[Chapter 4] Time Trouble

time trouble cover fanfiction good romance fantasy family drama kibum donghae kyuhyun eunhyuk heechul siwon hangeng

[FANFIC COVER] TIME TROUBLE : KIHAE COUPLE

Sebelumnya …

“Apa yang kalian berdua lakukan huh?” Eunhyuk berkacak pinggang, menatap galak dua anak laki-laki yang sama-sama menyembunyikan kedua tangan di balik tubuh mereka.

“kalian menyembunyikan apa?” Donghae yang penasaran dengan gelagat aneh keduanyapun bertanya, kedua anak itu menggeleng-gelengkan kepalanya kuat, semakin menambah kecurigaan dua orang dewasa di depannya.

“Kyunnie, itu apa sayang?” Lebih lembut Donghae berucap, membujuk si bungsu dengan senyum manis yang tersemat pada bibirnya, beberapa saat Kyuhyun tidak bergerak, menatap Donghae yang masih setia dengan lengkungan indah di bibirnya, “perlihatkan pada eomma sayang.”

Eunhyuk melongo mendengarnya, namun ia tersenyum ketika menyadari jika meskipun Donghae tidak mengingat Kyuhyun, namun naluri seorang ibu tidak ada yang bisa menyangkalnya.

Kyuhyunpun luluh, mulai menunjukkan tangannya, Eunhyuk mendekati ketiganya karena penasaran.

“Eomma, maaf.”

Title : Trouble of Time / Time Trouble

Author : Nazimah Agustina / Nazimah Elfish

Main Pair : Romance!KiHae (KibumxDonghae), BestFriend!EunHae (EunhyukxDonghae)

Other pair : SiHyuk/WonHyuk (SiwonxEunhyuk), HanChul (HangengxHeechul), KangTeuk (KanginxLeeteuk), GengHae (HangengxDonghae)

Cast : Lee Donghae, Kim Kibum, Lee Hyukjae, Kim Ryeowook, and Cho Kyuhyun, Kim Heechul, Tan Hangeng, Shim Changmin

Rating : Kids – Teen

Genre : Romance, Family, Fantasy, Hurt, Mystery, and Friendship

Disclaimer : Tuhan Yang Maha Esa

Summary : Pernahkan kau berpikir akan melewatkan tujuh belas tahun hidupmu?

Warning : Gender switch! Don’t like? Don’t read.

Chapter 4

“Ini?” Donghae berkata ragu, “untukmu!” Changmin menjawab, Donghae melihat Kyuhyun yang mengangguk dan tersenyum malu.

“Manisnya! Baru kali ini kalian tidak berbuat yang tidak-tidak huh?” Eunhyuk menimpali lalu mengacak rambut Kyuhyun dan Changmin bersamaan, disambut delikan dua anak tersebut yang justru membuat Eunhyuk tertawa.

“Darimana kalian mendapatkan ini, hhmm?” Donghae bertanya sembari memperhatikan benda di tangan Kyuhyun, menarik perhatiannya lalu mengambil alih dari tangan si bungsu, Kyuhyun menyernyit.

“Inikan kerang-kerang waktu kita berlibur di pantai bebelapa minggu lalu eomma?” ujar anak itu mengagetkan Donghae sedang Eunhyuk mengalihkan pembicaraan dengan, “buat imo mana?” pada Kyuhyun yang memeletkan lidah juga, “ini untuk noonaku!” menyembunyikan gelang kerang yang lain di balik tubuhnya.

Eunhyuk melihat Changmin yang juga langsung menyembunyikan gelang kerang miliknya, “ini untuk eommaku!” disambut dengusan Eunhyuk dan Donghae yang tertawa kecil.

“Eomma pakai ya?” pinta Donghae, ditanggapi Kyuhyun dengan anggukan cepat. Donghae lalu memakai rangkaian kerang mini yang dibuat oleh Kyuhyun dan Changmin menjadi gelang.

“Eomma suka?”

“Iya.” Setelahnya Kyuhyun dan Changmin berhigh five, “pasti eommaku juga suka!” timpal Changmin menarik rasa penasaran Donghae yang menatap Eunhyuk menanyakan, “dia anak siapa?” tanpa bersuara.

“Keponakan Heecul eonnie.” Jawabnya juga tanpa suara, Donghae memperhatikan sejenak lalu tersenyum, “mirip dengan gege.” Simpulnya membatin.

“Jadi, apa keluhanmu nyonya?”

“Aku, euumm,,,”

“Dia tidak dapat mengingat kehidupannya yang sekarang dokter!” Eunhyuk mengambil alih, Donghae hanya mengangguk mengiyakan.

“Sebentar saya periksa dulu.”

Keesokan harinya …

Eunhyuk dan Donghae kembali menemui dokter yang sama untuk menanyakan hasil diagnose kesehatan Donghae. “Jadi, kira-kira teman saya sakit apa dokter?”

“Nyonya Kim tidak ada memiliki kelainan apapun, tidak mengalami amnesia seperti yang dikeluhkan.” Eunhyuk dan Donghae berpandangan, tidak mengerti.

“Anda yakin?” dokter itu mengangguk pasti, “anda sehat-sehat saja, nyonya.” Sukses membungkam Eunhyuk dan Donghae yang hanya bisa berpamitan dengan sang dokter lalu beranjak pulang.

“Kau,”

“Apa?”

“Tidak ada.” Hening, suasana itu yangmenyelimuti kedua sahabat itu di dalam mobil dengan Eunhyuk yang menyetir dan Donghae yang menikmati pemandangan. Menikmati? Tidak juga, dia sebenarnya gelisah, apa yang terjadi dengan dirinya?

“Berhentilah berpura-pura.” Eunhyuk membuka suara setelah sampai di kediaman Donghae, “apa maksudmu?” timpal Donghae.

“Kau tidak sakit, kau tidak amnesia jadi berhenti pura-pura lupa akan kehidupanmu yang sekarang!” lebih tinggi ia berucap, “tapi aku tidak berpura-pura! Aku benar-benar tidak pernah merasa melahirkan Ryeowook dan Kyuhyun, aku masih berumur enam belas tahun, dan kita semua masih sekolah di tempat yang sama!”

“Keluar dari mobilku, sekarang.” Donghae menghela nafas lalu keluar dari mobil, setelahnya mobil berwarna putih itu tancap gas dan melewatinya begitu saja. Tidak ada ucapan selamat tinggal ataupun senyuman yang biasa ditunjukkan keduanya ketika akan berpisah seperti ini, dan itu membuat Donghae bersedih.

Dengan langkah gontai ia memasuki rumah, ‘sepertinya aku harus berendam dulu.’ Batinnya merencanakan.

Diselimuti busa yang menutupi tubuhnya ia berpikir, tentang kehidupan tidak biasa yang dialaminya beberapa hari ini.

“Dia begitu kerenkan, Hyukkie?” Eunhyuk bergumam untuk menjawab pertanyaan Donghae yang kini sibuk memandangi photo dari kakak kelas mereka.

“Hey!” Donghae berteriak ketika ada yang mengambil photo tersebut dari atas meja, cepat-cepat gadis itu berdiri dan mendapati Kibum sebagai tersangka.

“Untuk apa kau ke kelasku, hoobae kurang ajar?”

“Kau suka Hangeng Gege? Tidak level sekali gadis sepertimu bersama dengan bintang sekolah!” Kibum mengejek lalu memasukkan photo tersebut ke dalam saku celananya, “ya ya ya! Kembalikan photo itu!” Donghae merebut paksa photo yang telah berada di dalam saku celananya tersebut. Reflex Kibum berusaha menghalau dengan Donghae yang semakin tidak sabar hingga ia yang menarik tangannya dengan dengan cepat juga wajah merah padam.

“Ma-maafkan aku.” Ujarnya terbata salah tingkah dan menyembunyikan kedua tangannya dibalik tubuh, jangan lupakan kepala yang tertunduk. “Kau? Lancang sekali huh! Bilang saja kalau kau ingin?”

“Apa? Jaga bicaramu Kim Kibum!” kuping Donghae terasa panas mendengar tudingan Kibum, ia tidak sengaja telah menyentuh ‘benda pusaka’ milik pemuda itu dan merasa sangat malu. ‘Salahmu yang menyembunyikan photo itu disana!’ dumel Donghae dalam hati.

“Memangnya kalian kenapa?” siswa-siswi lain yang awalnya tidak peduli akan pertengkaran keduanya yang sudah biasa itupun merasa penasaran. Juga Eunhyuk sedari tadi menikmati camilannya tanpa memperdulikan pertengkaran dua manusia di dekatnya, ikut menatap keduanya sarat pertanyaan.

“Hanya manusia cabul.” Donghae membelalakkan mata tidak percaya mendengar tiga kata yang keluar dari mulut Pengeran Es, alhasil pandangan anak-anak kelas beralih menatapnya dengan pandangan yang sulit diartikan.

“Dia berbohong! Aku tidak seperti itu!” Dongahe mengelak. Kibum tertawa usil lalu berbisik ke telinga Donghae, “jika mau lagi, datang saja ke tempatku, nona.” Lalu berjalan santai melewati Donghae yang kelewat geram.

“Aaauuwww!” Kibum mengaduh kala sebelah kakinya tanpa kasihan Donghae injak dan mengambil photo yang ada di saku celananya, “itu pantas untukmu!” omel Donghae lalu kembali memasuki kelas bahkan menutup pintu kelas tanpa perasaan.

“Ish! Menjengkelkan!” Donghae mendumel mengingat kejadian beberapa waktu lalu di sekolah. Dia tidak sengaja menyentuh ‘benda terlarang’ tersebut dan Kibum tega mempermalukannya seperti itu?

‘Tidak mungkin aku menikahi orang seperti dia!’ batin Donghae sebal. Ia kembali menyamankan diri di dalam bath up, mencoba mengingat hal-hal manis yang pernah dilewatinya. Wanita itu tersenyum-senyum sendiri hingga membuka matanya dengan perasaan bingung. Ingatan ketika ia memasangkan dasi pada eher Kibum melintas begitu saja, belum lagi pelukan hangat yang dia dapat ketika merasa patah hati mengetahui Hangeng ternyata menjadi suami Heechul?

Donghae tidaklah mengerti maksudnya.

“Aku pasti mengigau!” bagai doa ia berucap penuh khidmat, cepat-cepat menyalakan shower untuk mendinginkan kepala yang mulai terasa panas berputar-putar pada memori bersama Kibum yang ingin dia enyahkan sekarang juga.

Acara berendam diakhiri Donghae dengan mengenakan baju mandi berwarna merah darah. Ia keluar dari kamar mandi dan terkejut mendapati Kibum yang sudah di depan pintu kamar mandi.

“Kau, sudah pulang?” tanya Donghae masih dalam keadaan terkejut dengan jari yang menunjuk Kibum.

“Eum iya, Baru saja aku ingin menyusulmu ke dalam.” Sukses membulatkan mata Donghae yang tertawa canggung,”aku sudah selesai, masuklah ke dalam, kau pasti lelah.” Cepat-cepat beranjak dari sana namun dicegah Kibum yang memegangi lengannya, “kenapa tegang sekali, sayang?”

Reaksi Donghae?

“Euumm, kau mandilah dulu.” Bujuknya membalikkan tubuh, merasa risih dengan bibir Kibum yang mengecupi pangkal lehernya. “Eiittss!” desisnya tersenyum dengan jari teracung, menghalau bibir Kibum yang hendak mengecup bibirnya. Lelaki itu tertawa untuk menutupi rasa kecewa, “sekarang kau suka sekali menguji kesabaranku eoh?” sindirnya, Donghae tertawa kecil menanggapi.

“Mandilah dulu, kau begitu bau!” didorongnya tubuh Kibum memasuki kamar mandi dan cepat-cepat menutup pintu sebelum dirinya lagi ditarik oleh suaminya itu.

“Untung aku selesai tepat waktu.” Monolog Donghae sembari memilah pakaian yang hendak dikenakannya, cepat-cepat memakai dan membaringkan diri juga menutupi seluruh tubuh dengan selimut.

Gelap.

Donghae membuka selimut, bagaimanapun juga dia takut kegelapan. Akhirnya dia hanya menutupi sebagian tubuhnya saja, memejamkan mata dan tidur. Niat hati ingin terlelap pulas, apa daya kelopak mata enggan berpaut. Donghae kembali berpikir tentang kehidupannya, ‘apa aku terjebak di tubuh wanita 30 tahunan? Tapi namanya juga Donghae, orang-orang disekitar pun ku kenal baik. Apa ini memang diriku di masa depan?’ batinnya menduga.

Ceklek

Seketika Donghae menegang mendengar kenop pintu terbuka, dari kamar mandi? Kibum? Tentu.

Lelaki itu bersiul, dapat Donghae dengar suara pintu lemari yang terbuka, sedang wanita itu memejamkan matanya rapat.

‘Maunya apa sih?’ batin Donghae bertanya ketika suaminya itu memeluknya dari belakang yang otomatis menempelkan punggung Donghae dengan dada bidang Kibum.

“Ada yang ingin kubicarakan padamu.” Ungkap Kibum mengeratkan pelukannya, tidak ada jawaban.

“Aku tahu, tidak sepantasnya aku mengatakan ini tapi, aku rasa kau mulai berubah.” Kibum lalu diam, menunggu tanggapan Donghae yang nyatanya tidak ada. “Maaf jika aku ada salah, tapi jangan ubah sikapmu pada anak-anak, mereka tidak pantas mendapat perlakuan dinginmu.”

“Kau benar-benar sudah tidur?” Kibum melongokkan(?) kepalanya, melihat Donghae yang tanpa pergerakan. “Pulas sekali.” Simpulnya kemudian mengecup pipi itu singkat dan semakin menyamankan pelukannya juga memejamkan mata.

Donghae membuka kelopak mata, menggeliat dengan tujuan melonggarkan pelukan Kibum pada pinggulnya namun gagal, justru semakin mengeratkan pelukannya membuat Donghae sebal sendiri. Wanita itu mengubah posisi tidur menjadi telentang, pergerakannya ini otomatis membangunkan Kibum yang lalu bertanya, “apa ada yang mengganggu tidurmu?” Donghae menoleh, ingin sekali ia menjawab, ‘kau yang menggagguku, bodoh!’ namun urung begitu menatap sepasang mata sayu itu, Kibum memang lelah dan ia sempat tidur tadi.

Donghae mengubah posisinya, berhadapan dengan Kibum yang tersenyum lalu menarik kepalanya untuk menyembunyikannya pada dada bidang Kibum.

“Ada yang ingin kau bicarakan?” Donghae bertanya, berharap Kibum akan mengatakan yang baru saja ia keluhkan tadi sewaktu Donghae ‘tidur’.  “Tidak ada.” Bagai pukulan keras, Donghae meringis ketika Kibum tidak jujur padanya. Tidak ada reaksi ketika lelaki itu mengusap rambut lalu menciumnya hangat.

“Tidurlah.” Kibum berujar lembut, lalu menyamankan posisinya dengan masih memeluk Donghae yang masih terdiam dalam pelukan Kibum. Beberapa saat berlalu dan Donghae melepasnya perlahan, mendudukkan diri dengan wajah kusutnya, dia tidak bisa tidur.

Wanita itu lagi-lagi merenungi nasibnya, tidak lama setelahnya terdengar isak tangis dibalik lengan yang memeluk lutut, “aku hiks mau pulang hiks.”

“Hoaaahhmm!” Donghae menggeliat dari tidurnya, ia mengucek-ngucek mata, membukanya sedikit dan terang. Donghae kembali memejamkan mata karena cahaya tersebut. Wanita itu lalu terbangun, ‘sudah siang rupanya,’ dia membatin seraya memperhatikan sekitar.

Tidak ada Kibum.

Donghae ambil jam weker yang ada di atas meja nakas, menunjukkan pukul Sembilan pagi. Donghae lagi-lagi dibuat beku, ‘Kibum tidak membangunkanku?’

Pandangannya teralih pada secarik kertas saat meletakkan kembali jam weker, ‘selamat pagi tuan putri! Kulihat tidurmu begitu pulas, aku tidak tega membangunkanmu. Ketika kau membaca ini semoga sarapan yang ada di meja makan tidak keburu basi, kekekeke.’

Donghae tertawa, merasa terhibur dengan surat ini meski ada perasaan ganjal di hatinya. Dia merasa senang sekaligus gagal, karena apa dia sebagai istri yang disiapkan sarapannya oleh suami?

Donghae membuka tutup saji, mendapati dua buah roti bakar diatas piring juga segelas susu yang terletak manis di sebelahnya. Donghae tersenyum, meski hanya roti bakar dan segelas susu tapi sudah membuatnya senang.

Ada satu yang terlewat, setangkai mawar merah yang tidak jauh darisana, melenyapkan senyuman Donghae yang teringat sesuatu.

“Ini dari Hangeng gege.” Donghae reflex tersenyum ketika tahu siapa pengirimnya. Diraihnya mawar tersebut lalu menghirupnya seolah bunga itu benar-benar wangi.

“Bnearkah ini darinya?” Eunhyuk menyahut seorang siswi yang tersenyum, gadis itu tampak sedikit tidak percaya. Donghae memang menyukai Hangeng tapi bukankah keduanya tidak mengenal secara langsung? Dan bagaimana dia tahu Donghae suka bunga mawar?
“Ah iya juga! Apa benar ini dari Hangeng gege?” tanya Donghae, siswi itu mengangguk.

“Oh Hyukkie, kau harus mengucapkan selamat padaku.” Disambut helaan nafas Eunhyuk yang memutar matanya malas. Bersamaan dengan itu tampak beberapa anak laki-laki berlari ke arah mereka, tampak memperebutkan sesuatu hingga salah satu diantaranya menabrak punggung Donghae yang menyebabkan mawar tersebut terlempar tidak jauh dari mereka.

“Maafkan aku!” ujar anak lelaki itu, “akan kuambilkan untukmu!” lanjutnya melihat wajah sebal Donghae yang ingin mengambil kemabli bunga itu. Donghae menghentikan langkahnya, sedang si anak laki-laki berjalan mengambil bunga itu.

Ketika ia berjongkok hendak mengambilnya, seseorang menginjak  juga meremukkan bunga tersebut, semakin geram Donghae yang mengentakkan kakinya, “apa maumu Kim Kibum?”

“Apa?” dengan tidak berdosa Kibum membalas, “kau telah menghancurkan bunga itu, Kibum!” ujar anak laki-laki menunduk juga menunjuk bunga yang masih dibawah sepatu Kibum.

“Milikmu?”

“Iya, itu milik Donghae.”

“Oh, maafkan aku kalau begitu.” Sahutnya sedang Donghae memandang mawar yang telah tak berbentuk itu dengan mata berkaca. “Tidak usah menangis! Aku bisa membelikan ratusan buket kalau kau mau!”

Donghae menggeram, diambilnya mawar tersebut lalu dilemparnya ke lantai juga menginjak dan meremukkan sebagai pelampiasan sakit hatinya. Mungkin saat itu Kibum tidak sengaja telah menginjak mawar tersebut tapi, jika memang tidak sengaja kenapa harus meremukkannya juga? Pikir Donghae jika Kibum memang sengaja ingin menghancurkan mawar pemberian Hangeng kala itu.

Dengan emosi yang masih meledak-ledak, wanita itu terduduk pada kursi. Membayangkan apa saja yang terjadi setelah itu hingga, “eh?” gumamnya, lalu tampak lebih serius berpikir.

Ia lalu menuju ruang tengah, mengangkat gagang telephone untuk menghubungi Eunhyuk yang mungkin masih marah padanya atas kejadian kemarin.

“Halo?”

“Hyukkie, maafkan aku atas semalam.”

“Tidak apa Hae, jika kau mau mengaku sih.”

“Tapi aku benar-benar tidak tahu!”

“HAE!”

“Hyukkie, dengarkan aku dulu! Peramal, apa kau mengingat peramal itu?”

“Heh?” tanggap Eunhyuk yang Donghae yakini alisnya tengah berpaut di sebrang sana.

“Aku tidak mengerti, peramal siapa?”

~ To Be Continue ? ~

Bagaimana?

Baca Juga :

Artikel Lain :

Fanfiction tentang KiHae, KiHae FF, ff Kihae, kihae fanfiction, kihae fanfic, kihae fanfic GS, Fanfiction KiHae Genderswitch

About agustinazimah

Nazimah Agustina | 24 Aug 1995 | East Borneo | Indonesia | SMTown Lovers | KiHae Shipper | Donghae Biased | Artworker

Posted on 19 November 2013, in Trouble of Time and tagged , , , , , , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink. 9 Komentar.

  1. Ga bisa komen apa2 lagi lngsung lanjut ke chap 2~ oh satu hal cover nya keren kereeeeenn❤

    Suka

  2. masih gk ngerti kenapa hae gk inget apa2 gitu..
    lanjut kakkkkk…..

    Suka

Bagaimana menurut anda?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: