Trapped by Love Chapter 5

trapped by love cover fanfic kihae kibum donghae Mereka selalu bersama, mereka belajar di tempat yang sama, mereka tinggal di daerah yang sama, dan ini kisah mereka hingga keduanya menemukan kebahagiaan yang telah ditakdirkan

Sebelumnya …

“Kami baru saja,”

“Aku cidera saat menari!” Donghae menjawab cepat, memotong jawaban Kibum yang menurutnya belum tentu dapat dipercaya untuk menyelamatkan keduanya.

“Kau pulanglah!” ketus Donghae yang dijawab senyum usil Kibum yang kemudian,

CHUP!

Menciumnya tepat di bibir, membuahkan lototan dari pemilik bibir juga Kangin yang masih berdiri disana, diantara keduanya.

Title : Trapped by Love

Author : Nazimah Agustina

Rating : Teen – Mature

Cast : Lee Donghae, Kim Kibum, Kim Young Woon, Park Jung Soo, Choi Siwon and Lee Hyukjae

Pair : KiHae and others

Genre : Drama, Romance, Hurt, Family

Disclaimer : Tuhan Yang Maha Esa

Summary : Mereka selalu bersama, mereka belajar di tempat yang sama, mereka tinggal di daerah yang sama, dan ini kisah mereka hingga keduanya menemukan kebahagiaan yang telah ditakdirkan.

Warning : Genderswitch! KIHAE Couple! Super Junior fanfic! Don’t like, don’t read!

~~ Chapter 5 ~~

 

“Selamat malam, sayang!” Kibum berujar ceria, tidak menghiraukan Kangin yang memandang tajam dirinya yang telah lancang. Donghae tak menyahut, ia masih merasa begitu terkejut dengan apa yang terjadi beberapa detik lalu, hingga Kibum yang menghilang dari kediaman Lee, barulah ada yang menanggapi, Kanginlah orangnya.

“Anak itu benar-benar!” ia menggeram, sedang Donghae hanya terdiam dengan kepala yang tertunduk seraya memejamkan matanya, bersiap mendapat ceramah yang begitu panjang dari sang ayah namun,

“Harusnya dia tidak menjadikanmu pelampiasan kemarahannya pada ayah!” Kangin berujar lagi, meraih lengan putrinya lembut, Donghae membuka matanya dan mendapati ayahnya yang kini menuntun dia yang tengah kesulitan berjalan.

Donghae kebingungan? Tentu saja. Dia pikir, ayahnya akan mencium hubungannya dengan Kibum yang sesungguhnya namun, ternyata tidak, Kangin rupanya berpikir jika ciuman yang ditanamkan Kibum pada bibir Donghae karena ingin membalas Kangin yang memacari ibunya, bukan mencurigai hubungan asmara yang terjalin diantara kedua anak mereka.

“Mau ayah pijitkan kakimu?” Kangin menawarkan, dengan begitu ramah juga senyum yang terpatri indah pada wajah tampan nan tegas Kangin. Donghae tentu menolak, bukan kakinya yang terluka, kakinya tidak cidera sama sekali, namun hatinyalah yang terluka, Donghae yang merasa berlumur dosa pada sang ayah yang telah ia kecewakan.

Setitik air mata lalu menetes pada pipi putihnya setelah pintu itu ditutup oleh Kangin yang meninggalkannya seorang diri di dalam kamar, ia memeluk kedua lututnya lalu membenamkan wajah disana, menangis sejadi-jadinya dalam diam, menyesali semua yang telah terjadi, yang tak mungkin dapat dia ulang, bagaimanapun caranya.

Takut dan gelisah menghujam batinnya yang tengah dirundung duka, dimana ia yang menggenggam kedua telapaknya sendiri erat, namun ia lalu tersadar jika tak ada yang harus ditakutkan, “Tuhan bersamaku!” ia mengucapkannya berulang kali sampai ia merasa tenang.

Flash back

Hari itu hari yang cerah, hari yang dimana mentari seolah tersenyum dengan ramahnya pada bumi yang diterangi olehnya, tampak seorang gadis kecil nan manis berambut coklat yang tengah menaiki sebuah sepeda, meluncur melewati jalanan menuju kediamannya.

Gadis manis yang akrab disapa Hae itu menghentikan laju sepeda yang ditungganginya, kepalanya celingak-celinguk menatap sekitar hingga manik coklat hazelnya  membidik suatu objek, seorang anak laki-laki dengan sesuatu di mulutnya, yang mengeluarkan suara indah dan merdu yang menarik perhatian Donghae. Donghae perlahan memarkirkan sepedanya, kemudian berjalan mengendap layaknya pencuri mendekati anak laki-laki yang tengah memejamkan matanya tersebut.

Perlahan Donghae duduk di dekat si anak laki-laki, ikut memejamkan matanya seraya meresapi melodi indah yang mengalun dari sebuah simphony yang tengah dimainkan anak lelaki tadi. Melodi itu, bagai merasuk sukma, menentramkan hati siapapun yang mendengarnya, melodi itu bak angin pantai yang menyejukkan hati, sungguh keindahan yang menghanyutkan, bagai nyanyian mantra yang dapat membuat orang lupa diri untuk beranjak darisana.

“Who are you?” si anak laki-laki tiba-tiba saja membuka matanya dan sedikit terkejut melihat Donghae sudah terduduk disamping dirinya, di bawah pohon rindang yang sejuk.

“Hehehehe.” Donghae nyengir tidak jelas, dimana pada detik berikutnya ia lalu berlari meninggalkan si anak laki-laki menuju sepeda dia dan kembali menungganginya lalu meluncur melanjutkan perjalanannya, meninggalkan si anak laki-laki yang menatapnya heran seraya bertanya, “who is she?” pada angin yang berhembus mengenai wajahnya, begitu sejuk.

Keesokan harinya Donghae melongokkan kepalanya di jendela kamar dimana dilihatnya sebuah mobil box berada di depan rumah yang ada di sebelah rumahnya, “tetangga baru.” Simpulnya kemudian berhenti melongokkan kepalanya, dimana gadis kecil beranjak remaja tersebut yang melanjutkan latihan menari yang sempat terhenti.

Flash back END

Donghae tersenyum tipis, anak laki-laki yang bermain simphony saat itu adalah tetangganya kini, Kim Kibum, seorang anak yang dulunya tinggal di sebuah daerah di benua Amerika namun tidak begitu kesulitan untuk memahami bahasa Korea meski, harus Donghae akui jika Kibum begitu keren dengan style barat dia, pantas, pikir Donghae.

Masih jelas dalam ingatan Donghae juga saat malam harinya, Kangin mengetuk pintu kamar Donghae, mengajak putri kecilnya untuk mengunjungi tetangga baru mereka. Tampak Kibum yang tidak begitu lancar berbahasa Korea saat itu, aksen Barat yang begitu kental dalam ucapannya, membuat Donghae terkikik yang tentu saja mendapat tatapan dingin Kibum yang membuat Donghae bungkam pada akhirnya. Lagi, Donghae tersenyum mengingatnya, Kibumnya begitu lucu waktu itu walau tatapan dingin itu harus Donghae akui jika, begitu menusuk.

Sekelebat bayangan kenangan bersama Kibum terputar dalam benak Donghae dengan mata yang terpejam juga dengan tubuh yang telah  terbaring nyaman pada kasur. Sesekali Donghae tersenyum bahkan tertawa ketika mengingat hal-hal indah juga lucu, namun, Donghae kembali membuka matanya, menampilkan manik indah berwarna coklat hangat, sehangat hati Donghae yang mampu melelehkan sebongkah es seperti Kim Kibum yang memiliki tatapan dingin dan menusuk.

Dia berpikir, untuk apa memikirkan masa lalu yang tak akan pernah kembali? Lebih baik memikirkan sekarang juga masa depan yang akan ditempuhnya. Biarkan hari lalu menjadi kenangan yang dapat memberi pelajaran untuk melangkah di hari esok, yang harus Donghae lakukan adalah menggapai hari esok dengan sejuta harapan juga berusaha sebaik mungkin karena, jika kita melakukan yang terbaik meski itu gagal maka tidak akan ada penyesalan yang menghinggapi hati.

Gadis manis itu lalu merubah posisinya menjadi duduk menghadap jendela dimana dapat ia bidik sang kekasih yang sedari tadi memperhatikannya dengan senyum menawan bak pangeran yang terpasang sempurna di wajahnya, senyum yang hanya pernah dia tujukan pada Leeteuk dan Donghae.

Hari sudah mencapai ujung senja yang menyambut hembusan angin gulita, pertanda malam akan tiba. Dalam suasana remang diluar jendela keduanya, mereka masih dapat melihat lengkungan indah yang bernama senyuman terlukis bagai maha karya seorang yang besar. Namun, lengkungan indah itu perlahan pudar pada paras tampan Kibum kala dilihatnya sang gadis yang tersenyum dengan tetesan air mata yang mengaliri wajah manis tersebut.

Apa yang terjadi? Kibum menerka-nerka dengan otak cerdas yang ia miliki namun tak ada satupun jawaban yang ia temukan. Yang memaksa Kibum untuk melakukan hal nekat demi mengetahui apa yang sesungguhnya terjadi hingga gadis yang dicintainya itu menangis dalam senyum, yang bagi Kibum bagai menabur garam dalam luka, amat perih juga pedih untuk dirasa.

Trek!

Ia buka jendela kamarnya lalu perlahan turun dan bersiap-siap untuk melompat dari atap rumahnya menuju jendela kamar Donghae. Donghae? Ia terkejut namun memilih diam membisu hingga,

Tok tok tok

Kibum mengetuk kaca jendela dengan tatapan sendunya, pelan pada awalnya, namun Donghae tetap mematung pada tempatnya dengan pandangan kosong bagai orang linglung, sesaat sebelumnya kedua pasang mata itu beradu tajam dalam kesunyian dengan Donghae yang memutusnya dengan menundukkan wajahnya sedikit, lalu memandang kosong lantai kamarnya. Kibum semakin cemas, terus ia ketuk kaca jendela itu hingga Donghae yang akhirnya berdiri dari tempatnya, membuahkan senyuman Kibum yang menanti Donghae berjalan menghampirinya juga menceritakan apa yang terjadi padanya, berkeluh kesah pada Kibum, tapi apa daya karena Donghae yang ternyata dengan langkah pincang justru beranjak keluar dari dalam kamarnya, meninggalkan Kibum yang membeku dengan tatapan tak percayanya yang mengiringi kepergian Donghae hingga menghilang di balik pintu.

Kibum menghela dengan mata yang mengabur, rasa takut memenuhi perasaannya kini, apa Donghae akan kembali menghindarinya? Bahkan meninggalkannya seperti yang baru saja ia lakukan? Kibum termenung pada kegelapan malam yang menyapa, menatap bulan yang kemudian Kibum lihat terukir wajah gadis yang begitu diharapkannya, bahkan lebih dari itu, Kibum mencintainya meski terlalu dini untuk mengatakan jika ia begitu mencintai gadis manis bermarga Lee tersebut, orang akan berpikir jika Kim Kibum begitu cepat memutuskan melabuhkan hatinya pada Donghae seorang, mengingat usia keduanya yang belum cukup matang untuk menjalin hubungan yang serius, tapi perlu diingat jika peduli Kibum akan kata orang? Tidak ada!

Kibum lalu memejamkan manik hitam nan kelam miliknya, meresapi nuansa damai di malam hari dengan bernadakan suara jangkrik yang bersahut-sahutan, indah namun tidak cukup untuk mengusir rasa sepi juga takut itu pada diri seorang Kim Kibum. Baru saja gadis Lee itu tertangkap oleh bidikan matanya, namun rindu itu kembali membalut si pemuda Kim. Dingin malam yang menikam kalbu tak ia hiraukan, hanya termenung dengan mata terpejam yang ia lakukan, nyanyian menyebalkan dari si penghisap darah dari suatu makhluk yang bernama nyamuk pun tak membuat Kibum beranjak dari tempatnya kini.

Dalam pikirannya, terbayang wajah rupawan Donghae yang tersenyum dengan begitu indah yang sampai pada matanya yang juga indah, cukup untuk mengobati luka hati yang Kibum dera namun, luka itu seolah kembali ditorehkan pada hatinya kala dilihatnya dalam angan senyum indah itu, telah berganti menjadi senyum pedih yang bagai menikam Kibum tepat pada hatinya. Jiwa itu tengah berkelana, di tengah perasaan yang mencampur aduk bak hutan belantara dengan segala isinya yang beragam. Sunyi dan senyap itu memiliki dua sisi, di satu sisi menenangkan hati, tapi di sisi lain menyiksa hati dia yang tengah diliputi gundah gulana.

Dalam langkahnya yang tertatih, masih dengan air mata yang belum berhenti mengalir dari kedua pelupuk matanya, Donghae kembali berniat menghindari Kibum, setidaknya sampai Donghae lupa akan aib yang telah mereka perbuat. Donghae yang setelah menatap binar mata milik sang ayah yang begitu hangat padanya, tiba-tiba saja teringat pada pesan sang ayah jika ia tidak boleh menyerahkan dirinya yang berarti menjatuhkan harkat dan martabatnya demi seorang lelaki yang bukan pemiliknya dalam arti kata pendamping hidup yang telah sah di mata agama juga hukum yang berlaku.

Gadis itu menyesal? Tentu, namun bunga yang telah dipetik tak bisa dikembalikan lagi, begitupun dengan kehormatan seorang wanita, ketika telah terenggut maka tidak akan pernah kembali lagi, menjadi beban hidup bagi si wanita dengan sejuta penyesalan yang terlambat.

Ia lalu membasuh wajahnya dengan air bening yang mengalir pada westafel, lalu mendongak menatap replika dirinya pada cermin. Dengan amat perlahan ia tanggalkan satu-persatu kancing baju bagian atasnya, menampakkan banyak kissmark yang lalu ia sentuh beberapa diantaranya. Donghae tersenyum mengejek pada diri sendiri, kissmark yang berjumlah tidak sedikit itu akan hilang dalam hitungan hari saja, tapi bagaimana dengan bekas yang lain? Apa juga mudah hilang sebagaimana kissamark yang telah Kibum ciptakan pada dirinya beberapa jam lalu? Donghae tidak tahu, di detik berikutnya ia pasang lagi kancing bajunya, setelahnya kedua tangannya menggenggam sisi westafel kuat dengan kepala yang tertunduk juga aliran air mata yang terus berjatuhan ke dalam bak westafel berwarna putih bersih tersebut.

Tapi, Donghae tidak bisa melimpahkan seluruh kesalahan pada Kibum, pada Kibum yang dipenuhi amarah yang berakhir pada nafsu, ini juga salah Donghae, salah Donghae yang tidak mampu menolak, salah Donghae yang akhirnya terbuai yang berujung pada ia yang lupa menjaga harga dirinya yang begitu berharga meski itu pada Kibum, seorang yang ia cinta. Namun takdir siapa yang tahu?

Keesokan harinya aktivitas kembali seperti semula, dimana Donghae yang membuka pintu utama rumahnya sudah berhadapan dengan senyum Kibum nan menawan. Donghae balas tersenyum dengan mata sembabnya karena terlalu banyak dan lama menangis semalam. Kibum memilih untuk tidak mempertanyakan perihal sedihnya Donghae semalam terlebih dahulu, tidak dalam ucapan melainkan dalam tindakan nyata, berupa genggaman pada pergelangan tangan Donghae.

Hening  menyapa mereka yang tengah berjalan berdampingan menuju sekolah. Dimana Kibum yang lalu menolehkan kepalanya pada Donghae yang menatap lurus ke depan namun, Donghae tahu jika Kibum ingin tahu apa yang tengah ia rasakan, pemuda itu begitu penasaran, Donghae menunduk sesaat lalu menatap Kibum yang tersenyum padanya, Donghae tanggapi dengan senyum semanis yang ia bisa juga genggaman tangan yang semakin kuat.

“Apa kamu memiliki pekerjaan rumah yang belum diselesaikan?” Kibum mengusir kesunyian yang terjadi, Donghae melongo sepersekian detik hingga,

Puk!

“Tugas Matematikaku!” ujarnya pilu setelah menepuk dahinya sendiri yang begitu disyukuri Kibum, setidaknya ia bisa melihat ekspresi lucu tersebut dari gadis disampingnya ini. Dengan senang hati Kibum menawarkan jasanya pada Donghae, yang tentu saja diterima dengan senang hati juga oleh si pemilik tugas Matematika.

Sesuai janjinya, Kibum lalu mengerjakan tugas tersebut, di dalam kelas tari karena perpustakaan yang masih tutup, dimana Donghae tertegun ketika berada di ambang pintu ruang yang biasa ia masuki tersebut, ingatan tentang kemarin siang kembali mengganggu pikirannya.

Donghae memperhatikan sekitar dengan Kibum yang sama sekali tidak menyadari perbahan sikap Donghae, pemuda itu terfokus pada soal-soal yang ada di buku latihan kekasihnya, yang harus cepat ia selesaikan mengingat waktu keduanya yang sudah tidak banyak lagi menjelang bel masuk berbunyi. Alasan waktu yang tidak mendukung itulah yang membuat Kibum tidak mengajari Donghae terlebih dahulu, sehingga Kibum memilih untuk menuliskan cara-caranya langsung pada buku latihan Donghae, sedangkan Donghae hanya memperhatikan dalam diam.

“Tidak biasanya kau datang siang!” Eunhyuk menyapa Donghae yang baru saja menempelkan bokongnya pada bangku, Donghae tidak menanggapi dengan kata-kata melainkan meletakkan buku latihan Matematikanya di meja, yang disambut dengan binar kebahagiaan Eunhyuk yang langsung saja mengambil alih buku tersebut.

“Eh? Ini bukan tulisanmu, Kibum yang mengerjakannya langsung?” Eunhyuk bertanya yang dijawab Donghae dengan gumaman, melahirkan senyum puas Eunhyuk yang optimis jika jawaban yang ada di buku Donghae pastilah semuanya benar, seperti biasa. Bukan rahasia umum lagi di sekolah mereka jika Kim Kibum dianugerahi IQ tinggi yang dimiliki oleh orang-orang tertentu saja, mengantarkan ia pada prestasi akademik yang tidak perlu diragukan lagi, hal tersebut jugalah yang membuat ia populer di kalangan anak gadis.

“Sudah selesai masalah yang kemarin?” Eunhyuk mengungkit tanpa melihat Donghae, mata dan tangannya sibuk menyalin angka demi angka dari buku latihan Donghae ke buku latihannya sendiri.

“Kau begitu beruntung dapat berpacaran dengannya! Karena nilaiku juga ikut-ikutan bagus!” Eunhyuk melanjutkan dengan tawa senangnya, pemuda itu tidak menyadari jika Donghae memandangnya dengan tatapan terluka mesti semua itu di interupsi oleh guru mereka yang memasuki kelas lebih awal.

“Anak baru? Diakhir tahun ajaran? Yang benar saja!” Eunhyuk berucap tak percaya setelah sang guru memperkenalkan anak yang turut serta dengannya, Donghae menyipitkan mata, memperhatikan teman barunya dengan seksama.

“Salam kenal! Mohon bimbingannya!”

~~~ To Be Continue? ~~~

Bagaimana?

A/N :

Nulis FF apa nulis puisi mbak? LOL. Jujur, mata saya berkaca menulis ini, karena saya yang tidak kuat jadinya berhenti sampai disini, yang jelas membayangkan semua yang terjadi dalam FF ini membuat hati saya perih sendiri.

Saya tahu chap ini begitu monoton, lambat, pelit dialog, juga membosankan, sayapun merasakannya pada FF yang ceritanya sudah begitu umum dan sedikit peminatnya ini, sedikit peminat? Lebih tepatnya sedikit jejak, tapi berharap kalian suka, siapapun itu.

I Love KiHae! Say we love KiHae!

 

Nazimah Elfish

Related Post :

Kait kata : KiHae Couple, KiHae fanfic, Cerita Cinta KiHae, Kibum Donghae FF, Kibum top Hae bottom, Nazimah Elfish, pernikahan tanpa cinta, ff KiHae, Super Junior Indonesian Fanfiction, drabble ficlet romance, kihae ff terbaru, kihae boyslove genderswitch, boyxboy, hae as the girl, canon, general, yaoi, shoneun-ai, imagination

About agustinazimah

Nazimah Agustina | 24 Aug 1995 | East Borneo | Indonesia | SMTown Lovers | KiHae Shipper | Donghae Biased | Artworker

Posted on 26 Juni 2013, in Trapped by Love and tagged , , , , , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink. 7 Komentar.

  1. Nelly Key Donghae

    HIKS,, sedih nih,, katakana saja sejujurnya pada org tua kalian,,,
    Mgkin merka bias mengerti,,
    Hae jgn menjauhi kibum lagi,,, atau kau akan dibuat pincang lagi,, huhu #plak
    kalo Hae hamil, kangteuk bisa apa ?? wkwkwk
    Enak kali punya kekasih jenius macam kibum,,,
    Anak baru ?? siapa ?? siwonkah ??
    Ditunggu lnjutannya>>>>>>

    Suka

  2. Anak baru?? Kyuhyun kah?? Gak mungkin Siwon kan? Hahahaha
    Lanjuutttt… Biarkan Donghae hamil kali yah *uhuk*

    Hwaiting my beloved KIHAE^^

    Suka

  3. Cho ryeosomnia fishies

    Jadi si heppa udh gk perawan lagi ne eonnie???
    Nyesel kah ,??
    Ayo kihae bersatu ne , eonnie semoga murid baru.a yeoja nama.a kim ryeowook ne , plis . Aku udah pernah coment pake nama park hye kyung. Biar eunhwook . Aku bakal jadi reader setiamu deh

    Suka

  4. masrifah lubis

    astaga kenapa makin rumit ya

    Suka

Bagaimana menurut anda?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: