Laporan Resmi Proses Kimia Terapan : Standarisasi Larutan

PERCOBAAN I

TITRASI ASAM BASA

 

  1. TUJUAN

Menentukan konsentrasi NaOH Sebenarnya yang digunakan untuk titrasi.

  1. DASAR TEORI

       2.1 Titrasi Asam Basa

                        Titrasi Asam Basa adalah suatu proses untuk menetkan kadar (PH) suatu larutan asam atau basa berdasarkan reaksi ntukan dengan asam basa. Kadar larutan asam dapat ditentukan dengan menggunakan larutan basa yang sudah diketahui kadarnya, dan sebaliknya kadar larutan basa dapat ditentukan dengan larutan asam yang sudah diketahui kadarnya. (Harjanto, 2007)

Titrasi asam basa disebut juga titrasi adisi alkalimetri. Kadar atau konsentrasi asam basa larutan dapat ditentukan dengan metode volumetri dengan teknik titrasi asam basa. Volumetri adalah teknik analisis kimia kuantitatif untuk menetapkan kadar sampel dengan pengukuran volume larutan yang terlibat reaksi berdasarkan kesetaraan kimia. Kesetaraan kimia ditetapkan melalui titik akhir titrasi yang diketahui dari perubahan warna indicator dan kadar sampel untuk ditetapkan melalui perhitungan berdasarkan persamaan reaksi. (Harjanto, 2007)

Titrasi asam basa merupakan teknik untuk menentukan konsentrasi larutan asam atau basa. Reaksi yang terjadi merupakan reaksi asam basa (netralisasi). Larutan yang kosentrasinya sudah diketahui disebut larutan baku. Titik ekuivalen adalah titik ketika asam dan basa tepat habis bereaksi dengan disertai perubahan warna indikatornya. Titik akhir titrasi adalah saat terjadinya perubahan warna indicator. Titrasi merupakan salah satu cara untuk menentukan konsentrasi larutan suatu zat dengan cara mereaksikan larutan tersebut dengan zat yang diketahui konsentrasinya secara tepat. Prinsip dasar titrasi asam basa didasarkan pada reaksi netralisasi asam basa. Titik ekuivalen pada titrasi asam basa adalah pada saat dimana sejumlah asam dinetralkan oleh sejumlah basa. Selama titrasi berlangsung terjadi perubahan pH. Pada titik ekuivalen ditentukan oleh sejumlah garam yang dihasilkan dari netralisasi asam basa. Indikator yang digunakan pada titrasi asam basa adalah yang memiliki rentang pH dimana titik ekuivalen berada. Pada umumnya titik ekuivalen tersebut sulit diamati, yang mudah diamati adalah titik akhir yang dapat terjadi sebelum atau sesudah titik ekuivalen tercapai. Titrasi harus dihentikan pada saat titik akhir titrasi dicapai yang ditandai dengan perubahan warna indikator. Titik akhir titrasi tidak selalu berimpit dengan titik ekuivalen . Dengan pemilihan indikator yang tepat, kita dapat memperkecil kesalahan titrasi. Pada titrasi asam kuat dan basa kuat, asam kuat dan basa kuat dalam air terurai dengan sempurna. Oleh karena itu, ion hidrogen dan ion hidroksida selama titrasi dapat langsung dihitung dari jumlah asam atau basa yang ditambahkan. Pada titik ekuivalen dari titrasi asam kuat dan basa kuat, pH larutan pada temperatur 25˚C sama dengan pH air yaitu sama dengan 7. (Samosir, 2013)

2.2 Asam

            Menurut Arthenius Asam Merupakan zat yang  melarut dan mengion didalam air menghasilkan proton atau H⁺. Kemudian menurut teori Bronsted dan Lawry asam adalah zat yang menghasilkan dan mendonorkan proton atau H⁺ dari  zat yang lain dan juga menurut lewis, asam merupakan zat yang  dapat menerima pasangan elektron. Sifat yang dimiliki asam ialah mengubah kertas lakmus menjadi merah, rasa masam ketika dilarutkan di dalam air, terasa meyengat keika disentuh beraksi hebat dengan kebanyakan logam sehingga korosi terhadap logam, bereaksi dengan basa sehingga meninmbulkan air dan senyawa garam. Asam terbagi menjadi beberapa bagian diantaranya adalah.  Asam kuat dan Asam lemah. Asam kuat adalah asam yang terionisasi dalam air secara sempurna sebagai contoh yaitu Hcl, H₂SO₄, dan sebagainya. Asam lemah adalah asam yang dalam air terionisasi tidak secara sempurna, contohnya yaitu CH₃COOH dan HCOOH. Contoh asam adalah asam cuka, asam sitrun dan sebagainya. (Mustafa, 2011)

2.3 Basa

            Basa merupakan zat yang melarut dan mengion dalam air menghasilkan ion hidrogsida  atau OH⁻. Kemudian menurut teori Bronsted dan Lawry Basa adalah zat yang dapat menerima protoh H⁺ dan zat lain dan juga menurut lewis basa yaiutu zat yang dapat mendonorkan pasangan elektron. Sifar dari basa adalah mengubah kertas lemus menjadi biru, bereaksi dengan asam menghasilkan air dan senyawa garam. (Mustafa, 2011)

Suatu indikator. Ddapat digolongkan sebagai asam lemah yang berbentuk asam antara basa konjugasinya berwarna, sehingga contohnya untuk indikator HIN yang bersifat asam, dan ketimbangan konsentrasinya dapat ditulis dengan sebagai berikut :

HIN è H⁺ + H⁻.

Hal-hal yang dapat menyebabkan indikator asam basa mengubah warna bila PH lingkungannya berubah antara lain :

  • Indikator asam basa = asam organik lemah atau basa organik. Jadi dalam larutan mengalami keseimbangan dengan ion.
  • Molekul-molekul indikator tersebut mempunyai warna yang berbeda-beda dengan ion-ionnya
  • Letakkan trayek PH dan PH tinggi atau di tengah-tengah, tergantung dari besar kecilnya Ka atau Kb Indikator yang bersangkutan.
  • Terjadi trayek merupakan akibat keseimbangan dank karena kemampuan mata untuk membedakan campuran warna-warni tersebut.

Tabel pembuatan PH larutan dan perbandingan bentuk warna suatu indikator

(Ka = 10⁻⁵)

PH Larutan Perbandingan [ HIn]=[In⁻] Warna
1

2

3

4

5

6

7

8

9

10000 : 1

1000 : 1

100 : 1

10 : 1

1 : 1

1 : 10

1 : 100

1 : 1000

1 : 10000

Merah

Merah

Merah

Merah

Merah

Jingga

Jingga

Kuning

Kuning

Trayek PH di tabel meliputi 2 satuan PH , sebab berdasarkan keseimbangan pengionnya terdapat :

            Ka = [ H⁺] [In⁻] atau PH – Pka + P [HIn] = [In⁻]

Pada batas-batas trayek → PH = Pka + 1

Pada batas-batas trayek → PH = Pka – 1

                                       ∆PH = 2 satuan PH

2.4 Titik Ekuivalen

             Titik ekivalen pada titrasi asam basa adalah pada saat dimana sejumlah asam tepat di netralkan oleh sejumlah basa. Selama titrasi berlangsung terjadi perubahan pH. pH pada titik equivalen ditentukan oleh sejumlah garam yang dihasilkan dari netralisaasi asam basa. Indikator yang digunakan pada titrasi asam basa adalah yang memiliki rentang pH dimana titik equivalen berada. Pada umumnya titik equivalen tersebut sulit untuk diamati, yang mudah dimatai adalah titik akhir yaang dapat terjadi sebelum atau sesudah titik equivalen tercapai. Titrasi harus dihentikan pada saat titik akhir titrasi tercapai, yang ditandai dengan perubahan warna indikator. Titik akhir titrasi tidak selalu berimpit dengan titik equivalen. Dengan pemilihan indikator yang tepat, kita dapat memperkecil kesalahan titrasi. Pada titrasi asam kuat dan basa kuat, asam lemah dan basa lemah dalam air akan terurau dengan sempurna. Oleh karena itu ion hidrogen dan ion hidroksida selama titrasi dapat langsung dihitung dari jumlah asam atau basa yang ditambahkan. Pada titik equivalen dari titrasi asam air, yaitu sama dengan 7. (Samosir, 2013)

III. ALAT DAN BAHAN

PROSEDUR KERJA

DATA PENGAMATAN

PEMBAHASAN

KESIMPULAN

DAFTAR PUSTAKA

DOWNLOAD FULL PDF >>>> http://www.slideshare.net/nazimahagustina/laporan-resmi-proses-kimia-terapan-titrasi-asam-basa-atau-standarisasi-larutan-60048063

About agustinazimah

Nazimah Agustina | 24 Aug 1995 | East Borneo | Indonesia | SMTown Lovers | KiHae Shipper | Donghae Biased | Artworker

Posted on 26 Maret 2016, in Petro & Oleo Kimia and tagged , , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Bagaimana menurut anda?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: