FF : Rose and Kamboja

Title : Rose and Kamboja

Author : Nazimah Agustina / Nazimah Elfish

Cast : Lee Sungmin, Kim Kibum, and Lee Donghae

Pair : KiHae (Kibum and Donghae) with Sungmin

Genre : Drama, Angst, Friendship, and Romance

Disclaimer : Kibum milik Donghae, Donghae milik Kibum, KiHae milik KiHae Shipper, KiHae dan Shippernya milik Tuhan Yang Maha Esa.

Rating : Kids

Warning! : YAOI! Don’t like? Don’t read!


Hari ini mentari seolah tersenyum, bersinar menyinari kota Seoul dengan cerahnya. Seorang pemuda manis membuka jendela kamar, menarik nafas yang menyegarkan untuk memenuhi kebutuhan oksigen pada paru-paru. Ia kemudian menangkupkan kedua tangannya, menunduk dalam, juga memejamkan kedua mata indahnya. Pemuda manis itu, Lee Sungmin namanya, sedang berdoa, mensyukuri segala nikmat Tuhan yang telah dilimpahkan padanya.

Setelah membersihkan diri dan bersiap-siap, Sungmin beranjak menuju ke sebuah tempat khusus, tempat yang berada di depan kediamannya, sebuah rumah kaca, tempat dimana ia membudidayakan tanaman.

Tiiing!

Bunyi lonceng terdengar, menggema ke dalam rumah kaca menandakan ada orang lain yang memasuki rumah tanaman tersebut.

“Anneyoung haseyo!” sapa orang itu pada Sungmin yang membalasnya ramah.

“Ada yang bisa saya bantu tuan?” tanya Sungmin tetap memperhatikan keramah tamahan, orang itu tersenyum kemudian memperhatikan sekelilingnya, indah, pujinya dalam hati. Tamu yang merupakan seorang pemuda tampan itu menghirup nafas, sejuk dan segar, kemudian tersenyum ramah pada Sungmin setelahnya berucap,

“Saya menginginkan 129 tangkai bunga mawar merah, tolong siapkan mawar terbaik.” Sungmin kemudian bergegas, melayani pemuda yang merupakan pelanggan pertamanya di hari ini.

Sungmin menyerahkan sebuket mawar merah yang diminta pelanggannya, pemuda tampan itu menerimanya dengan senyuman dan mata yang tertuju pada bunga yang kini telah berpindah tangan.

Ia sentuh beberapa kelopak bunga itu, bagus, kemudian dihirupnya bunga itu, wanginya segar, seperti yang ia minta. Pemuda itu tersenyum puas seraya memandang Sungmin, “terima kasih, berapa harganya?”

Sepeninggal pelanggan pertamanya, Sungmin kembali menyibukkan diri dengan tanaman-tanaman yang ia budidayakan. Terdapat banyak motif bunga seperti, Calla Cili dengan berbagai warna yang ia perhatikan perkembangannya kini.

“Calla jenis ini bintik-bintik pada daunnya hanya sedikit. Tanaman Calla jangan disiram berlebihan, batangnya bisa busuk.” Sungmin berucap ketika menyiram bunga Calla yang berwarna merah dengan hati-hati, ia sebenarnya hanya mengulang perkataan dosen saat ia dan teman-teman seangkatannya tengah mempelajari tata cara perawatan pada Calla dulu.

Keesokan harinya …

Sama seperti kemarin, Sungmin melakukan aktivitasnya seperti biasa, ia pergi ke rumah kaca untuk menyirami tanamannya.

Tiiing!

Bunyi lonceng mengalihkan Sungmin dari dunia tanamannya, ia menoleh pada pintu mendapati seorang pemuda yang kemarin menjadi pelanggan pertamanya. Sungmin menyunggingkan senyum terbaiknya menyambut sang pelanggan, meskipun yang diberi senyuman membalasnya dengan tersenyum pahit.

“Ada yang bisa saya bantu tuan?” Sungmin bertanya dengan sopan santunnya tanpa menghiraukan raut murung pelanggannya.

“Saya, memesan bunga kamboja.” Jawabnya kemudian menghela nafas, bahkan setetes air mata jatuh menelusiri pipinya. Sungmin terheran, ia bertanya-tanya dalam hati, ada apa gerangan?

Namun itu hanya ia pendam, nyatanya Sungmin tetap mempersiapkan permintaan pelanggannya itu. sembari melaksanakan tugasnya, Sungmin mengingat-ingat pertemuannya dengan sang pelanggan kemarin, dimana pemuda itu datang dengan segala kebahagiaannya, namun pagi ini ia datang lagi dengan segala kesedihannya yang Sungmin tak tahu apa.

“Tolong anda nanti kirimkan ke alamat ini.” Ucapan pemuda itu membuyarkan lamunan Sungmin, ia kemudian menatap meja yang kini terdapat secarik kertas yang berisi sebuah alamat .

“Baiklah,” jawabnya tersenyum namun tidak dibalas sebagaimana mestinya oleh sang pemuda.

“Tunggu!” panggil Sungmin menghentikan punggung yang telah menjauh, pemuda itu berbalik dengan raut wajah bertanya ada apa pada Sungmin.

“Jika tuan berkenan, bagaimana jika kita minum teh bersama?” tawar Sungmin, yang ditanya hanya terdiam beberapa saat sebelum menganggukkan kepalanya.

“Namaku Lee Sungmin, siapa namamu?” Sungmin membuka pembicaraan setelah menyesap teh yang ada di gelasnya.

“Kim Kibum.” Jawabnya singkat kemudian ikut menyesap teh yang tadi disuguhkan Sungmin padanya, Sungmin hanya mengangguk mengerti.

“Aku bingung, kau kenapa?” Sungmin kemudian kembali bertanya. Kibum tidak langsung menjawab, ia memperbaiki posisi duduknya diiringi tatapan penasaran Sungmin yang menunggunya untuk menjawab.

“Kemarin aku membeli 129 bunga mawar merah dengan kualitas terbaik padamu,” Kibum membuka cerita, Sungmin mengangguk.

“Itu untuk kekasihku, namun pagi tadi ia telah pergi, untuk itu aku membeli bunga kamboja untuknya.” Lanjut Kibum seraya mengaduk-aduk isi gelasnya menggunakan sendok. Sungmin menyernyitkan dahi, pemuda manis itu tidak dapat menyembunyikan kebingungannya saat ini.

“Kau bilang ia telah pergi tadi pagi? Bagaimana bisa kau memberikan bunga kamboja itu?”

“Aku sempat berpikir, kau membeli kamboja untuk dimanfaatkan, untuk bahan aroma spa misalnya.” Lanjutnya kemudian tertawa renyah, Kibum hanya memandangnya sekilas dan kembali menatap tehnya.

“Lagipula, kupikir kau kekasih yang baik, ia pasti akan menyesal, jika kau berusaha, aku yakin ia akan kembali padamu.” Hibur Sungmin tersenyum, Kibumpun tersenyum, namun menggeleng, memudarkan senyuman Sungmin.

Flash back

Di sebuah taman yang indah, tampak sejoli tengah menikmati suasana sore.

“Bummie, lihat itu!” Pekik salah seorang diantaranya, ia adalah pemuda manis yang tampak menunjuk-nunjuk sesuatu yang tidak jauh darinya. Salah seorang yang lain mengikuti arah jari telunjuk si pemuda manis, tampak dua ekor kupu-kupu yang berterbangan di sekitar sebuah bunga.

Pemuda manis itu, Donghae namanya kemudian menatap kedua telapak tangannya, setelahnya ia tampak menghitung menggunakan kesepuluh jarinya.

“Sekarang bulan Mei, nanti Juni, Juli, Agustus, September.”

“Tiga bulan lagi anniversary kita!” Ujarnya riang, Kibum tersenyum lalu mengiyakan. Kibum memperhatikan sekitar, sudah sangat sore rupanya.

“Ayo kita kembali,” bisik Kibum lembut tepat di telinga Donghae, Donghae merengut kemudian merengek,

“Aku tidak mau kembali kesana!”

“Kau harus kembali, kau harus sembuh, sayang.” Lagi Kibum berbisik, Donghae diam.

“Apa dengan begitu kita masih dapat merayakan anniversary bersama?” tanyanya mendongak menatap Kibum, kali ini Kibum yang terdiam.

“Tentu kalau kau mau tetap dirawat dan rajin minum obat,” jawab Kibum kemudian, Donghae mengangguk. Setelahnya Kibum tarik pegangan kursi roda Donghae, memutar arah menuju dalam rumah sakit tempat Dongahe dirawat.

Flash back END

 

“Apa kekasihmu sakit keras?” Kibum mengangguk.

“Penyakit jantung bawaan.” jawabnya.

“Dia sudah meninggal? Tadi pagi?” Kibum kembali mengangguk.

“Maafkan aku,”

“Tak apa!” potong Kibum tersenyum tipis.

Flash back

Tap tap tap

Terdengar derap langkah kaki menelusuri dinginnya lantai rumah sakit, Kibum dengan sebuket bunga mawar dalam dekapannya, tidak memperdulikan jika ia akan mengganggu pasien-pasien lain karena berlari di lorong rumah sakit, ia hanya ingin menemui kekasihnya sekarang.

Tap tap tap

Donghae menoleh, tersenyum ceria melihat Kibum yang datang, terlebih ia membawa mawar yang diinginkan Donghae.

“Wangi sekali!” ujarnya kala menghirup aroma mawar itu, ia kemudian memandang Kibum dengan mata indahnya yang berbinar.

“Berjanjilah, kau akan selamat!” ujar Kibum serius, balik memandang lekat Donghae, Donghae tersenyum.

“Jika Tuhan berkenan, Dia pasti akan mempersatukan kita.” Balas Donghae sebelum ranjangnya di dorong oleh perawat ke ruang operasi, setelah sebelumnya mawar itu dikembalikan pada Kibum oleh salah seorang perawat.

 Flash back END

“Itu adalah senyum terakhir yang ia berikan padaku,” Kibum menghela nafas, tersenyum pahit.

“Kupikir aku harus pergi, aku harus kembali ke rumah duka, terima kasih  tehnya.” Lanjutnya sembari berdiri dari duduknya yang diikuti Sungmin.

“Baiklah, sama-sama Kibum-sshi.” Balas Sungmin tersenyum masih dengan keramahannya, Kibum tersenyum tipis lalu membungkuk formal yang dibalas sama formalnya oleh Sungmin.

Setengah jam kemudian …

Sungmin yang kini berada di dalam mobil box yang bagasi belakangnya terbuka, mengantarkan pesanan bunga kamboja yang cukup banyak oleh Kibum menuju kediaman Lee. Ia tidak perlu ikut mengantarkan bunga-bunga itu sebenarnya, namun entah kenapa hati kecilnya mengatakan ia harus turut serta ke alamat yang dimaksud.

Lima menit kemudian mobil box yang ditempati Sungmin berhenti di depan sebuah rumah megah nan mewah yang di depan pagar dan di dekat pintu utama dipenuhi ucapan bela sungkawa dari berbagai pihak, dari para klien bisnis keluarganya, pikir Sungmin ketika membaca salah satu tulisan yang terdapat di karangan bunga.

Sungmin kemudian memasuki rumah, dapat ia lihat sebuah peti mati dimana terdapat photo seorang pemuda manis yang tersenyum bahagia di atasnya, Sungmin mengalihkan pandangannya ketika seorang pemuda yang berwajah serupa menghampirinya, ‘mungkin saudaranya,’ Sungmin berkata dalam benaknya.

Setelah menyelesaikan urusan pembayarannya dengan pemuda yang berwajah serupa dengan Donghae tadi, Sungmin sempat mengedarkan pandangannya untuk mencari sosok Kibum, namun pemuda itu tidak tampak batang hidungnya. Sungmin mengangkat kedua pundak pertanda tak peduli, ia melangkahkan kaki meninggalkan rumah mewah itu hingga teriakan memekakkan telinga terdengar dari dalam rumah. Sontak saja orang-orang berlarian memasuki rumah tidak terkecuali Sungmin.

“Ada apa ini?”

“Apa yang terjadi?” orang-orang mulai bertanya seraya memandang bingung seorang wanita paruh baya yang tadi berteriak.

“Tidak cukupkah hiks mentari kami yang pergi? Donghae hiks? Kenapa Kibumku juga diambil hiks!” teriaknya pilu yang kemudian dirangkul oleh seorang gadis yang sepertinya putri dari wanita paruh baya itu.

“Sudahlah eomma! Semua hiks telah terjadi! Kibum oppa dan hiks Donghae oppa telah pergi!” ujar gadis itu, wanita paruh baya itu kemudian tidak sadarkan diri karena begitu syok dengan kenyataan jika putranya mengalami kecelakaan ketika dalam perjalanan ke rumah duka.

Sungmin berbalik, menghela nafas, ia merasa iba juga miris pada Kibum juga Donghae, namun beberapa saat kemudian ia tersenyum kala mengingat cerita Kibum tentang yang Donghae katakan terakhir kali padanya, “Jika Tuhan berkenan, Dia pasti akan mempersatukan kita.”

Sungmin menapaki langkah dengan pasti, ia yang awalnya tidak percaya dengan cinta sejati seolah mendapat penolakan secara nyata, kini ia mempercayai jika cinta sejati itu ada.

“Terima kasih, ini adalah pelajaran berharga bagiku.” Sungmin bergumam menatap rumah mewah itu, setitik air mata jatuh dari pipi porselennya, namun, ia masih tersenyum kemudian memasuki mobil boxnya dan kembali melanjutkan hidupnya sebagai seorang pembudidaya tanaman.

~ THE FINAL ~

Bagaimana?

Artikel Terkait :
Baca Juga :
Kait kata : KiHae Couple, KiHae fanfic, Cerita Cinta KiHae, Kibum Donghae FF, Kibum top Hae bottom, Nazimah Elfish, pernikahan tanpa cinta, ff KiHae, Super Junior Indonesian Fanfiction, drabble ficlet romance, kihae ff terbaru, kihae boyslove genderswitch, boyxboy, hae as the girl, canon, general, yaoi, shoneun-ai,

About agustinazimah

Nazimah Agustina | 24 Aug 1995 | East Borneo | Indonesia | SMTown Lovers | KiHae Shipper | Donghae Biased | Artworker

Posted on 15 Mei 2013, in Drabble and Oneshoot, Fanfiction and tagged , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink. 9 Komentar.

  1. sedih eph??? jangan bikin kau nangis, sungmin, kihae, hik hiks

    Suka

Bagaimana menurut anda?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: