[Ficlet] Story Ending

STORY ENDING COVER FANFIC KIHAE BY NAZIMAH ELFISH

Kim Donghae, wanita berambut coklat keemasan itu menoleh pada jendela kereta di sampingnya, tampak asri. Ia tersenyum dengan kepala tertopang pada sisi jendela. Pada detik berikutnya ia memejamkan mata, ‘aku tidak boleh takut.’ Batinnya lalu membuka kedua mata setelahnya mendongak, menatap langit dan, “ragaku bisa pergi, apa  jiwaku juga dapat pergi darimu? Kau membiarkanku pergi, apa cinta bisa pergi begitu saja?” Donghae kembali memandang jendela, terpantul bayangan dirinya yang tersenyum lembut, “aku pasti bisa.”

Title : Ending Story

Author : Nazimah Elfish

Cast : Lee Donghae, Kim Kibum, Lee Donghwa, and Cho Kyuhyun

Pair : KiHae (Kibum and Donghae)

Rating : Kids+

Genre : Drama, Romance, Poetry, and Family

Disclaimer : Tuhan Yang Maha Esa

Summary : Ini bukanlah cerita yang baru, hanya cerita lama mendekati akhir. Sebuah cerita cinta? Tepat sekali.

Warning! : Genderswitch! KIHAE COUPLE! Don’t like? Don’t read.

Senada dengan Donghae, Kibum juga tengah memandang langit biru di hari ini. “Setitik nila, rusak susu sebelanga.” Ujarnya  lalu menghela lelah. Belum ada satu jam kepergian Donghae, lelaki itu sudah merasakan rindu penyayat kalbu.

Hari semakin petang, biru perlahan menghilang berganti jingga. Kibum menyaksikan itu, memudarnya warna biru pada langit, hingga dilumat habis oleh merah kekuningan yang berakhir dengan gelap beserta butiran intan yang menghiasinya.

Ini, bukanlah cerita yang baru, hanya cerita lama mendekati akhir. Cerita cinta yang dimainkan keduanya kini berada pada alur konflik pada sebuah naskah drama. Lihatlah perubahannya, semua terpantul bak cermin,menghasilkan  bayangan nyata.

“Meski kau meninggalkanku, hatiku begitu dekat denganmu.” Gumamnya sembari memejam mata, sebelumnya menarik nafas panjang seiring dengan dihidupkannya lentera gedung-gedung tinggi menjulang kota Seoul.

Flash Back

“Hiks… hiks”

“H…Hae?”

“Cukup! Hiks!”

“Apa? Harusnya aku yang marah padamu!” Kibum menaikkan suaranya pada Donghae yang semakin menangis sesegukan di atas ranjang. Laki-laki itu memijit pelipisnya pelan, kepalanya pening mendengar tangisan istrinya makin lama makin jadi.

Kibum menghampiri Donghae yang membelakanginya, “ada hubungan apa kau dengannya?” tidak ada jawaban. “Hae, jawab aku!” semakin dingin Kibum bertanya, “kau yang memulai!” sahut Donghae agak berteriak tetap tangisnya.

Tak ada apapun setelah itu, semua terasa dingin dan asing bagi Kibum juga Donghae hingga di suatu pagi, “kupikir kita sudah tidak ada kecocokan lagi.” Donghae memecah kedinginan yang terjadi dengan perkataan yang menjurus pada perpisahan tersebut.

“Aku tidak ingin berakhir.” Kibum menimpali, “apa kau begitu marah? Maafkan aku.” Lanjutnya mengalah pada akhirnya, tersenyum pada Donghae yang tidak mengeluarkan ekspresi menerima baik Kibum, wanita itu menggeleng lemah.

“Aku akan tinggal di kota asalku, maafkan aku.” Donghae membungkuk rendah pada Kibum yang tersenyum. Laki-laki yang masih berstatus suami itu  tidak melarang kepergian istrinya yang hanya ingin seorang diri saat ini.

‘Butuh ketenangan,’ pikir Kibum ketika melepas wanita yang mungkin akan menjadi mantan istrinya nanti. “Hubungi aku ketika kau sampai, hati-hati di jalan, jaga dirimu baik-baik.” Kibum berpesan, Donghae tersenyum, “tentu.” Ujarnya singkat lalu memutar arah menuju kereta tujuan Mokpo.

Flash Back END

“Anneyoung!” Donghae memberi salam seiring dengan koper yang ia tarik hendak memasuki  rumah.

“Anneyoung eomma!” ulangnya, tak ada jawaban. Donghae melangkah masuk setelah melepas sepatu.

“Dikunci.” Desahnya lalu terduduk pada lantai. Dipandanginya halaman rumah kampung halamannya, tidak ada yang berubah menorehkan senyuman di bibir Donghae. Wanita itu menggeliat, pegal ia rasakan setelah sekian jam duduk dalam kereta hingga, “Donghae?”

“Oppa,” sahutnya seraya berdiri, berjalan menghampiri Donghwa yang juga menghampirinya lalu berpelukan erat.

“Mana Kibum?” Donghwa bertanya, Donghae tersenyum sambil menggleng, “dia banyak urusan.” Jawabnya, “aku merindukanmu!” lanjutnya menggandeng mesra lengan kakak yang sudah sekitar dua tahun tidak dijumpainya.

“Mana eomma?” Donghae bertanya kemudian meminum coklat hangat di hadapannya.

“Eomma bermalam di tempat imo, besok pagi baru kembali.”

Tok tok tok

Ceklek

Keduanya terdiam setelah pintu terbuka, “masuklah!” pemilik apartement memecah kecanggungan yang sempat terjadi. Si tamu mengangguk, melangkah masuk mengikuti pemilik apartement lalu terduduk pada sofa.

“Mau minum apa?” si pemilik apartement menawarkan, “tidak perlu.” Jawab si tamu dingin.

“Tidak apa, kusiapkan kopi saja.” lalu memanggil asisten rumah tangga untuk menyediakan dua cangkir kopi.

“Ada hubungan apa kau dengan istriku?” Kyuhyun tersenyum tipis mendengar pertanyaan yang dilayangkan Kibum padanya, “aku adalah hoobae Donghae noona.” Jawabnya, terlihat Kibum terkejut, sedikit.

“Aku begitu mengagumi istrimu, semenjak sekolah menengah. Kami kembali bertemu beberapa waktu lalu, tidak sengaja.” Kyuhyun menjelaskan lebih lanjut seiring dua buah cangkir kopi yang berada di depan keduanya.

“Selama aku mengaguminya, selama itu pula dia menolakku, kasihan sekali bukan?” Kyuhyun tertawa renyah tapi Kibum tidak bergeming, terlihat berpikir.

“Ayo, diminum.” Kyuhyun merasa hawa yang tidak enak dari Kibum, untuk itu ia berusaha mencairkan suasana agar tidak begitu kaku.

“Dia, meninggalkanku.” Benar saja dugaan Kyuhyun, Kibum menghela lalu meraih secangkir kopi. Dipandanginya sejenak lalu kembali meletakkannya ke meja.

Rindu terdapat disana, diantara gelombang menghantam karang. Rindu itu, sepasti langkah dia yang menapaki pasir saat ini. Tidak lengkap rasanya pergi ke Mokpo jika tidak mengunjungi pantainya yang masih asri.

Di pantai ini, Donghae merasakan dengan bebas angin membelai wajah dan mempermainkan rambut gelombangnya. Angin yang tidak baik untuk tubuhnya, Donghae mendongak menatap mega, kosong, tak ada kerlap-kerlip bintang nan cantik.

‘Mungkin sebentar lagi akan hujan.’ Batinnya menduga. Tidak ada ekspresi bahagia terpatri di wajah Donghae yang kini memeluk lengannya sendiri, dingin. Wanita berambut coklat itu merasakan perbedaannya, perbedaan tidak ada Kibum disampingnya dalam arti benar-benar tidak ada, bukan sekedar kesibukan kantor yang menguras waktu.

Bila malam tiba, mengetuk pintu dimana yang membukanya selalu orang yang sama namun dengan ekspresi berbeda. Terkadang disambut senyum terkadang dengan rengutan lucu. Kibum mengerti akan kekesalan Donghae karena dia yang sering mengingkari janji dengan alasan lembur, tapi bukankah itu untuk mereka juga? Untuk keperluan dan keinginan Donghae yang tidak sedikit?

Mengapa wanita itu tidak mengerti dengan menerima ajakan lelaki lain untuk mengisi waktu luang?

Kibum teringat akan perkataan, “perselingkuhan yang dilakukan wanita lebih berbahaya dari perselingkuhan yang dilakukan lelaki. Lelaki berselingkuh biasanya karena nafsu sesaat dan kesenangan semata, tapi jika wanita telah berselingkuh dari suaminya maka artinya dia tidak bahagia dan adanya masalah fatal dalam rumah tangga.”

“Selamat ulang tahun!” Donghae reflex tersenyum ketika sebuah kue berkrim putih berhiaskan stroberi dihadapkan padanya, jangan lupa tulisan “Happy 28 Kim Donghae” terdapat pada kue tersebut.

“Terima kasih eomma, oppa!” sahutnya hendak meniup lilin namun dicegah Donghwa.

“Masih ada satu orang yang belum ada disini.” Donghae terdiam, dia tahu siapa, tentu saja Kibum tapi dia tidak ada disini, tidak sedang bersamanya.

“Masuklah!” Donghae seketika menoleh.

Kibum datang, dengan segala kecanggungannya, mendiamkan Donghae yang seolah membeku.

“Selamat ulang tahun.” Hambar, terasa dingin dan asing bagi keduanya yang sejenak bertatapan.

“Terima kasih,” balas Donghae datar sontak menimbulkan tanda tanya di kepala dua orang lain.

Setelah acara tiup lilin, mereka lalu sarapan. Tidak ada perbincangan antara Kibum dan Donghae, memaksa Donghwa membuka suara perihal rasa penasaran yang menggentayangi otaknya.

“Masalah apa yang menghinggapi kalian?”

“Sebenarnya kami hendak,”

“Hanya masalah ringan, hyung.” Kibum memotong perkataan Donghae yang ingin mengatakan kebenaran, mulut Donghae seolah terkunci, ia mengangguk untuk menguatkan perkataan Kibum lalu kembali melanjutkan makan keduanya.

“Aku ingin berbicara, sebentar saja.”

“Untuk? Bukankah surat perceraian kita telah diurus, hanya menunggu waktu dan tidak ada ikatan apapun lagi.” Donghae berucap lancar, dengan suara yang dinyaringkan mengingat gemuruh ombak yang tidak mau kalah, seolah ombak itu ingin melindungi telinga Kibum dari sesuatu yang menyakiti hati tersebut.

“Aku memintamu kembali, kembali pada dekapanku, kembali pada kehidupanku.” Donghae tersenyum membuat Kibum juga melakukan hal yang sama namun, wanita itu menjawab, “kau bahkan tidak mempercayaiku.” Menghilangkan seketika senyum di wajah Kibum.

“Maafkan aku, aku tahu kau jenuh dengan semua ini tapi tidak bisakah kau mengerti? aku melakukan ini untuk kita.” Donghae terdiam, tampak dia yang bimbang. Keduanya kemudian terperangkap dalam diam, terlihat seperti menikmati hembusan angin laut menusuk tulang.

Kibum menoleh dengan kening menyernyit ketika Donghae tertawa entah karena apa, “apa?” Donghae bertanya dengan terkejut, tampak salah tingkah ketika melihat Kibum yang memandang aneh dirinya.

“Tidak ada,” Kibum menyahut lalu tersenyum tipis. “Angin malam sama sekali tidak baik, ayo masuk!” ajaknya, mengulurkan sebelah tangannya pada Donghae seolah lupa akan rumah tangga keduanya yang diambang kehancuran.

Donghaepun sepertinya lupa, ia menyambut uluran tangan itu dengan mesra seperti tidak terjadi apapun. Hingga Donghae yang teringat jika ini, tidak akan berlangsung lama, tidak dapat dipungkiri jika dia, pasti akan merindukan semua ini.

“Eumm,aku akan tidur diluar.” Kibum berucap ketika telah berada di depan pintu kamar Donghae. Mereka sepertinya baru ingat jika keduanya berada bukan di rumah yang biasa mereka tempati.

“Tidak perlu! Eomma dan Oppa pasti akan curiga.” Donghae menginterupsi, menghentikan pergerakan Kibum yang hendak berbalik arah.

Di bawah naungan lentera redup, Donghae memunggungi Kibum yang berada tidak jauh dari tempat tidurnya saat ini. Dua tahun belakangan ini, mereka sudah terbiasa tidur bersama namun kali ini terasa berbeda.

Entahlah, Kedua pasang mata yang enggan berpaut untuk menuju alam bawah sadar karena suatu hal yang pemiliknya sendiri tidaklah mengerti. gelisah yang menghinggapi adalah yang mereka rasakan hingga, “mana hadiahku?” Donghae bangkit, mengajak Kibum berbincang.

Kibum mendudukkan dirinya, ia merogoh saku celananya namun, lelaki itu terkejut ketika Donghae bergerak cepat mendekatinya.

“Aku bilang itu sederhana!”

“Apa?” Kibum tidak mengerti, wanita di depannya seperti bukan Donghae biasanya tapi lebih seperti seorang yang bingung, itulah yang Kibum tangkap dari raut wajah Donghae.

“Kau seperti menganggapku hanya gila harta!” Donghae berucap pelan namun ditekan dan Kibum mengerti sudah kenapa wanita itu ingin hendak berpisah darinya.

“Jadi?” Kibum menggoda Donghae yang panik karena pernyataannya sendiri.

Dan perselisihan yang telah sampai pada pembuatan surat perceraian itu berujung pada suatu perkumpulan(?) di ruangan remang tersebut. Terlihat Kibum melumat ganas bibir Donghae yang tidak mau kalah dalam ciuman, seolah keduanya tengah meneguk minuman segar karena kehausan.

Dan sepertinya keduanya tidak mau diintip jadi langsung saja keesokan harinya, ^_<

“Kami akan kembali ke Seoul besok pagi-pagi sekali, eomma, oppa.”  Donghae memberitahu ketika sarapan berlangsung.

“Kenapa cepat sekali? Kenapa tidak berlibur disini saja?” Donghwa menyahut, disetujui oleh eomma Donghae yang juga menginginkan mereka lebih lama tinggal.

“Karena semalam kalian begitu berisik, jadi Kibum harus ikut ke pantai hari ini!” Donghwa berucap dengan garpu yang teracung pada Kibum, Eomma Donghae tertawa kecil melihat ekspresi anak dan menantunya yang terkejut.

“Tidak bisa begitu, hyung!” Kibum mengelak sebab ia tahu apa yang akan kakak iparnya lakukan pada dirinya nanti.

“Tidak ada penolakan jika kau mau membawa adikku ikut bersamamu lagi!” Donghwa berucap galak namun setelahnya tertawa, sedang Donghae hanya tertawa kecil ketika mengingat pengalaman tidak biasa Kibum ketika berada di tanah kelahirannya ini, yaitu ikut mengangkut ikan yang akan dijual ke pasar.

“Karena kau membiarkan adikku ke tempat ini seorang diri, jadi kau juga harus ikut berjualan di pasar!” disambut tawa Donghae yang pecah juga dengusan Kibum yang kembali teringat betapa berbedanya pekerjaan di kantor dengan nelayan meski dirinya tidak bisa disebut nelayan karena hanya mengangkut ikan hasil tangkapan saat itu.

“Apa kau tidak mau membantuku huh?” sindir Kibum ketika melihat Donghae mendekatinya namun istrinya itu malah sibuk memperhatikan jari manis kirinya yang terdapat pemandangan berbeda, yaitu cincin bertahtakan berlian pemberian Kibum semalam.

“Apa? Kau menyuruhku membawa box-box berisi ikan itu? Kau sungguh kejam, Kim Kibum!” Donghae bertanya dengan wajah prihatin yang dibuat-buat, Kibum menghela lalu melanjutkan pekerjaannya.

CHUUP!

“Tenanglah! Hanya sehari ini saja, besok pagi kita sudah akan kembali pada kehidupan biasanya.” Hibur Donghae setelah mengecup singkat pipi suaminya tersebut.

“Ugh! Kau begitu bau!” Donghae melanjutkan seraya menutup hidungnya sesaat setelah mengendus tubuh Kibum.

“Aaauw! Itu sakit!” teriak Donghae ketika Kibum menjepit hidungnya setelah Donghae berhenti menutupnya, seiring dengan lelaki itu yang berlari menghindari Donghae yang lalu mengejarnya. Tampak asyik di tengah para nelayan yang menyaksikannya terhibur, juga Donghwa yang menyaksikan dari jauh dengan menggeleng-gelengkan kepalanya juga senyuman yang terus terkembang di bibirnya.

Aku dapat berlari dalam takut, tapi aku tidak dapat berlari tanpamu. – Lee Donghae

Karena dunia ini miring, jadi kau tetap akan jatuh padaku. – Kim Kibum

Dan inilah akhir kisah yang sesungguhnya …

 

~ The Final ~

Entah apa ini, tidak terfokus pada ulang tahun Donghae memang tapi lebih ke eumm, apa ya? #malahbaliktanya

Bagaimana?

Ada masukan?

ff kihae, nazimah elfish, nazimahelfish.wordpress.com, kihae fanfiction, fanfic kihae kibum dan donghae, nazimahelfish, author : nazimah elfish, ff menikah tanpa cinta, donghae 2012, donghae, kihae fanfic, ff pernikahan tanpa cinta, ff kihae romance, ff sihae, fanfic kihae, kihae option yunho, ff kihae lee suhae.net, kihae option, fanfic cinta kihae kibum dan donghae, fanfiction kihae, kihae ff, donghae super junior terbaru 2013, donghae pingsan, kibum dan donghae, kihae fanfic Indonesia, donghae suju 2012, fanfiction tentang kihae, ff lee donghae menikah, kihae fanfiction Indonesia, kibum donghae fanfiction, sihae fanfiction, option kyuhae, fanfiction kibum dan donghae, ff kihae gs, kihyun fanfic, nazimah elfish fanfiction, sihyuk fanfiction, kihyuk fanfiction, kihae screenplays, kihae melahirkan, donghae sakit perut, Nazimah Agustina, Nazimah elfish fanfiction, fanfiction tentang kihae, fan fiction perjodohan

About agustinazimah

Nazimah Agustina | 24 Aug 1995 | East Borneo | Indonesia | SMTown Lovers | KiHae Shipper | Donghae Biased | Artworker

Posted on 15 Oktober 2013, in Drabble and Oneshoot, Fanfiction and tagged , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink. 6 Komentar.

  1. Ceritanya emang udh ga asing, tapi… Karena ini kihae? Aku bacaa ughh! Maniss banget apalagi pas kejar-kejaran di liatin🙂 donghae cantik di covernya .

    Suka

  2. covernya keren chingu, ceritanya juga gak kalah keren

    Suka

  3. covernya oks banget..hehe..
    love this couple

    Suka

  4. Covernya bikin envy!!! Kereeen! Ceritanya? Gemesin, semangat author!
    #HappyDonghaeDay

    Suka

  5. Udah umum ceritanya tapi bahasanya itu loh, lebih ngena bacanya🙂
    suka covernya, hae cantik banget.
    #HappyDonghaeDay

    Suka

Bagaimana menurut anda?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: