Trapped by Love Chapter 4

trapped by love cover fanfic kihae kibum donghae Mereka selalu bersama, mereka belajar di tempat yang sama, mereka tinggal di daerah yang sama, dan ini kisah mereka hingga keduanya menemukan kebahagiaan yang telah ditakdirkan

Title : Trapped by Love

Author : Nazimah Agustina

Rating : Teen – Mature

Cast : Lee Donghae, Kim Kibum, Kim Young Woon, Park Jung Soo, Choi Siwon and Lee Hyukjae

Pair : KiHae and others

Genre : Drama, Romance, Hurt, Family

Disclaimer : Tuhan Yang Maha Esa

Summary : Mereka selalu bersama, mereka belajar di tempat yang sama, mereka tinggal di daerah yang sama, dan ini kisah mereka hingga keduanya menemukan kebahagiaan yang telah ditakdirkan.

Warning : Gender Switch! Cerita pasaran! Don’t like, don’t read!

.

.

Sebelumnya …

Lain Kibum lain juga Donghae, gadis itu menatap langit kosong. Sepertinya langit di malam ini sekelam hatinya, tak ada kerlap-kerlip bintang, semua itu seolah sirna setelah kenyataan perihal orang tuanya terungkap. Donghae mungkin terlihat lebih tenang dari Kibum menyikapi hal ini, namun sesungguhnya iapun tidak kalah risau, membayangkan Kibum akan menjadi adik tirinya? Tidak pernah ia bayangkan di dalam mimpi buruk sekalipun.

Donghae melirik, sang ayah yang kini berdiri tepat di sampingnya, tak ada pembicaraan, hanya desiran angin malam yang menusuk tulang. Kangin kemudian tergerak melepas syal merah dari lehernya, syal merah pemberian putrinya saat ia berulang tahun.

“Appa tidak mau kau sakit,” ujarnya lembut seraya melingkarkan syal itu pada leher putri semata wayangnya, Donghae tersenyum dalam kepala yang tertunduk.

“Maafkan appa,” lanjutnya, Donghae terdiam, sesungguhnya Donghae tak ingin mengungkit hal ini lagi, hanya akan menambah beban pikiran, menurutnya.

“Appa tidak menyangka reaksi kalian akan seperti ini.” Kangin kembali berujar pada putrinya yang kini menatapnya menyesal.

“Terlalu berlebihan, aku tahu itu.” balas Donghae kembali menunduk, segan menatap ayahnya yang kini menatapnya.

“Maafkan aku,” lanjut Donghae masih menunduk dalam, Kangin mengangkat wajah itu dimana ia lihat mata indah itu telah berkaca, menahan tangis.

“Menangislah sayang!” reflexnya memeluk Donghae yang seketika pecah tangisannya.

| Chapter 4 |

 

Sarapan kali ini tidak sehangat sebelumnya, masih dengan ketenangan, namun ketenangan yang menyesakkan hati. Tak ada lirikan juga permainan kaki di bawah meja yang dilakukan Kibum dan Donghae, keduanya seolah tidak menganggap ada satu sama lain.

Leeteuk dan Kangin tidak kalah kaku, tak ada lirikan apalagi tolehan. Hanya Siwon, hanya Siwon yang menikmati sarapannya tanpa beban, pemuda itu kemudian mengamati orang-orang di sekitarnya, ‘serius sekali,’ batinnya.

“Ada yang mau menambah ikan?” Siwon memecah keheningan juga kebekuan yang terjadi.

“Aku mau!” Donghae menyahut, membalas senyum Siwon, membuahkan lirikan tajam Kibum.

Donghae menyambut piring yang diberikan Siwon, terima kasih ia ucapkan serta dengan keramahan, berbeda dari sikap-sikap yang sebelumnya yang ia tunjukkan pada pemuda bermarga Choi itu.

Kangin dan Leeteuk memperhatikan keduanya bergantian, sedang Kibum hanya melirik.

Mereka berlima pulang ke Seoul lebih awal, setelah sarapan mereka sudah bersiap untuk kembali. Tak ada yang menarik selama perjalanan pulang, hanya ada Kangin yang focus menyetir, Leeteuk yang merajut syal, Siwon yang mendengarkan music melalui earphone, Kibum yang membaca buku, dan Donghae yang melamun memperhatikan jalan.

“Hhhm,” Donghae menghela, tubuhnya terasa pegal, mungkin karena terlalu lama duduk, pikirnya. Gadis itu menegang kala sebelah tangan tersampir di pinggulnya, dilihatnya, lengan Kibum.

Donghae menoleh pada Kibum yang masih membaca bukunya, namun, pelukan pada pinggul Donghae semakin erat, meremas sisi pahanya pelan.

“Ehhm,” Donghae mendesah pelan, membuahkan senyuman Kibum walau tipis. Jemari Donghaepun bergerak meraih jaket yang dipangkunya, menggunakannya untuk menyembunyikan lengan Kibum di pinggulnya.

Setelah beberapa jam yang terasa bagai beberapa tahun di dalam mobil, merekapun sampai, di halaman rumah Donghae terparkir mobil Kangin yang kini bagasinya tengah dikosongkan dari barang-barang selama berlibur.

“Terima kasih,” Leeteuk dan Kibum membungkuk hormat pada kangin, Donghae, juga Siwon, yang dibalas sama oleh ketiganya. Donghae memasuki kamarnya, matanya langsung membidik jendela, yang menampakkan kamar Kibum.

Trek!

Donghae buka jendela kamarnya kemudian mendudukinya, ia ingin memanggil Kibum namun urung, biarkan pemuda itu sendiri yang menghampirinya.

“Hae?” Donghae menoleh lalu tersenyum pada Kibum yang memanggilnya, keduanya dalam posisi sama yakni terduduk pada jendela kamar masing-masing.

“Itu bukan senyummu,” Kibum melanjutkan, senyum terpaksa Donghae memudar.

Hening, hanya ada helaan nafas.

“Kau, beristirahatlah.” Kibum memecah keheningan itu, menutup percakapan keduanya bukan hanya dengan perkataan itu tadi, tapi juga menutup jendela kamarnya bahkan, menutup tirainya, meninggalkan kesunyian yang Donghae rasakan.

Setetes air mata jatuh dari pelupuk mata Donghae beberapa saat kemudian, galau ia rasakan. Semua seolah tercampur aduk, Donghae menginginkan Kangin agar jatuh cinta lagi, selain itu ia merasa Leeteuk pantas jika menjadi ibunya, namun, bagaimana dengan perasaan Donghae? Ia mencintai Kibum, anak dari Leeteuk.

Keesokan harinya …

Kibum menunggu di depan pintu rumah Donghae seperti biasa, namun Donghae tidak kunjung keluar, memaksa Kibum untuk mengetuk pintu rumah itu.

“Donghae ada?” tak ada sapaan ataupun basa-basi lain Kibum lontarkan pada kangin yang membuka pintu, pemuda bermarga Kim itu to the point mengatakan maksud dan tujuan kedatangannya.

“Donghae sudah berangkat pagi-pagi sekali,”

“Baiklah, aku mengerti.” Kibum membalas datar, melesat pergi, berjalan menuju sekolahnya.

Flash back

“Tsk! Guru piket yang menyebalkan!” Donghae mendumel seraya menyapu dedaunan kering di taman sekolah, sedang Kibum berada di depannya memegang serok sampah, keduanya tengah dihukum karena terlambat memasuki gerbang sekolah.

“Hati-hati,” Kibum menasehati kala Donghae yang sedang kesal malah mengarahkan dedaunan itu pada kaki Kibum, yang ditanggapi Donghae dengan cengiran juga pernyataan maafnya.

Selama ini Donghae tidak pernah berangkat sekolah tanpa Kibum disampingnya, juga Kibum tidak pernah meninggalkan Donghae apapun yang terjadi, meski nyatanya mereka akan terlambat sampai ke sekolah yang berujung di hukum bersama.

Flash back END

Tak terasa Kibum telah memasuki area sekolahnya, ia bergegas memasuki kawasan kelas,

“Donghae noona ada?” tanyanya pada salah seorang siswi di depan kelas Donghae.

“Aku tidak ada melihatnya datang,” jawab siswi itu, setelah mengucapkan terima kasih Kibum beranjak, dan berpikir, kemana kiranya Donghae berada.

‘Perpustakaan?’ Kibum menggeleng, perpustakaan belum buka jam segini, pikirnya.

Krieet,

Kibum buka pintu dengan ruangan yang pernuh cermin di dalamnya, ia memasuki kelas tari.

Tak ada siapapun …

Kibum menghela nafas, ia merasakan bingung sekarang, dimana Donghae?

‘Atap sekolah!’ dan Kibum segera melajukan langkahnya, berlari menuju atap sekolah yang cukup jauh jaraknya dari kelas latihan tari.

 

Sementara itu,

Donghae menggigit sapu tangan, menghindari agar bersuara yang akhirnya akan membuat Kibum tahu keberadaan dirinya. Pintu kelas tari ditutup, berganti dengan suara tapakan kaki cepat, Donghae tidak ingin tahu Kibum pergi kemana lagi setelah ruang tari ini, yang penting baginya sekarang adalah menghindari Kibum, hanya itu yang dipikirkan Donghae.

Beberapa hari berlalu, usaha Donghae menghindari Kibum berhasil. Gadis itu sama sekali tidak membuka jendela kamarnya meski Kibum memanggil bahkan mengetuknya. Donghae juga tidak pernah menunggu Kibum untuk berangkat dan pulang sekolah bersama lagi meski ia merasa sepi, ada sesuatu yang kosong ia rasakan, hatinya, hatinya terasa kosong ketika Kibum tidak ada di sisinya. Donghae rela, rela tidak masuk sekolah dengan alasan sakit hanya untuk menghindari Kibum yang dengan setia menunggunya di depan rumah untuk pergi ke sekolah bersama, memaksa Kibum untuk berangkat sekolah lebih dahulu, meski sudah jelas jika Kibum akan terlambat ketika sampai ke tempat tujuan karena lamanya ia menunggu Donghae yang tidak mau menemuinya.

“Aku ingin menjenguk Donghae, ahjumma.” Suatu ketika Kibum bertamu karena Donghae yang beralasan sakit.

“Maaf Kibum-ah! Nona Donghae tidak ingin diganggu.”

“Kumohon, sebentar saja!”

“Maaf ,tidak bisa!”

BLAAM!

Dan pintu itu tertutup tepat di depan wajah kecewa Kibum yang hanya bisa pasrah menerima kenyataan jika ia tidak bisa menemui Donghae.

 

Pada suatu hari …

Donghae memasuki kelas tari dengan lesu, dimana kemudian ia berhadapan dengan seorang pemuda yang juga berada di dalam ruangan yang sama, pemuda yang tampak hendak bergegas keluar dari kelas tari.

“Hae?” pemuda itu memanggil, tersenyum dengan senyum khasnya, senyum dengan gusi merah yang terlihat, sedang Donghae tidak menjawab apapun.

“Hei, kau kenapa?” pemuda itu bertanya, Donghae menatapnya sejenak dengan mata berkaca.

“Maukah kau membantuku, Hyukkie?” Donghae bertanya seraya tersenyum, bertanya dengan nada memelas, menatap Eunhyuk dalam.

Namun, senyum Donghae memudar kala Eunhyuk bangkit, memperbaiki posisi ransel di punggungnya, menepuk sebelah pundaknya, meninggalkannya.

Ba, da, ba, da, ba, da, da

Ba, da, ba, da, ba, da, da

You won’t admit you love me

And so how am I ever to know?

You always tell me

Perhaps, perhaps, perhaps

Donghae menoleh kala dentuman musik ia dengar, ternyata Eunhyuk tidak pergi dari ruangan tari itu, ia menyetel music player, mengalunkan sebuah lagu berjudul “Perhaps, Perhaps, Perhaps.”

Eunhyuk melepas ransel, topi, juga jaket yang dikenakannya ke sembarang arah. Perlahan mendekati Donghae dengan gerakan tarian memukau, mengulurkan tangan kanannya pada Donghae seraya tersenyum manis.

A million times I‘ve asked you,

And then I ask your over again

You only answer

Perhaps, perhaps, perhaps

Donghae membalas senyum tersebut tidak lupa menyambut uluran tangan Eunhyuk yang mengajaknya menari bersama, couple dance, mereka memang dikenal sebagai pasangan couple dance di sekolah, EunHae.

If you can’t make your mind up

We’ll never get started

And I don’t wanna wind up

Being started, broken-hearted

Eunhyuk berusaha sekuat mungkin mengikuti gerakan Donghae yang berkali lebih agresif dari biasanya, gadis itu sedang merasa tertekan, ingat? Wajar jika gerakannya begitu emosional juga lebih professional.

So if you really love me

Say yes, but if you don’t dear,

Confess

And please don’t tell me

Perhaps perhaps perhaps

Tarian tango yang seksipun tercipta dari kedua insan berbeda kelamin tersebut. Baik Eunhyuk juga Donghae tidak merasa canggung sama sekali kala tangan mereka menyentuh tubuh satu sama lain. Eunhyuk pada pinggul Donghae, sedang Donghae pada leher Eunhyuk dengan tangan yang mengalung.

If you can’t make your mind up

We’ll never get started

And I don’t wanna wind up

Being started, broken-hearted

So if you really love me

Say yes, but if you don’t dear,

Confess

And please don’t tell me

Perhaps perhaps perhaps

“Hakh! Hakh! Hakh!” Eunhyuk dan Donghae menghembuskan nafas cepat ketika musik telah berakhir yang juga menjadi penutup tarian seksi mereka, dengan tangan Donghae yang memeluk leher Eunhyuk, dan tangan Eunhyuk yang menyentuh pinggul Donghae.

“Terima hakh! Kasih hakh! Hakh!” Donghae berucap dengan nafas yang masih memacu cepat.

“Itulah hakh! Gunanya teman hakh!” Eunhyuk menyahut tidak kalah cepat dengan nafas yang berburu.

“Ekhm!” keduanya menoleh seketika,”Kibum?” Donghae menggumam setelah memisahkan diri dengan Eunhyuk yang menatap Kibum dan Donghae bergantian.

“Tinggalkan kami berdua!” Kibum berujar, Eunhyuk yang merasa dirinyalah yang dimaksud menghela nafas, beranjak dari sisi Donghae yang memaku dengan kepala yang tertunduk.

“Selesaikan masalah kalian!” Eunhyuk memberi nasehat pada Kibum dengan tepukan di sebelah pundaknya ketika melewati pemuda Kim itu, sedang Kibum hanya berdecih dengan tatapan yang tidak lepas dari Donghae.

Eunhyuk telah pergi kala pintu ia tutup, meninggalkan mereka berdua yang tersisa, Kibum dan Donghae.

Bruk!

“Akh!” Donghae merintih pelan kala Kibum mendorongnya pada dinding yang merupakan cermin, mengunci tubuh Donghae dengan tubuh Kibum dan cermin.

“Kenapa menyiksaku hhmm?” Kibum bertanya pelan namun mampu menekan pikiran dan hati Donghae yang semakin bingung juga risau.

“Maksudmu?” pertanyaan bodoh keluar dari bibir Donghae pelan.

“Menghindariku, kau menghindariku karena orang tua kita? Iyakan?” Donghae menggeleng membuat Kibum tersenyum dengan sudut bibir sebelah kiri yang lebih tinggi, pemuda itu tengah menyerigai.

Sementara itu …

PRANG!

Kangin terkejut ketika gelas yang dipegangnya tiba-tiba jatuh lalu pecah, lelaki dewasa itu berjongkok, ingin mengambil pecahan kaca tersebut namun urung, perasaannya, perasaanya mengatakan akan ada sesuatu hal buruk yang akan terjadi, menimpa keluarga kecilnya.

“Donghae,” gumamnya, melihat pada jam di tangannya, jam sekolah Donghae telah berakhir dua puluh menit yang lalu. Ia mencoba menelphone ponsel Donghae, berkali-kali ia telephone putri semata wayangnya namun, tak ada satupun yang diangkat.

Kangin semakin bingung juga khawatir namun berusaha tetap tenang, ia kemudian menekan  nomor telephone rumahnya.

“Donghae sudah pulang?” tanyanya pada pembantu rumahnya, namun ia harus menelan kecewa kala Donghae belum juga pulang.

“Mungkin sedang di perjalanan pulang dan ponselnya dalam posisi silent,” Kangin menghibur dirinya sendiri dan mulai kembali fokus pada pekerjaannya.

 

Sementara itu,

Donghae merasa begitu malu kala menolehkan kepalanya ke samping yang semuanya cermin. Ia merasa malu teramat sangat menyaksikan dengan mata kepala sendiri kala tubuhnya yang terkulai pasrah dibawah tubuh Kibum yang tengah menggaulinya, kegiatan terlarang bagi mereka yang belum menikah, keduanya bahkan bercinta di sekolah, tempat mereka menimba ilmu bersama-sama.

Akhirnya, Donghae raih kepala Kibum, mengadukan bibir mereka dengan kasar juga penuh gairah, menyalurkan rasa haus mereka, rasa rindu yang menghinggapi mereka selama beberapa hari ini. Jemarinya Donghae gunakan untuk menelusuri suari hitam Kibum, untuk memperdalam ciuman Perancis keduanya agar semakin panas juga penuh nafsu yang menggelora.

“Ehhhmm,” keduanya mendesah tertahan di sela ciumannya kala Donghae mencapai puncak tertingginya entah yang ke berapa kali, padahal Kibum belum mengeluarkan cairannya sama sekali.

“Hakh! Hakh! Hakh!” Kibum bangkit walau masih berada di atas Donghae dengan tautan tubuh bagian bawah yang belum terlepas, memandangi kekasihnya yang wajahnya telah merah padam oleh nafsu yang merasuki, juga dengan peluh keduanya yang menyatu, membuat tubuh polos keduanya licin.

“Sudah eoh?” Donghae memohon dengan mata yang setengah terpejam,

“seben…tar lagi,” Kibum menyahut, sedang Donghae menutup kedua matanya seraya terus merasakan hentakan-hentakan yang Kibum berikan pada bagian tubuh terintimnya.

Beberapa jam kemudian …

“Akh!” Donghae merintih karena ngilu yang dirasakannya pada tubuh bagian bawah ketika tengah berjalan, menelusuri jalanan yang biasa mereka lewati pulang pergi.

Mereka? Iya, Kibum dan Donghae pulang bersama hari ini dimana Kibum menuntun Donghae, mengalungkan lengan Donghae pada lehernya serta memeluk gadis itu dari samping.

“Besok jangan meninggalkanku lagi!” Kibum berucap, menolehkan kepalanya seraya tersenyum manis.

“Iya!” Donghae menjawab seraya menatap Kibum malas, sedangkan masih tetap Kibum tersenyum.

“Aku bisa sendiri!” Donghae berujar pada Kibum yang hendak menuntunnya hingga memasuki rumah, namun baru selangkah berjalan tanpa Kibum yang memegangnya, Donghae kembali merintih sakit, membuat Kibum tergerak kembali menjadi penopang untuk Donghae.

“Darimana saja kalian?” Keduanya menoleh pada Kangin yang menatap curiga, terlebih pada Donghae yang tidak dalam keadaan baik.

“Kau kenapa sayang?” lanjutnya lebih lembut pada Donghae yang memeluk lengan Kibum lebih erat, gadis itu takut, takut pada ayahnya jika mengetahui apa yang sebenarnya yang mereka telah lakukan. Kibum merasakannya, merasakan ketakutan Donghae, tentu, namun pemuda itu dengan beraninya menatap Kangin dengan pandangan yang menantang juga remeh, membuat jengkel Kangin saja.

“Ada apa sayang? Apa yang sebenarnya terjadi hingga kau tampak kesulitan berjalan?” Kangin kembali bertanya dengan penuh kekhawatiran, takut-takut Donghae menatap kibum yang tampak santai-santai saja, pemuda itu malah tersenyum dengan manisnya pada Donghae, seolah tak ada sesuatu apapun yang terjadi diantara mereka, membuat Lee Donghae kesal pada seorang Kim Kibum yang merupakan kekasihnya.

Tidak mungkinkan jika Donghae menjawab ‘kami baru saja bercinta tadi di sekolah’ pada Kangin, sama saja dengan bunuh diri!

“Kami baru saja,”

“Aku cidera saat menari!” Donghae menjawab cepat, memotong jawaban Kibum yang menurutnya belum tentu dapat dipercaya untuk menyelamatkan keduanya.

“Kau pulanglah!” ketus Donghae yang dijawab senyum usil Kibum yang kemudian,

CHUP!

Menciumnya tepat di bibir, membuahkan lototan dari pemilik bibir juga Kangin yang masih berdiri disana, diantara keduanya.

To Be Continue!!!!

#jambak rambut

Aku menghabiskan waktu lima jam untuk memeras otak (jangan lupakan waktu untuk mencari lagu untuk pengiring tarian EunHae) seraya mengetik chap 4 dengan hasil yang seperti ini? Tsk! Memalukan!

Tapi, bagaimana?

Ada masukan?

 Suju Donghae Selca Genderswitch by Nazimah Elfish

Related Post :

About agustinazimah

Nazimah Agustina | 24 Aug 1995 | East Borneo | Indonesia | SMTown Lovers | KiHae Shipper | Donghae Biased | Artworker

Posted on 24 Mei 2013, in Trapped by Love and tagged , , , , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink. 7 Komentar.

  1. Nelly Key Donghae

    Ncn dsekolah,,,, waaahhh kibum sereem nih,, baru ditinggalin beberpa hari udh maen terkam anak orang aja,,,, ckckck

    Suka

Bagaimana menurut anda?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: