Fanfiction : Mr. Taxi!

kihae cover for fanfictions and header blog nazimah elfish

Title : Mr. Taxi!

Author : Nazimah Agustina

Cast : Lee Donghae and Kim Kibum

Pair : KiHae

Genre : Drama, Friendship, and little humor

Rating : Kids

Warning : KiHae Couple! Slight YAOI!


“Taksi!” seorang pemuda manis memanggil sebuah taksi yang hendak melewati tempat ia berdiri, setelah taksi itu berhenti, dia langsung saja memasuki taksi itu.

“Mau kemana tuan?” si supir taksi bertanya dengan ramah pada seorang yang baru saja memberhentikannya, si pemuda manis terlihat kebingungan dimana ia lalu merogoh-rogoh ke dalam saku celananya lalu ke dalam tas ranselnya, mencari sesuatu.

“Bisa kau antarkan aku ke alamat ini?” si pemuda manis berujar, mencondongkan tubuhnya pada si supir taksi seraya memperlihatkan secarik kertas yang berisikan sebuah alamat, si supir taksi menganggukkan kepalanya.

Selama perjalanan, penumpang yang merupakan si pemuda manis itu terus saja menyunggingkan senyum di bibirnya yang memang berwarna merah muda alami seraya menatap ponselnya, entah apa yang di tengah dilakukan pemuda manis yang bisa kita sebut Donghae pada ponselnya, supir taksi yang sesekali memperhatikannya itupun bertanya, “sepertinya kau senang sekali, tuan?” Donghae mengangkat wajahnya, masih dengan senyum yang tersemat di bibir tipisnya ia menjawab, “aku sedang memikirkan kekasihku.”

Si supir taksi mengangguk-anggukkan kepalanya bertanda mengerti, lagi-lagi ia bertanya, “apa alamat yang ingin kau tuju adalah alamat kekasihmu itu?”

“Benar pak!” Donghae menjawab, kemudian ia kembali tersenyum sembari memperhatikan sejenak si supir taksi yang menurutnya masih begitu muda, “aku sangat mengagumi supir taksi seperti anda!” aku Donghae yang membuahkan tatapan heran dari si supir taksi yang melihat Donghae dari kaca spion.

“Kenapa?” si supir taksi lantas bertanya dengan menoleh sekilas pada si pemuda manis yang duduk di kursi penumpang.

“Karena supir taksi itu rela mengantarkan kita kemanapun kita pergi walaupun mereka lelah!” Donghae menjawab dengan riang juga senyum yang tersungging polos pada bibirnya, jangan lupakan binar indah mata yang senantiasa terlihat berkaca tersebut, sepasang mata cantik yang seolah dapat berbicara, kita seperti dapat mengetahui emosi hanya dari menatap matanya yang seolah hidup, mengagumkan? Memang.

Si supir taksi lantas tersenyum, bahkan tertawa kecil atas jawaban polos yang di dengarnya, “senyummu menawan sekali tuan! Aku begitu iri!” si pemuda manis kembali melontarkan pendapatnya, si supir taksi mengubah tawanya menjadi senyum yang menurut kebanyakan orang merupakan ‘senyum pembunuh’.

“Benarkah?” si supir taksi bertanya memastikan, yang dijawab Donghae dengan anggukan cepat yang kembali membuat si supir taksi tertawa terhibur akan tingkah penumpang lucu tersebut, menurut dia.

“Siapa namamu?”

“Kau seperti wanita saja!”

“Apa banyak wanita yang bertanya nama padamu?” Si supir taksi mengangguk seraya bergumam menjawab pertanyaan Donghae yang kembali mencondongkan tubuhnya untuk melihat lebih jelas jalanan di depannya.

“Berapa lama lagi kita akan sampai?”

“Kim Kibum,”

“Apa?”

“Bukankah tadi kau bertanya siapa namaku? Namaku Kim Kibum, siapa namamu?” Kibum menjawab dengan kepala yang sekilas menoleh pada Donghae yang masih tubuhnya condong ke depan.

Donghae tersenyum kemudian menjawab, “Lee Donghae.”

“Jadi, berapa lama lagi?” Donghae kembali bertanya setelah kembali pada posisi duduknya semula, Kibum melihat-lihat sekitar dengan tangan yang masih setia memegang kemudi mobil, selanjutnya menjawab, “lima menit lagi.”

“Tidak heran jika banyak wanita yang bertanya namamu!” Donghae kembali mengajak berbicara Kibum yang baru dikenalnya, salahkan lidahnya yang suka gatal jika tidak berceloteh ria.

“Mereka juga banyak yang bertanya nomor telephone dan alamat rumahku, tidak jarang ada yang bertanya situs jejaring sosial milikku!” Kibum menjawab dengan senyum yang masih setia tersemat pada bibirnya, juga terselip nada kebanggan saat mengucapkannya.

“Benarkah? Kalau begitu kau harus memfollow twitterku, @donghae861015.” Donghae menjawabnya seraya tertawa kecil, Kibum kali ini tidak menanggapi karena ia yang membelok kendaraannya, ia hanya menatap sekali lagi Donghae meski sekilas, tak lupa dengan senyum menawan yang senantiasa terlukis di wajahnya sedari tadi.

“Sudah sampai!” Kibum memberitahu sesaat setalah taksi yang dikemudikannya berhenti di depan pagar sebuah rumah yang mewah dan megah, dia lalu menengok ke belakang, dimana Donghae yang terdiam sejenak sebelum melihat Kibum dengan senyum manis yang terpatri di wajahnya yang juga manis.

“Terima kasih Kibum, ini uangnya!” Donghae menyodorkan beberapa lembar uang won yang diterima Kibum dengan senang hati. Dengan hati yang terbalut akan kegembiraan, Donghae keluar dari mobil taksi tersebut. Namun, senyum indah yang sedari tadi menghiasi wajahnya mendadak pudar, terganti dengan pandangan terluka saat dirinya menempelkan tubuhnya pada pagar tinggi yang menjulang, pagar yang memisahkannya dari seorang yang dicintainya, yang bisa dilihatnya tengah bertukar cincin dengan orang lain.

Tangisan kecil terdengar dari bibir tipis Donghae meski pemuda manis itu tengah menggigit bibir bawahnya pelan, inikah balasan kesetiaannya selama ini? Balasan usaha memperjuangkan cintanya?

Kibum yang hendak pergi dari tempat itu mengurungkan niatnya karena dilihatnya Donghae yang hanya berdiri mematung dengan kedua tangan yang mencengkram pagar yang terpasang dengan gagahnya tersebut, Kibum amati Donghae dari dalam kendaraan roda empat miliknya, dan pemuda tampan itu terkejut kala dilihatnya bahu Donghae bergetar dengan kepala yang tertunduk.

Donghaepun berbalik dengan gontai, ketika ia mengangkat wajah, ia melihat Kibum yang telah berdiri tidak jauh darinya seraya tersenyum menenangkan, “kenapa tidak jadi masuk?” Kibum bertanya dengan lembutnya, Donghae hanya tersenyum pedih yang lalu diajak Kibum duduk di bagian depan mobil taksi tersebut ((itu yang di depannya mobil yang dalamnya mesin, aku gak tahu namanya apa)).

“Jauh-jauh aku datang dari Mokpo untuk menemuinya, meninggalkan keluargaku, meninggalkan pernikahanku yang diselenggarakan besok pagi, dan dia malah bertunangan dengan orang lain?” Donghae bercerita dengan isakan yang tidak kunjung berhenti, Kibum menyernyit seraya berpikir, ‘penumpang taksiku ini polos apa bodoh sih? Mau-mau saja berjuang sedemikian rupa demi wanita yang tidak jelas.’

Kibum lalu bangkit, berjalan menuju pagar rumah tersebut, mengamati keadaan di dalam rumah yang tengah mengadakan pesta, tampak sepasang muda-mudi yang tengah bersulang yang berada di pertengahan ruangan, yang menjadi pusat perhatian seluruh undangan yang datang.

Kibum menghela, “kau menghancurkan kehidupanmu sendiri demi wanita yang seperti itu?” Kibum bertanya pada Donghae dengan pandangan yang masih tertuju pada ruang pesta, Donghae menoleh pada Kibum dengan bibir yang mengerucut, menggeleng kemudian berkata, “kekasihku bukan wanita! Yang laki-laki itu kekasihku!”

Kibum lantas berbalik menatap Donghae tidak percaya dengan mulut yang menganga, jika rahangnya bisa jatuh mungkin itulah yang terjadi pada seorang Kim Kibum kini.

“Kau, kau tidak normal?” Kibum layangkan tanya pada Donghae dengan intonasi yang pelan namun penuh penekanan, masih dengan raut ketidakpercayaan yang belum ia hilangkan di wajah dinginnya, namun sesungguhnya Kim Kibum mempunyai pribadi yang cukup hangat.

Donghae mengangguk, “hubunganku dengannya ditentang oleh keluargaku, makanya aku hendak dinikahkan dengan wanita pilihan mereka, tapi aku tidak mau, untuk itu aku datang ke Seoul agar dapat bersama kekasihku lagi, tapi” Donghae tidak dapat melanjutkan ucapannya karena besarnya kadar kesedihan yang mendera hatinya kini, ia kembali menangis, mencurahkan kekesalan dan kesedihan melalui aliran air mata yang tercipta di kedua pipi putihnya.

“Kibum?”

“Hhhmm?”

“Maukah kau membantuku?” Kibum mengangkat sebelah alisnya mendengar permintaan Donghae, ia mengalihkan wajah setelahnya meringis karena Donghae yang menunjukkan wajah yang dapat membuat banyak orang iba melihatnya, selain karena Kibum yang merasa tidak enak pada pemuda manis di dekatnya yang ternyata penyuka sesama jenis.

“Memangnya apa yang kau inginkan?” Kibum balik bertanya dengan ogah-ogahan, jujur saja jika ia memiliki firasat yang tidak enak akan permintaan lelaki tidak normal di depannya.

“Bolehkan kalau aku menginap di tempatmu?” Donghae bertanya dengan wajah yang dibuat sekasihan mungkin, bibir yang masih mengerucut juga mata bengkak setelah menangis.

“APA??!!#%”

“Ayolah! Malam sudah semakin larut, bulan saja seperti cemberut, aku tidak mengenal siapapun disini selain kau dan dia yang ada di dalam rumah mewah itu, aku tidak mungkin menemui dia sekarangkan?” Donghae memberi alasan, dia memang tidak tahu harus meminta pertolongan pada siapa, satu-satunya harapan dia adalah kekasihnya, tapi sekarang? Donghae bisa apa tanpa sang kekasih yang bahkan tidak mengetahui kedatangan dirinya ke Seoul, kecuali Kibum, si supir taksi yang dikenalnya kurang dari satu jam yang lalu.

Kibum memperhatikan sekitar, benar juga yang dikatakan Donghae jika malam sudah semakin larut, ia tatap bulan yang jauh berada di atas kepalanya yang tampak merengut, dingin malam menusuk tulangpun telah menyelimuti keduanya, jangan lupakan suara serangga yang bersahut-sahutan bak iringan tembang yang saling bersambutan, indah namun tidak baik untuk kesehatan karena angin malam yang sama sekali tidak baik untuk kesehatan, baik pada Kibum dan Donghae, angin malam tetap tak baik pada siapapun itu.

Kibum menghela nafas lelah, dia memang lelah setelah seharian juga di malam yang telah larut ia terus saja bekerja, rasa kantukpun menghinggapinya sehingga ia yang mengajak Donghae untuk pulang bersamanya, membuahkan sorakan riang Donghae, kedua manik indah pemuda bermarga Lee itu seolah kembali hidup ketika Kibum yang bersedia menolongnya, setidaknya dia bisa tidur malam ini di tempat yang aman, pikir Donghae.

“Tidurlah!” Kibum berujar, pada Donghae yang duduk disampingnya, Donghae yang berusaha menahan kelopak yang hendak berpaut, ia menahan kantuknya karena merasa tidak enak hati pada Kibum, Donghae hanya menumpang, ingat?

“Kau pasti lelah!” Kibum melanjutkan, tersenyum kecil tanpa melihat Donghae, ia merasa lucu dengan tingkah Donghae yang mengucek kedua matanya seperti anak kecil, padahal tidak demikian, Donghae telah dewasa, dari segi usia memang iya, tapi dari sisi kepribadian? Kibum tidak tahu, setidaknya Kibum agak meragukan kedewasaan kepribadian Donghae, ia simpulkan dari sikap gegabah Donghae yang rela membuat hidupnya sendiri berantakan dengan mempercayai begitu saja kekasihnya yang ternyata berkhianat.

“Tidak juga!” Donghae menyergah, menegakkan duduknya, meregangkan otot-ototnya, lalu tersenyum lebar pada Kibum yang juga ikut tersenyum akan tingkah sang penumpang taksi yang sebentar lagi akan menjadi penumpang di dalam rumahnya.

Donghae lalu diam, melihat jalan yang dilewati mobil taksi milik Kibum dalam pandangan yang kosong, pemuda manis itu tengah melamun. Bisa ditebak apa yang dia lamunkan? Tentu saja sang kekasih yang mengkhianatinya, dimana rasa gelisah menyudutkan Donghae, bukan hanya itu, tapi juga kekesalan dan penyesalan yang telah terlambat untuk dicegah, ia hanya bisa menghadapi semua dengan sebaik mungkin. Rasa gelisah, kesal, sesal, dan kecewa bersatu padu, menerjang tepat pada hati Donghae yang harapannya seolah terhempas bak ombak yang menyapu pantai, dia, Lee Donghae, melamunkan kekasih yang tidak lagi berwujud nyata, hanya bayang semu yang bersifat fana, fatamorgana yang begitu manis awalnya namun pahit adalah hal yang setimpal yang harus Donghae rasakan di akhir.

“Masih memikirkan dia?” pertanyaan Kibum mengagetkan Donghae yang masih bersama dunianya sendiri, mengembalikan akal si pemuda manis akan dunia nyata yang masih ia kecap hingga kini, Kibum tertawa, berpikir jika yang dikatakannya tadi benar, memang benar, namun tidak bisa dipungkiri jika Kibum merasa sedikit iba pada pemuda disampingnya ini, sedikit? Tidak juga, buktinya Kibum kini merubah haluan mobilnya menuju sebuah tempat, bukan tempat tinggalnya.

“Dimana ini?” Donghae bertanya seraya menyipitkan mata juga menempelkan bagian depan wajahnya pada kaca mobil, diluar begitu gelap, membangkitkan rasa takut Donghae yang sejujurnya benci pada kegelapan.

“Ayo keluar!” Kibum mengajak, membuka pintu mobil dan mengeluarkan diri sendiri, setelahnya ia panggil Donghae yang malah terdiam, ragu ia rasakan, Kibum apakah orang baik dan bisa dipercaya? Donghae merutuk karena begitu cepat mempercayai supir taksi tersebut, bisa sajakan Kibum ternyata berniat jahat padanya? Tapi Donghae dengan polos langsung saja mempercayai dia yang merupakan orang asing bagi Donghae.

“Ayo!” Donghae meringis, tak ada pilihan lain selain mengikuti Kibum yang membuka pintu mobil yang ada tepat disamping Donghae. Kibum seret Donghae menuju bagian depan mobil Kibum yang lampunya masih menyala, cukup sebagai penerangan. Keduanya lalu terduduk, beberapa saat hening menyapa mereka hingga, Kibum yang menoleh pada Donghae yang menundukkan wajahnya sendu, Kibum menghela setelahnya tersenyum dan berujar,

“lihat itu!”

“Apa?” Donghae bertanya dengan raut bertanya pada Kibum, namun pemuda tampan itu tidak menanggapi, ia hanya sibuk menatap langit malam dengan jari telunjuk yang masih saja teracung seakan menantang sang ratu malam, kerajaan malam dengan taburan bintang yang tampak kecil dari tempat keduanya berpijak, cahaya terang yang menghiasi jagad raya disaat kelabu nan sepi penuh rindu, bagai harapan ditengah keputus asaan.

Kedua mata indah Donghae kembali berbinar, menelisik liar dengan decakan kagum yang mengalun dari bibir tipisnya, senyum manis yang kembali merekah menambah pesona dalam dirinya yang sudah indah, kerlap-kerlip keindahan itu seolah mampu merangkul Donghae yang tengah dirundung kepedihan, suara serangga bersahutan yang kembali ia dengar bagai senandung yang mengundang lengkungan indah yang semakin jelas terlukis di wajah, baik pada Kibum dan Donghae yang patut bersyukur karena masih dapat menikmati nikmat Tuhan yang satu ini, satu dari berjuta bahkan lebih dari itu, keindahan yang diciptakan Sang Pencipta untuk mereka yang mau bersyukur dan menjalani hidup dengan sebaik mungkin.

“Terima kasih Kibum, kau adalah supir taksi yang paling baik yang pernah kutemui!” Donghae berujar dalam ketulusan yang keluar dari dalam mulutnya beserta senyum indah yang Kibum sukai kini, Kibum mengangguk dengan senyum yang juga tersemat pada bibir tebalnya, menatap manik indah Donghae yang juga kini bagai candu, Kibum ikut-ikutan tidak normal kini? Apa Kibum peduli? Mungkin tidak, semua masih terlalu cepat.

Keduanya lantas tertawa dalam keceriaan yang menguar kental dari dalam diri keduanya, atmosfer hening, dingin, gelisah, sesal, dan kecewa seolah hilang ditelan cahaya yang mampu membuat mereka ingat akan Tuhan yang masih menyayangi mereka, Tuhan yang masih mau membuka hati keduanya terutama Donghae untuk sadar jika ia tidak boleh larut akan kesedihan juga putus asa, ada orang bijak yang mengatakan ada usaha ada jalan, dan itulah yang diyakini Donghae kini, ia pasti bisa menemukan pengganti sang kekasih yang telah mengkhianati kesetiannya, pengganti yang merupakan jodoh sejatinya, tak peduli akan siapa seseorang yang dimaksud, entah wanita ataupun lelaki.

“Kibummie, boleh aku memanggilmu seperti itu?” dengan ragu Donghae bertanya pada Kibum, takut jika Kibum tidak suka mendengarnya, Kibum terdiam sejenak, ia tatap lagi Donghae sebelum tersenyum dan mengangguk, “boleh.” Jawabnya yang juga tersenyum manis pada Donghae, senyuman terbaik yang semakin membuat Donghae melebarkan senyumnya dengan mata yang seolah ikut tersenyum, orang biasa menyebutnya dengan eye smile. Keduanya lalu tertawa dalam duka yang sempat menyelimuti, duka yang kemudian pergi entah kemana, yang kita harap tidak akan pernah kembali lagi pada kehidupan keduanya. Tertawa dalam senandung nada yang penuh keceriaan juga kegembiraan yang Tuhan taruh pada hati keduanya kini, sungguh, kegembiraan itu sangat patut untuk disyukuri.

~ The Final ~

Cuma FF selingan aja kok ini, seperti biasa ini KiHae, akhir yang menggantung, berharap kalian menyukainya.

Apa ini aneh?

Bagaimana?

Aku menulisnya dalam keadaan kesal juga, searching di internet ff Kihae ketemu dua judul yang bikin dongkol sekaligus pengen ketawa, apa KiHae yang sedikit peminatnya begitu mengancam couple yang memilik peminat yang tidak bisa dibilang sedikit? Ckckck, lucu!

Artikel Terkait :
Baca Juga :
Kait kata : KiHae Couple, KiHae fanfic, Cerita Cinta KiHae, Kibum Donghae FF, Kibum top Hae bottom, Nazimah Elfish, pernikahan tanpa cinta, ff KiHae, Super Junior Indonesian Fanfiction, drabble ficlet romance, kihae ff terbaru, kihae boyslove genderswitch, boyxboy, hae as the girl, canon, general, yaoi, shoneun-ai,

About agustinazimah

Nazimah Agustina | 24 Aug 1995 | East Borneo | Indonesia | SMTown Lovers | KiHae Shipper | Donghae Biased | Artworker

Posted on 15 Juni 2013, in Drabble and Oneshoot, Fanfiction and tagged , , , , , , , , , . Bookmark the permalink. 4 Komentar.

  1. masrifah lubis

    yah, ini and ya? kok cepat lanjuuuuut dong

    Suka

  2. kok? ini ga ada love lovenya?

    whats wrong?

    Suka

Bagaimana menurut anda?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: