keadaan ia kini. Ia menjawab ‘aku baik-baik saja’, namun ia menangis setelahnya.

“Minnie-ah? Kau kenapa?” Kyuhyun bertanya panik. Ia semakin merasa cemas ketika istrinya itu menyuruhnya keluar kamar.

“Ceritakan padaku!” sela Kyuhyun menahan pintu yang hendak ditutup oleh Sungmin.

“Aku hendak tidur!”

BLAAAM!

Kyuhyun menghela nafas pasrah, memaklumi kelakuan sang istri yang terlihat aneh namun tidak mau berbagi dengannya. Pemuda tampan itu kemudian memutuskan untuk menonton TV di dekat kamar tidurnya.

10.00 PM

Ceklek

Sungmin membuka pintu kamar karena merasa haus, ia menguap karena ia tadi memang tertidur, yang artinya alasan yang ia berikan untuk Kyuhyun tidak semuanya berbohong. Dilihatnya Kyuhyun yang menonton acara variety show yang memang disenangi oleh sang suami, Sungmin tersenyum.

.

.

“Minnie?” panggil Kyuhyun setelah menoleh sedikit pada Sungmin.

“Biarkan seperti ini!” sahut Sungmin tanpa melepaskan pelukannya pada leher sang suami dari belakang. Kyuhyun tersenyum lembut, istrinya memang tidak bercerita apapun, namun ia tetap memerlukan tubuh Kyuhyun untuk dipeluk, serta pundak Kyuhyun untuk menopang kepala Sungmin.

Lama keadaan itu berlangsung hingga,

“Aku haus, aku ambil minum dulu eoh? aku akan mengambilkanmu juga.” Ujar Kyuhyun berusaha melepaskan pelukan Sungmin padanya. Sungmin seolah teringat tujuan utamanya tadi keluar kamar tadi, ingin mengambil minum.

“Biar aku saja!” selanya, Kyuhyun menghentikan langkahnya, berbalik kemudian tersenyum.

“Istriku yang cantik ini duduk manis disini saja eoh? aku akan mengeringkan tenggorokanmu sebentar lagi, tunggu ya!” bujuknya seraya mendudukkan Sungmin pada sofa yang menghadapkannya langsung pada televisi.

“Tapi,”

“Sudahlah! Biarkan aku melayanimu kali ini eoh?” kemudian pemuda itu tersenyum ketika istrinya menganggukkan kepalanya.

“Aku mencintaimu.”

“Akupun begitu, sayang.”

Sungmin kemudian menyamankan duduknya seraya memindah-mindahkan channel TV hingga,

Gluduk! Gluduk! Gluduk! Gluduk!

Sungmin terkejut, dengan cepat ia menghampiri tangga dan melihat apa yang terjadi di bawah sana.

“KYUHYUN!” pekiknya seraya menuruni tangga dengan cepat.

Tap! Tap! Tap!

“Kyu! Bangun Kyu hiks!” isaknya seraya mendudukkan dirinya di samping tubuh Kyuhyun yang terkapar di lantai yang dingin, tak lupa darah segar yang mengucur deras dari kepalanya, membuat Sungmin semakin panik.

Dipangkunya kepala sang suami yang bersimbah darah, ia kemudian mendongak ka ujung tangga di atas sana, Sungmin tertegun dengan mata yang membelalak, dilihatnya Donghae yang juga menatap keduanya dingin, dari atas sana.

Hakh! Hakh! Hakh!

“Hanya mimpi?” lirihnya, diusapnya peluh yang membanjiri wajahnya kini. Ia kemudian menoleh pada jam dinding di kamarnya, 10.00 PM.

Deg!

Sungmin kembali tertegun, ia merasakan firasat buruk. Cepat-cepat ia keluar kamar, mencari keberadaan Kyuhyun.

Ceklek

Benar saja, Kyuhyun sedang menonton TV di dekat kamar mereka dengan channel yang sama, seperti yang ada di mimpinya. Dengan tubuh bergetar, Sungmin berjalan, menghampiri sang suami yang kemudian ia dekap dari belakang.

“Minnie?” panggil Kyuhyun setelah menoleh sedikit pada Sungmin.

“Biarkan seperti ini!” sahut Sungmin tanpa melepaskan pelukannya pada leher sang suami dari belakang. Kyuhyun tersenyum lembut, istrinya memang tidak bercerita apapun, namun ia tetap memerlukan tubuh Kyuhyun untuk dipeluk, serta pundak Kyuhyun untuk menopang kepala Sungmin.

Lama keadaan itu berlangsung hingga,

“Aku haus, aku ambil minum dulu eoh? aku akan mengambilkanmu juga.” Ujar Kyuhyun berusaha melepaskan pelukan Sungmin padanya. Sungmin mencelos, ia takut? Tentu, namun ia tidak ingin kehilangan Kyuhyun jika ia bisa mencegah malapetaka yang sebentar lagi menimpa suami tercintanya itu.

“Biar aku saja!” sahut Sungmin tanpa melepaskan pelukannya di leher Kyuhyun, walau pemuda itu berusaha melepaskannya.

“Sebentar saja?”

“Tidak mau!”

“Minnie, biarkan aku melayanimu kali ini eoh?” kekeuh Kyuhyun yang nyatanya telah berhasil melepas pelukan Sungmin di lehernya, air mata Sungmin sebentar lagi akan menetes hingga,

“Kyu hiks! Kumohon tinggallah! Jangan pergi hiks!” pintanya seraya berlutut, bahkan ia menahan kaki Kyuhyun untuk melangkah mendekati tangga, di mata Sungmin tangga itu sangat menakutkan kini.

“Ada apa denganmu eoh?” Kyuhyun bertanya dengan bingung, kenapa istrinya semakin membingungkan kini?

“Jangan tinggalkan aku hiks! Temani aku! Jangan hiks pergi Kyu!” seolah melawan takdir, Sungmin masih tetap bersikeras agar suaminya tidak menuruni tangga yang akan membuatnya meregang nyawa tersebut.

“Jika kau hiks memang mencintaiku, kumohon hiks turuti keinginanku Kyu!” desaknya lagi seraya menggoyang-goyangkan kaki Kyuhyun yang perasaannya semakin bimbang.

‘Setelah ini aku harus membawanya ke psikiater!’ pikir Kyuhyun kemudian menghela nafas pasrah.

“Berdirilah! Aku akan menemanimu, oke?” sahut Kyuhyun mengalah pada akhirnya, tidak lupa ia yang menuntun Sungmin untuk bangkit dari hadapannya. Tidak mungkin ia tega membuat wanita itu meneteskan air mata, terlebih hanya karena masalah sepele seperti mengambil air minum.

Greb!

“Terima kasih hiks! Aku hiks mencintaimu!” Sungmin berucap dalam kelegaan, ia tidak peduli dengan Donghae yang akan semakin murka padanya, yang ia pedulikan adalah keselamatan Kyuhyun seorang kini.

“Akupun mencintaimu sayang!” balasnya seraya mengecup-ngecup puncak kepala sang istri hingga matanya membidik pojok ruangan yang, eerrr tampak berbeda.

“Akh!” pekiknya terkejut seraya secepat kilat melepas pelukannya pada Sungmin.

“Ada apa Kyu?” tanya Sungmin cemas, tak lupa ia tangkupkan kedua telapak tangannya pada wajah Kyuhyun, dan air mata Sungmin kembali menetes ketika Kyuhyun memandangnya kosong dengan nafas yang menderu cepat.

“Kyu? Katakan! Apa yang kau lihat eoh?” lagi ia bertanya serius seraya ikut menatap pojok ruangan yang tampak seperti biasanya, hanya sebuah pot serta tanamannya yang ada disana.

Kyuhyun tampak memandang takut-takut pada pojok ruangan sebelum berkata, “kupikir aku hanya berhalusinasi.” Dia berujar dengan senyum terpaksa yang tersungging di bibir tebalnya.

“Sudah malam, ayo kita tidur!” lanjutnya kemudian mematikan TV yang tidak mereka tonton, setelahnya ia rangkul Sungmin menuju kamar tidur keduanya.

Kyuhyun kembali memandang pojok ruangan sebelum menutup pintu kamarnya, ‘aku pasti hanya terpengaruh oleh rasa takut Sungmin yang berlebihan!’ nilainya kemudian menutup pintu dan menguncinya rapat.

Sementara itu,

Tes… tes… tes…

“Aaaww!” rintih Kibum kemudian mengecup telunjuk kanannya yang terluka, telunjuk yang tadinya menyemburkan darah segar darisana ketika tangannya terkoyak oleh pisau dapur saat mengupas buah apel, ia tidak menyukai buah apel namun ia belajar menyukai buah tersebut karena Donghae yang menggilai buah yang identik dengan dongeng Putri Salju itu, setidaknya buah tersebut dapat mengingatkannya pada teman hidup yang telah terlebih dahulu hilang nyawanya, yang terlebih dahulu pergi ke alam baka.

Flashback

“Biar aku kupaskan terlebih dahulu, sayang!” ujar Kibum ketika Donghae yang ingin menggigit buah apel itu segera.

“Yang cepat Bummie!” rengeknya manja, yang dijawab Kibum dengan senyuman mautnya seraya tangan yang mulai mengupas kulit merah dari buah tersebut.

“Aaaww!” rintih Kibum menjatuhkan buah apel serta pisau yang ada di tangannya karena jarinya yang terkoyak.

“Hae?” panggilnya terharu ketika Donghae dengan cepat meraih jemari suaminya kemudian memasukkannya ke dalam mulut.

“Sebentar!” ungkap Donghae kemudian membuka laci nakas yang ada di samping tempat tidurnya, mencari obat P3K.

“Tahan sedikit eoh?” pintanya kemudian tersenyum lembut.

Chup

“Selesai!” ungkapnya ceria setelah membalut luka tersebut dengan plester luka, tak lupa ia kecup singkat plester tersebut, Kibum tertawa kecil.

“Kau lucu!” ungkap Kibum jujur seraya tersenyum geli, yang dijawab oleh kikikan Donghae yang kemudian menangkupkan kedua telapak tangannya pada pipi putih Kibum.

“Aku mencintaimu, sungguh!” ungkapnya dengan mata berkaca.

“Akupun begitu, sayang.” Balasnya yang kemudian,

“Kira-kira kapan aku bisa memberikanmu keturunan eoh?” Donghae bertanya dengan lesu, tiga bulan setelah pernikahan mereka, Donghae belum juga menunjukkan tanda-tanda kehamilan pada dirinya, rumah mewah mereka terasa sepi tanpa adanya tangisan bayi yang menggema di penjuru ruangan.

“Berhentilah menari,” sahut Kibum serius, Donghae tampak bimbang dengan keputusan yang akan ia ambil, ia ingin menuruti keinginan Kibum namun menari bagai nafas baginya.

“Aku, tidak tahu.” Sahut Donghae seraya menundukkan wajahnya, tidak ingin melihat wajah Kibum yang mengeras karena jawaban tersebut.

Flashback END

“Kenapa Hae? Kenapa kau mengecewakanku eoh?” ia berujar seraya mengepalkan tangannya sehingga darah kembali mengucur dari jarinya yang terluka tadi.

To Be Continue ?

 

Other Post :

About agustinazimah

Nazimah Agustina | 24 Aug 1995 | East Borneo | Indonesia | SMTown Lovers | KiHae Shipper | Donghae Biased | Artworker

Posted on 1 April 2013, in Lukisan and tagged , , , , , , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink. 8 Komentar.

Bagaimana menurut anda?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: