[Ficlet] KiHae

kihae cover for fanfictions and header blog nazimah elfish

Title : KiHae

Author : Nazimah Elfish

Pair : KiHae (Kibum and Donghae)

Cast : Lee Donghae, Kim Kibum, and Shin Donghee

Genre : Drama, General, Romance, and little Mystery

Rating : Kids+

Disclaimer : Tuhan Yang Maha Esa

Warning! : KiHae Couple! Boyslove! Super Junior Fanfic! Don’t be copaser and plagiator!!

 

Ini adalah sequel dari [Ficlet] He is Mine!

“Tidak papa, ayo ikut!”  Kibum mengajak, membuyarkan lamunan Donghae juga karena genggaman tangan Kibum pada telapak tangan dia. Donghae tersenyum lalu mengikuti dia menelusuri kota indah yang belum pernah Donghae datangi sebelumnya, London.

“Indah.”

“Memang!” Donghae menoleh, mendapati seorang pria tepat disampingnya.  Donghae tidak jelas melihat wajahnya  yang ditutupi masker juga bertopi hitam, pria ini tinggi, berkulit pucat dan berpakaian hitam-hitam.

“Seperti mafia saja!” nilai Donghae dalam hati seraya mempermainkan bibirnya.  “Eh?” ujarnya terkejut ketika Kibum berjalan cepat dengan masih menggenggam tangannya, berjalan menjauhi keramaian kota menuju sebuah hotel yang menurut Donghae? Cukup elit.

“Kita akan menginap disini untuk sementara waktu.” Jelas Kibum ketika telah memasuki salah satu kamar, Donghae tengah memeriksa kamar mereka yang baru sembari bergumam, “bagus” berulang kali membuat Kibum geleng-geleng kepala sambil tersenyum memperhatikan tingkah kekasihnya itu.

“Kau suka?” tanya Kibum ketika Donghae yang termangu, terpesona melihat pemandangan kota tak pernah tidur dari jendela kamar hotel.

“Kau pintar memilih lokasi!” puji Donghae menoleh ke arah sang kekasih sebentar, ‘chup!’ juga ciuman pada pipi yang disematkan pada wajah Kibum, sontak membuat Kibum tersenyum.

Sepuluh detik …

Enam puluh detik kemudian…

“Ehhhhhmm!” deru nafas terdengar dalam kamar luas itu, di depan jendela kedua lelaki itu bercumbu mesra dan panas. Perlahan namun pasti, Kibum turunkan bibirnya menuju perpotongan leher Donghae. Kecup, jilat, hisap adalah aktivitasnya kini. Namun tidak lama kemudian, cumbuan itu terhenti kala Donghae yang menciut, tampak takut juga tegang dengan perlakuan Kibum terhadapnya.

“Kau kenapa?” Kibum bertanya pada Donghae yang menggeleng-gelengkan kepalanya kuat dan tidak mau menatapnya, tatapannya tertuju pada lantai yang ditutupi karpet merah darah yang keduanya pijak.

“Aku disini! Tidak akan ada yang menyakitimu lagi!” lanjut Kibum seraya memeluk erat Donghae, dan Kibum tersenyum ketika Donghae membalas pelukannya, “aku mau tidur.” Ujar Donghae kemudian.

“Baiklah, kau tidurlah dulu, aku ada urusan sebentar.” Donghae menyernyit, wajahnya lalu merengut tidak suka mendengar jawaban tersebut. “Aku tidak mau! Kau harus disini menemaniku tidur!” rajuk Donghae melompat ke ranjang, menimbulkan suara decit dari benda kotak itu.

“Baiklah.” Kibum mengalah, menorehkan pelangi terbalik di wajah Donghae lalu bersandar pada bahu Kibum yang sudah duduk disampingnya, “aku mau seperti ini, selamanya!” ucapnya yang dibalas Kibum dengan gumaman juga acakan kecil di surai coklat keemasan milik Donghae.

“kau merusak rambutku!” Kibum tertawa, “tadi katanya mau tidur, ayo!” mengalihkan topik pembicaraan sembari membuka selimut untuk keduanya.

“Selamat tidur!” ujar Kibum memejamkan matanya, “Bummie?” Kibum membuka matanya kembali, mendapati Donghae yang belum tertidur juga.

“Apa?”

“Aku haus, tapi malas mengambil minum.” Jawab Donghae manja, Kibum bangkit menuju ujung ruangan dimana terdapat dispenser, mengambil gelas lalu menuangkan air darisana.

“Bukan air putih!” rajuk Donghae ketika Kibum menyodorkan gelas tersebut padanya, “lalu?”

“Aku mau orange juice!” Kibum lalu keluar kamar, siapa tahu ada pelayan hotel yang menawarkan jasanya, namun tidak ada.

“Aku akan keluar sebentar untuk membelinya.” Putus Kibum seraya mengambil jaket, dompet dan kunci mobilnya. “Belikan makanan dan kudapan juga!” pesan Donghae yang disanggupi Kibum.

“Jangan lama-lama!” Donghae mencegat lengan Kibum, pemuda itu tersenyum lalu mengecup singkat pipi si pemuda manis di depannya, “pasti” jawabnya kemudian melesat pergi.

Keesokan Harinya …

Donghae melenguh ketika cahaya mentari yang mengintip lewat jendela telah mengusik tidurnya. Tangan pemuda itu meraba ke sisi tempat tidurnya, kosong. Donghae membuka mata lalu mengumpulkan kesadarannya, memeriksa setiap sudut kamar namun hasilnya tetap sama, seorang diri di kamar ini.

“Dia belum pulang juga.” Lirih Donghae berucap,  dia memang tertidur karena terlalu lama menunggu Kibum yang tidak kunjung kembali dan itu membuat Donghae menyesal telah membuat kekasihnya itu pergi. Pemuda itu lalu berinsiatif untuk menelphone Kibum, apa daya ketika suara ponsel milik Kibum berada di dalam kamar ini yang berarti Kibum tidak membawa ponselnya.

“Kenapa tidak dibawa sih?” keluh Donghae yang memaksanya untuk keluar kamar mencari Kibum.

Ceklek

Donghae membuka pintu kamar dan membuat terkejut seseorang yang berada di depan pintu kamar hotel tersebut. Donghae mendadahkan tangan pertanda menolak layanan kamar yang ditawarkan pihak hotel. ‘Kenapa tidak semalam saja sih?’ Donghae mendumel dalam hati, mengiringi kepergian si pelayan dengan tatapan sebalnya lalu keluar dari dalam kamar dengan tangan yang menggaruk belakang kepala.

Faktanya Donghae tidak tahu apa-apa tentang tempat ini dan sekarang dia sendirian, tidak fasih dalam berbahasa Inggris membuat Donghae semakin merasa sendiri di tengah manusia berambut pirang.

“Kalau begini ceritanya, bukan aku yang mencari Kibum, tapi aku sendiri  yang seperti anak hilang!” desahnya ketika ingat Kibum fasih dalam berbahasa Inggris dan sudah pernah ke kota ini sebelumnya, sungguh berbanding terbalik dengan dirinya.

Donghae lalu berjalan-jalan ke sekitar hotel, menjumpai puluhan manusia berbadan tinggi besar dan kulit pucat. Lelaki berwajah oriental itu celingak-celinguk, berharap melihat lelaki berambut hitam, berpipi chubby, dan berkulit putih yang dia kenal sebagai Kim Kibum ada di tempat ini.

“Mana sih dia?” keluh Donghae lalu mendongak, menyeka peluh yang membanjiri wajah dan lehernya, cuaca sedang panas rupanya, saat yang cocok untuk berjemur namun Donghae memilih untuk kembali ke kamar berharap Kibum sudah ada disana.

“Bummie, kau sudah kembali? Jangan macam-macam denganku!” Ancam Donghae ketika membuka pintu kamar, tak ada yang menyahut. Donghae berjalan dengan kaki dihentak pertanda kesal, “aku tahu kau disini! Jangan bersandiwara terus!” ancamnya lagi mendudukkan diri pada sofa.

‘Drrttt…’

Ponselnya bergetar, sebelum mengangkat telephone itu Donghae berdoa terlebih dahulu jika itu Kibum.

“Halo?” ucapnya pada siapapun pemilik nomor yang tidak dikenal tersebut.

“Hae?”

“Ya! Kim Kibum! Kau kemana saja hah?” Donghae meluapkan kekesalannya, berteriak keras dimana Kibum di sebrang sana harus menjauhkan telephone dari telinga.

“Aku ada di kantor polisi sekarang, aku tahu kau begitu marah tapi datanglah kesini dan bawa pakaianku, aku telah menyuruh orang untuk menjemputmu.” Donghae menyernyit, sebenarnya dia cukup takut jika harus memasuki kantor polisi jika ingat kematian Siwon yang entah diusut oleh polisi atau tidak, dan sekarang kekasihnya tengah mendekam disana.

“Aku akan kesana, tapi kau tidak kenapa-kenapakan Bummie?” tanyanya dan tidak ada jawaban, “Kibum? Kau masih disana? Halo?” ulangnya, terputus.

“Kau? Apa yang terjadi huh?” lewat gagang telepon Donghae berbicara pada Kibum yang kini berada di depannya, hanya terpisah sebuah kaca transparan.

“Kasus pembunuhan.” Kibum menjawab datar, berbeda dengan Donghae yang melongo mendengarnya.

“Apa harus selalu membunuh musuh hah?”

“Ini tidak seperti yang kau pikirkan!”

“Apanya yang tidak? Kau pikir aku tidak tahu tabiatmu!” Kibum mendesah lelah, ia mendekatkan dirinya pada Donghae, “tenanglah, akan kuceritakan kronologinya.”

Flash back

Kibum tampak memilih-milih makanan yang akan dibelinya di dalam sebuah mini market, mini market yang buka selama 24 jam. Dia membuka kulkas dan mengambil minuman-minuman kaleng untuk persediaan dengan Donghae untuk beberapa hari.

Samar-samar di dengarnya suara minta tolong dan juga memohon ampun. Karena penasaran Kibumpun menghampiri suara tersebut dan betapa terkejutnya ia mendapati penjaga kasir mini market tersebut telah jatuh tersungkur ke lantai dengan bersimbah darah segar mengucur dari perutnya.

Kibum terdiam namun dengan gesit menghindari serangan dari si pelaku, satu dari empat orang perampok yang baru saja mengambil semua uang yang ada di dalam kasir. Tiga lawan satu, berhasil membuat Kibum kewalahan. Dua diantara mereka telah jatuh, satu lawan satu dan,

BRUGH!

Tersungkur jatuh, Kibum bernafas cepat dan kuat hingga, bukankah mereka berempat? Pikirnya lalu,

BRUGH!

Pemuda itu tersungkur tidak sadarkan diri setelah sebuah benda tumpul sengaja dipukulkan pada kepalanya.

Flash Back END

“Jadi, kau dijebak?” Donghae menebak, Kibum mengangguk, “para perampok itu meletakkan pisau dalam genggamanku.” Donghae seakan lemas, dirinya merasa déjà vu sekarang. Kajadian yang menimpa Kibum tidak jauh beda dengan kematian Siwon. Kibum yang telah membunuh Siwon lalu lempar batu sembunyi tangan, sekarang? Kibum tertuduh sebagai pembunuh dan mendekam di kantor polisi.

“Maafkan aku.” Donghae berucap lemah.

“Kenapa harus meminta maaf?” Kibum tersenyum pada Donghae yang mulai menangis, “aku menyuruhmu datang kesini bukan untuk melihatmu menangis!”

“Kau hiks bodoh! Kau bisa hiks menyuruh orang menjemputku hiks! Tapi kenapa kau hiks tidak dapat mengeluarkan dirimu sendiri darisini hiks?”

“Dengarkan aku Hae! Aku tidak bersalah, aku tidak menyentuh jasad korban, cepat atau lambat aku akan bebas, percayalah sayang.” Hibur Kibum pada Donghae yang lalu berucap, “aku, aku hiks teringat Siwon.”

“Hanya kebetulan, tidak perlu dikait-kaitkan.” Kibum membantah meski ada perasaan déjà vu, namun ia lebih memilih percaya dengan kemungkinan hanya berada di tempat dan waktu yang salah saat perampokan dan pembunuhan itu terjadi semalam.

“Selama aku mendekam disini, kau tetap menjadi tanggung jawabku, kau tidak akan kekurangan apapun dan aku menjamin hal tersebut.”

“Bodoh! Aku mau kau yang bersamaku! Bukan uangmu!” Donghae berdiri, berang karena pernyataan Kibum tadi. “Maksudku bukan begitu, sayang!” terlambat, Donghae keburu keluar dari ruang besuk, meninggalkan helaan nafas Kibum yang lalu melihat salah seorang petugas yang dia pinjam ponselnya untuk menelphone Donghae.

“Bolehkah aku meminjam ponselmu lagi? Aku akan membayar dua kali lipat dari yang tadi.”

Donghae keluar dari kantor polisi dengan gelisah, sedih, dan merasa bersalah atas kejadian sial yang dialami Kibum, karena Donghae? Itulah yang dirasakan pemuda berparas manis itu saat ini.

“Aku, seperti dikejar dosa.” Ungkapnya terduduk pada zebra cross di dekat kantor polisi tadi.

“Kuantar pulang, tuan.” Donghae mendongak, mendapati pria bertubuh gempal yang tadi menjemputnya ke tempat ini, tidak lain tidak bukan adalah orang suruhan Kibum.

“Aku tidak memiliki rumah disini!” sahut Donghae malas, menumpukan sebelah tangannya pada dagu.

“Tidak baik mengatakannya tuan, ayo kuantar kau pulang.”

“Aku tidak mau tuan Shin!” Tolak Donghae lagi namun tidak dihiraukan oleh pria yang juga berkebangsaan Korea itu menariknya menuju mobil.

“Masuklah!” Donghae mendelik tajam, berbalik menjauh dari mobil namun tuan Shin mencegat lengannya. “Jangan menambah masalah lagi, ini untuk kebaikan kita semua.”

“Kita semua?”

“Aku tidak mau mendapat amarah Kibum jika terjadi apa-apa denganmu.” Donghae terdiam, perlahan dia lalu memasuki mobil, membuahkan lengkungan indah di bibir tuan Shin yang juga memasuki mobil pada kursi kemudi.

“Dia tidak bersalah, dia akan bebas.” Hibur tuan Shin ditengah perjalanan, melihat Donghae dari kaca spion. Tidak ada jawaban, pemuda itu melamun dengan wajah yang tertengok pada luar jendela, memperhatikan refleksi diri yang tidak begitu jelas bayangannya.

Ceklek

Donghae memasuki kamar hotel gontai, menduduki sofa masih dengan tatapan kosong.

Drrt… drrtt…

Ponselnya bergetar, dilihatnya siapa gerangan yang menelphone dia, nomor tidak dikenal. Donghae mengerutkan dahi namun tetap dia angkat telephone itu, “sayang?” suara Kibum mengalun dari seberang sana. Donghae membuka mulutnya, hendak berbicara namun suaranya tertahan di tenggorokan, “hiks… hiks…”

“Jangan menangis, aku tidak mau kau menangis.” Kibum melanjutkan, terdengar sedih pula di telinga Donghae. “Aku mau pulang.” Adu Donghae, Kibum menghela, “sabar dulu ya sayang.” Lanjutnya.

Tuuut… tuut…

Donghae memutuskan kontak telephone, isakan semakin nyata terdengar dari bibirnya. Kibum jelas tidak bersalah atas kasus yang dia hadapi, Donghaepun tak tahu menahu soal kejadian di mini market jika tidak Kibum ceritakan, lalu apa masalah Donghae?

“Makanlah dulu.” Tuan Shin menawarkan, Donghae menoleh sebentar lalu kembali melamun.

“Kau mau berkeliling kota? Aku akan menemanimu.” Tawar Tuan Shin yang lagi-lagi Donghae acuhkan. “Aku mau Kibum, sekarang!” lirihnya lalu kembali berbaring pada kasur serta menutupi seluruh tubuh dengan selimut.

Ting… tong…

Ceklek

“Bummie?”

“Hyung?” Kibum memeluk tuan Shin yang sudah dia anggap saudaranya sendiri, “mana dia?” tanya pemuda itu kemudian, tuan Shin menunjuk tempat tidur dimana diatasnya terdapat gundukan yang Kibum yakini adalah Donghae, pemuda itu tertawa kecil lalu memandang tuan Shin.

“Oke aku tahu! Aku tidak akan mengganggu!” tuan Shin berucap keras semakin melebarkan senyum Kibum, dimana Donghae membuka selimutnya dan tertegun melihat Kibum yang juga menoleh padanya.

“Aku merindukanmu.” Kibum berjalan pelan mendekati Dnghae masih dengan senyum mengembang di bibir. “Huh?” balas Donghae terlihat tidak tertarik dan kembali bergelung dengan selimut.

“Kau tidak merindukanku hhmm?” Kibum bertanya seduktif juga memeluk Donghae yang masih berada di dalam selimut.

“Kau menggangguku saja!” amarah Donghae, membuka selimut kasar juga memperlihatkan wajah kesalnya pada Kibum yang mengerti jika pemuda itu masih marah padanya. Kibum tersenyum sebagai balasannya, membawa Donghae pada pelukannya juga berujar, “maafkan aku, kita akan pulang jika kau masih ingin.”

“Benarkah?” seperti lupa dengan segala kekesalannya, Donghae bertanya antusias yang disambut Kibum dengan anggukan pasti, “kau memaafkanku?”

“Iya!” keduanya kembali berpelukan mesra, “tapi,” Kibum menggantung ucapannya.

“Apa?”

“Bagaimana kalau kita liburan ke Jerman dulu?” Donghae mendengus mendengarnya, “ayolah sayang! Kita jalan-jalan dulu sebentar di London. Kudengar Jerman sangat indah.”

“Ish! Terserahmu sajalah!” Donghae menjawab ogah-ogahan meski ada senang juga, Jerman? Siapa yang tidak mau mengunjunginya? Pikir Donghae tersenyum ketika berada di pelukan Kibum, lagi.

~ The Final ~

Bagaimana?

Semoga kalian suka.

Related Posts :

Other Posts :

About agustinazimah

Nazimah Agustina | 24 Aug 1995 | East Borneo | Indonesia | SMTown Lovers | KiHae Shipper | Donghae Biased | Artworker

Posted on 11 Januari 2014, in Drabble and Oneshoot, Fanfiction and tagged , , , , , , , . Bookmark the permalink. 4 Komentar.

  1. Aku blm baca he is mine tapi Mau sekuel nya lagiii ayo dikeluarin ff yg mengendap di laptopmu >…< kkk

    Suka

  2. kimHaEna elfish

    Squelll mana squelll..#treakpaketoaaaa:)
    Kerennnn tapi gantunggg .hehhhee
    Kihae forever dah😉

    Suka

Bagaimana menurut anda?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: