[Jaeyong Fanfic] Between Love and Ambition Chapter 2

“Kau bilang apa tadi?” Taeyong akhirnya bicara, sebenarnya dia sadar cara bicaranya pada Jaehyun itu tidak formal tapi karena atasannya ini menyebalkan jadi dia ogah-ogahan kalau harus berbicara formal, lagipula Jaehyun tidak keberatan memiliki pembicaraan santai dengan Taeyong.

“Yaaaa seperti kau mendesah-desah karena hujamanku?” Jaehyun berbisik mesum sambil mengedipkan mata yang dibalas Taeyong dengan helaan kasar.

“Mati saja kau!” Taeyong berdiri lalu berjalan meninggalkan ruangan atasannya sambil mendumel diiringi kekehan Jaehyun.

Tidak asik kan kalau Taeyong langsung mau menerima tawarannya? pikir Jaehyun.

.

jaeyong taeyong lee jung jaehyun nct bromance poster fanfic

Title : Between Love and Ambition

Author : Nazimah Agustina

Cast : Jung Jaehyun, Lee Taeyong, yang lain menysul

Pair : JaeYong (Jaehyun and Taeyong)

Genre : Romance and Drama

Rating : Teen tapi nyerempet nanti Mature kok, wakakaka

Summary : Jaehyun itu suka bermain-main dengan Taeyong/“Kau ingin pergi ke karaoke bersamaku? Aku punya suara yang indah lho.”-Jaehyun /“Kalau begitu desahanmu pasti bagus saat kutumbuk keras prostatmu itu.” -Taeyong/ tapi Taeyong itu angkuh sekali sampai Jehyun tidak bosan rasanya.

Warning! : Don’t like don’t read! If you read, don’t forget to review or coment.

.

Chapter 2

.

BLAAMMM!!!

“WOAH!” Jaehyun berteriak, ya lelaki itu kaget mendengar bantingan pintu dari Taeyong sebagai bentuk kekesalannya pada penawaran  Jaehyun tentang mendesah-desah atau apapun itu namanya.

“Dia itu benar-benar.” Jaehyun bersungut-sungut sembari mengelus dada, kemudian lelaki bermarga Jung itu mengambil remote lalu memencet tombol yang mengubah pemandangan dinding kantornya menjadi transparan, dia bisa melihat karyawannya bekerja di luar sana termasuk Taeyong yang masih menekuk wajah yang membuat  Jaehyun terkekeh.

Dia bisa melihat lelaki incarannya itu sedang menyapuhkan pensil pada kertas HVS dengan serius, sesekali meletakkan pensil itu diantara telinga bahkan menggigit benda tersebut. Jaehyun menghela nafas, Taeyong itu sebenarnya pekerja keras namun kurang bakat. Dia mengambil beberapa lembar sketsa Taeyong dari pinggir meja yang menurutnya biasa saja, sebenarnya Jaehyun ragu menyerahkan segala urusan pagelaran pada anak baru itu walaupun tidak bisa dibilang minim pengalaman juga sih. Jadi sebelum mendaftar pada perusahaan tempat  Jaehyun bekerja, rupanya Taeyong pernah menjadi asisten salah satu designer ternama dunia, entah apa yang membuat Taeyong mengundurkan diri dari pekerjaan sebagus itu lalu kembali ke Korea.

Taeyong melihat ke depan dan terpampang  Jaehyun yang melambaikan tangan dengan senyum menyebalkan, dia kembali menekuk wajah bahkan menutupinya dengan kertas-kertas putih itu demi tidak melihat Jaehyun yang tentu saja bersungut kesal dan memilih kembali memencet tombol pada remote untuk mengembalikan pemandangan tembok di ruangannya.

“Dasar bajingan sombong.” Jaehyun masih mendumel kemudian meremukkan kertas-kertas sketsa yang berakhir di tempat sampah.

.

Tit!

“Tuan Lee Sang Yoon ada disini.” Jaehyun tersenyum mendengar suara sekretarisnya yang melaporkan pamannya tengah berkunjung.

“Lain kali tanpa harus melapor padaku pun suruh saja dia masuk, oke?” Pesan Jaehyun masih dengan senyum tampan mengukir pada wajahnya.

.

“Sudah lama paman tidak berkunjung, mau minum apa?” Jaehyun menyapa ramah pada paman kesayangannya yang terlihat seperti kakak Jaehyun saking awet mudanya.

“Tidak perlu Woojae-ya. Aku kesini untuk mendiskusikan tentang brand ambasador kita.”

“Memangnya kenapa dengan mereka?” Jaehyun menyernyitkan dahi, perusahaan mereka tidak salah memilih bintang iklan jadi apa lagi?

“Bintang iklan nomor satu bulan ini dipegang BTS sedangkan EXO di urutan 3.”

“Memangnya siapa boygroup terpanas tahun ini? EXO. Fanbase yang selalu membuat situs penjualan down? EXO. Boygroup yang sukses bukan hanya Korea namun Asia?” Jaehyun bertanya berurut-turut.

“EXO?” Pamannya menjawab ragu.

“Lalu kenapa harus memusingkan peringkat bintang iklan utama? Apa paman ingin kita membuat pemotretan terbaru untuk EXO agar pamor iklan mereka naik? Tidak masalah. Aku juga berencana untuk membuat kesepakatan dengan SM Entertaiment agar  semua artis mereka merilis lagu musim dingin bersama-sama dengan memakai produk kita sebagai sponsor utama. Kalau perlu kita akan menyelenggarakan konser SMTown yang tiketnya didapatkan dengan membeli sejumlah produk kita dengan kisaran harga tertentu. Semakin banyak dan mahal yang dibeli, makin strategis tempat mereka menonton para idola, bagaimana?” Jaehyun berbicara panjang lebar tentang rencana-rencananya dengan menggunakan bintang iklan mereka untuk meningkatkan penjualan yang mengundang decak kagum sang paman.

Other Post :

“Woah aku tidak menyangka kau memikirkan hal sejauh itu. Tidak heran kau bersikeras mengontrak eksklusif semua artis SM dengan biaya tinggi kalau kau punya banyak inovasi seperti ini.” Lelaki dewasa itu mengangguk-anggukkan kepalanya puas terhadap pemikiran keponakannya yang masih terlihat berpikir.

“Tujuan aku melakukan itu tentunya untuk meningkatkan popularitas produk kita, SM Entertaiment memiliki artis yang sukses bukan hanya di Korea namun juga Asia dengan kepopuleran yang tidak akan surut dengan mudah, mengontrak mereka tidak akan membawa kita pada kekhawatiran berarti karena banyaknya idol baru yang yang menjamur. Kenapa merk dunia seperti Channel atau DIOR sangat populer? Karena mereka memakai selebriti yang bukan hanya populer namun memiliki imej positif sebagai icon.”  Jaehyun kembali berargumen dengan semangat, dia terlihat bangga dengan itu.

“Sistem marketing memang sangat penting namun kualitas dan model tetap yang terpenting.” Pamannya mengingatkan dengan senyum teduh yang membuat  Jaehyun gugup sesaat. Dia teringat pagelaran yang dijanjikannya pada Taeyong, akan fatal jika dia tidak menemukan solusi hal ini. Harga diri perusahaan dipertaruhkan jika pagelaran ini tidak sesuai harapan.

Jaehyun belum gila menurunkan kredibilitas perusahannya demi membawa Taeyong pada pelukannya. Dia harus mencari cara agar dapat memiliki Taeyong tanpa harus menempatkan perusahaan pada suasana canggung. Dia menggeleng-gelengkan kepalanya ketika terlintas pikiran untuk membodohi Taeyong,  Jaehyun itu bukan bajingan tak tahu malu yang akan mengingkari janji setelah mendapatkan yang dia mau.

Wajah serius Jaehyun berubah menjadi lesu, terlalu dini memikirkan pagelaran jika Taeyong-nya saja tidak mau menerima tawaran tidur bersama. Apa sih yang kau dipikirkan Jaehyun? Otaknya berteriak marah pada Jaehyun yang rasanya semakin lama semakin tidak fokus karena lelaki angkuh itu yang terus saja jual mahal padanya.

“Apa sih yang kau pikirkan?” Jaehyun terkejut dari lamunannya. Pamannya menatap khawatir pada dia yang hanya bisa dibalas senyuman kaku.

“Jangan terlalu keras pada dirimu sendiri. Aku tidak mau kau jatuh sakit karena terlalu keras bekerja Woojae-ya.”

“Bagaimana dengan Markeu? Seharusnya dia sudah akan menamatkan pendidikannya di Kanada kan?” Jaehyun mengalihkan topik pada sepupu dia, kalau dipikir-pikir sudah tujuh tahun anak itu meninggalkan Korea demi belajar di negeri orang.

“Ya benar, tapi aku ragu dia mau berlama-lama tinggal di Korea, dia sudah terikat sekali dengan Kanada.” Pamannya terlihat gusar sedang Jaehyun hanya bisa terkekeh pelan mendengar nada frustasi itu. Apa pula yang dilakukan sepupunya disana sampai enggan kembali ke Korea? Jaehyun hanya mampu menebak-nebak jawaban dalam pikirannya tanpa mengutarakan pertanyaan tersebut pada sang paman yang tidak lama kemudian berpamitan pergi.

.

.

Sudah pukul lima sore dan Taeyong masih sibuk membereskan barang-barangnya. Dia merasa benar-benar lelah hari ini dan menyalahkan direktur tercinta yang membuat harinya suram begini.

‘Dia ingin menjadikanku homo sialan rupanya. Maaf-maaf saja ya, tanpa membuka mulutpun para wanita mengantri minta kutiduri!’ Dia marah-marah tentunya dalam hati sembari membanting pelan barang-barangnya, dia lalu menghela nafas pelan berkali-kali agar bisa tenang.

Ini hari Jum’at dan malam ini waktunya pesta, memikirkannya saja sudah membuat Taeyong merinding saking antusiasnya. Tidak terasa sudah lima hari dia berkutat dengan sketsa-sketsa yang hingga saat inipun dia tidak puas dengan hasilnya.

.

.

Related Post :

.

“Tungguuuuuuu!” Taeyong berlari pada lift yang hampir tertutup. Saking cepatnya dia berlari, hampir saja dia tidak selamat dari pintu lift yang tertutup, akibatnya kini dia mendengar erangan tertahan dari orang yang dia tabrak.

“Maafkan aku! Maafkan aku!” dia sibuk meminta maaf sambil membungkuk sembilan puluh derajat, tidak memperhatikan sama sekali orang yang dia tabrak, dia hanya melihat sepatu mengkilat di bawah sana.

“Apa sih yang kau mau? Tidak bisa apa menunggu lift selanjutnya saja?” Taeyong mengangkat kepalanya untuk melihat korban tabrakannya dan seketika wajahnya berubah masam melihat Jaehyun yang masih meregangkan otot-ototnya yang tadi terbentur dinding lift.

“Atau mungkin kau tidak mau melewatkan kesempatan berduaan denganku di lift ini heum?” Bosnya ini lagi-lagi bertanya tidak masuk akal. Taeyong memilih diam saja karena mau dibilang berapa kalipun pada dasarnya Jaehyun itu bebal, dia akan tetap berbicara pada Taeyong tentang hal-hal mesum yang sesungguhnya hanya  ingin Taeyong dengar dari mulut wanita cantik nan seksi, bukan lelaki homo macam Jaehyun.

Jaehyun memperhatikan CCTV di dalam lift, “aku sudah sering berciuman dalam lift tapi aku belum pernah making love di lift, kau mau mencobanya hhmm?” Taeyong ikut melihat CCTV dan bergidik membayangkan operator diruang kontrol melihat perbuatan asusila itu dengan bebasnya jika memang terjadi.

“Kau sedang membayangkannya ya? mengaku sajalah!” Taeyong sudah bilangkan kalau Jaehyun itu bebal? Taeyong masih diam saja. Dia tidak mau membuang tenaganya untuk berdebat dengan Jaehyun, dia itu harus menjaga staminanya untuk memuaskan teman tidurnya nanti dan tentunya bukan atasan super menyebalkan yang sedari tadi terus berbicara omong kosong.

“Kau ingin pergi karaoke bersamaku? Aku punya suara yang indah lho.” Jaehyun kembali bersuara, Taeyong mendapat  ide cemerlang untuk membungkam mulut bosnya itu.

“Benarkah?” Jaehyun tersenyum bangga pada reaksi Taeyong yang bahkan menghadapkan diri padanya.

“Kalau begitu desahanmu pasti bagus saat kutumbuk keras prostatmu itu.” Senyuman bangga terhapus begitu saja dari bibir Jaehyun, berpindah pada Taeyong yang kini tersenyum tampan sembari pintu lift yang terbuka.

“Aku duluan ya bos!” Taeyong melambaikan tangan masih dengan senyum puas, meninggalkan Jaehyun yang masih syok.

Yeah! Rasakan itu Jung Jaehyun!

.

.

To Be Continue

Iklan

About agustinazimah

Nazimah Agustina | 24 Aug 1995 | East Borneo | Indonesia | SMTown Lovers | KiHae Shipper | Donghae Biased | Artworker

Posted on 26 Desember 2016, in Between Love and Ambition, Fanfiction and tagged , , , , , , , , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Bagaimana menurut anda?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: