[Jaeyong Fanfic] Between Love and Ambition Chapter 3

“Kau ingin pergi karaoke bersamaku? Aku punya suara yang indah lho.” Jaehyun kembali bersuara, Taeyong mendapat  ide cemerlang untuk membungkam mulut bosnya itu.

“Benarkah?” Jaehyun tersenyum bangga pada reaksi Taeyong yang bahkan menghadapkan diri padanya.

“Kalau begitu desahanmu pasti bagus saat kutumbuk keras prostatmu itu.” Senyuman bangga terhapus begitu saja dari bibir Jaehyun, berpindah pada Taeyong yang kini tersenyum tampan sembari pintu lift yang terbuka.

“Aku duluan ya bos!” Taeyong melambaikan tangan masih dengan senyum puas, meninggalkan Jaehyun yang masih syok.

Yeah! Rasakan itu Jung Jaehyun!

.

jaeyong taeyong lee jung jaehyun nct bromance poster fanfic

Title : Between Love and Ambition

Author : Nazimah Agustina

Main Cast : Jung Jaehyun & Lee Taeyong

Other Cast : Menyusul yaaa

Main Pair : JaeYong (Jaehyun and Taeyong)

Genre : Romance, Drama, bit humor

Disclaimer : saya Cuma pinjam nama member NCT kok ^^

Rating : Mature, yang dibawah 17th saya gak tanggung jawab kalau baca cahp ini.

Summary : [CHAP 3 IS UP!] Jaehyun itu suka bermain-main dengan Taeyong/“aku hakh lebih tua darimu hakh! Sopanlah padaku!” -Taeyong/“Aku bosmu hakh dan aku lebih besar darimu hakh!”-Jaehyun/tapi Taeyong itu angkuh sekali sampai tidak ada yang mau mengalah diantara keduanya. JaeYong! NCT!

Warning! : Don’t like don’t read! If you read, don’t forget to review or coment!

.

Chapter 3

.

 

Jaehyun memarkirkan mobil tepat di depan sebuah club malam elit di daerah Itaewon, yeah, Lee Taeyong itu bukan lelaki miskin yang  naif dan bekerja dengan sangat keras untuk sesuap nasi juga melunasi hutang orang tuanya yang menggunung. Sebaliknya Lee Taeyong adalah lelaki dengan arogansi tinggi yang hidup berkecukupan dilihat dari barang-barang bermerk yang melekat di tubuhnya, apalagi fakta dia pernah tinggal di luar negeri selama beberapa tahun membuatnya merasakan hidup hedonisme yang terbawa hingga saat dia kembali ke Korea Selatan, jadi Jaehyun tidak heran jika lelaki itu memilih tempat-tempat orang kaya seperti ini untuk mencari hiburan.

Lelaki bermarga Jung itu memperlihatkan kartu identitasnya ketika hendak masuk pada para penjaga yang kemudian membukakan pintu untuknya. Dia memasuki dengan tenang hingga di dengarnya suara gemerisik disko juga hentakan kaki para pedansa di dalamnya, matanya menjelajah mencari Taeyong hingga dilihatnya lelaki itu yang juga ada di lantai dansa, menari dengan lincah dengan seorang gadis bergaun merah yang cukup terbuka.

Jaehyun cukup terkejut mendapati dirinya hanya memandangi Taeyong yang asyik dengan dunianya bersama gadis bergaun merah sesekali bercumbu mesra, harusnya Jaehyun ikut menikmati suasana club ini, kenapa jadi hanya memandangi Taeyong dan pasangannya? Dia memesan beberapa whiskey mahal sesekali membalas kerlingan nakal beberapa wanita yang menghampirinya namun Jaehyun memilih menolak, dia hanya tidak mood untuk melakukannya.

Setelah menggak beberapa gelas, Jaehyun kembali memperhatikan tempat Taeyong berada tadi tapi nihil. Anak adam dan hawa itu tidak ada lagi di lantai dansa, apa mereka memesan kamar? Jaehyun menerka sembari terus mencari lelaki berjas biru gelap di penerangan remang-remang ini. Dilihatnya di pojokan muda-mudi yang bercumbu mesra kemudian menenggak beer bersama, Jaehyun menyerigai tipis lalu membawa minumannya ke tempat pasangan itu.

“Boleh aku bergabung?” Jaehyun mengedipkan sebelah mata pada gadis yang duduk di pangkuan Taeyong, menggoda si gadis yang tersipu malu. Taeyong menyadari itu dan kesal karena Jaehyun tengah mencoba merebut gadisnya.

“Jangan ganggu kami!” Taeyong menyahut ketus, dia meminum beernya lalu kembali memagut mesra bibir si gadis  tepat di hadapan Jaehyun yang membalasnya dengan tatapan melecehkan.

“Kau memlih gadis yang sangat cantik malam ini, Lee.” Jaehyun membujuk rayu, memberi senyuman super memikat pada gadis yang kini menunduk dalam, tak lupa Jaehyun menawarkan tangannya yang disambut oleh si gadis yang berdiri dari pangkuan Taeyong.

“Apa yang kau lakukan?” Taeyong mencekal lengan gadisnya yang hendak mengikuti Jaehyun, menatap benci pada bosnya yang tetap memandangnya dengan melecehkan, “maaf Lee, gadismu lebih memilih bersamaku. Carilah gadis lain, oke.” Jaehyun melepaskan tangan Taeyong dari gadisnya lalu membawanya pergi, Taeyong yang memang tidak suka menjadi pusat perhatianpun memilih membiarkan saja, dia tidak mau ditendang dari tempat ini karena memukuli Jaehyun, belum lagi dia pasti akan mendapat masalah karena Jaehyun tetap atasannya di kantor.

.

Related Post :

.

“Sendirian saja?” Taeyong mengangkat kepalanya yang sudah terasa pusing, dahinya menyernyit heran menatap jaehyun tepat di depannya. Taeyong menggeleng-gelengkan kepala ke kanan dan ke kiri karena Jaehyun jadi ada tiga di matanya, saat sudah fokus itu benar-benar Jaehyun yang tersenyum memikat padanya barulah dia buka suara, “kenapa lagi kau kesini? Mana gadis yang kau rebut dariku tadi?” ujarnya parau, kemudian kepalanya kembali dia rebahkan pada meja.

“Aku sudah selesai dengannya, kau cemburu huh?” Jaehyun meminum beer pada botol milik Taeyong yang berseru protes, “itu milikku!”

.

“Sepertinya kau sudah sangat mabuk, Lee. Sebaiknya kau menginap di apartementku yang lebih dekat dari sini dibanding apartementmu.” Jaehyun memperhatikan Taeyong yang masih menenggak minuman keras. Taeyong menyerigai kecil lalu menyahut, “untuk apa aku kesana? Tidur denganmu? Tidak akan!”

“Kenapa? Lagipula aku bukan gay sepenuhnya, aku tidak pernah meniduri lelaki omong-omong. Kau adalah pria pertama yang menarik perhatianku.” Taeyong menatapnya jengah, apa Jaehyun pikir dia akan luluh dengan kalimat seperti itu? Mati saja sana!

“Sayangnya aku tidak tertarik padamu Jung.” Jaehyun hanya menatap malas pada Taeyong. Dia teringat tentang Taeyong pernah tinggal diluar negeri, “omong-omong kenapa kau mengundurkan diri dari asisten designer Johnny Seo? Saat ini dia designer yang naik daun, apa kau menyesalinya?”

Jaehyun semakin penasaran karena lelaki di depannya mendadak diam denngan tatapan kosong, dia menghela lalu menjawab, “si brengsek itu ya, dia selalu memarahiku tentang ini dan itu, aku tidak masalah dengan itu sih karena aku sendiri yang salah, dia juga sering memuji pekerjaanku.”

“Lalu kenapa berhenti? Pekerjaanmu sudah bagus sekali, banyak yang ingin menjadi asistennya.”

“Menjadi pegawainya berarti harus melayani kekasih pria ataupun wanitanya. Sudah tak terhitung aku memandikan pria dan wanita yang menjadi pasangan semalamnya, memilihkan mereka pakaian, mendadani mereka, bahkan menyiapkan kamar dengan dekorasi seindah mungkin untuk mereka. Tapi…” Taeyong kembali meminum alkohol yang disodorkan Jaehyun yang semakin merasa tertarik dengan cerita Taeyong. Dia memang mau membuat Taeyong lebih mabuk lagi agar lelaki itu tidak banyak protes saat ditanya ini dan itu.

“Tapi?”

“Dia tetaplah bajingan tak punya hati! Aku mengabdikan diri padanya berharap dia akan membalas perasaanku. Tapi apa? Dia malah menolakku saat aku menyatakan cinta dan ingin menikahi pria yang baru dikenalnya dengan alasan cinta pada pandangan pertama! Lalu bagaimana denganku yang sabar menunggunya selama tiga tahun hah?”

APA? Jaehyun terdiam selama beberapa detik, jadi Taeyong itu tidak sepenuhnya straight? Dia membenci homo karena trauma, begitu? Jadi hubungan dia dengan banyak wanita untuk mengobati rasa sakit di hatinya?

“Begitu ya, padahal perusahaan kita ingin bekerja sama dengannya karena bagaimanapun dia memiliki darah Korea, dia pasti akan mempertimbangkan perusahaan kita untuk pagelaran yang akan datang. Sayang sekali kalau kau harus bersembunyi sementara waktu agar tidak bertemu dengannya.” Jaehyun pura-pura prihatin, kini Taeyong yang terdiam mencerna omongan Jaehyun.

“Sialan!” Jaehyun terbahak mendengar respon Taeyong yang terlihat sekali frustasinya.

.

.

“Ssshh…” Taeyong mendesis berbahaya pada Jaehyun yang tidak peduli, lelaki itu terus saja menyesap leher belakang Taeyong kuat, sesekali mengulum daun telinga lelaki yang lebih tua dengan sensual.

“Stop it! Please stop!” taeyong meraung, melepaskan diri dari Jaehyun yang kembali menariknya untuk bercumbu panas. Kepalanya sudah sangat pusing karena pengaruh alkohol ditambah perutnya yang terasa mual karena perasaan menggelitik aneh tiap Jaehyun menyentuh tubuhnya. Dia tidak tahan! Tidak tahan dengan hasrat yang meminta lebih dan lebih. Dia dengan keadaan kacau sudah berada di pangkuan Jaehyun yang memberi kecupan-kecupan kilat pada wajahnya yang memerah sempurna.

“Ah… Ah… Ah…” Taeyong mendesah keras saat kejantanannya dibawah sana dipijat oleh tangan besar Jaehyun, kepalanya terkulai pada bahu lelaki yang lebih muda dengan mata merem-melek merasakan sensasi nikmat pada pusat tubuhnya.

“Selesaikan ah ini dengan cepat ah, oke?” Jaehyun menyerigai senang karena penawaran Taeyong di bahunya. Taeyong tahu sudah sangat terlambat menghentikan semua ini, dia sudah terjebak oleh Jaehyun yang berhasil membawanya masuk ke dalam apartement dan kamarnya yang terkunci dimana kuncinya sudah tergeletak di bawah ranjang sana. Tidak ada gunanya berontak disaat keadaan yang terlanjur tidak bisa dia kendalikan, melupakan harga diri adalah pilihan terbaik disaat dia sendiri menginginkan sentuhan Jaehyun yang terlanjur membuainya.

Taeyong tidak lagi pasif, dia bergerak seagresif mungkin untuk mendominasi Jaehyun yang tentu saja tidak mau kalah. Keduanya saling menindih, berguling, berusaha menguasai ciuman panas dengan tetesan air liur menghujani rahang tegas keduanya.

Taeyong melepas cumbuannya pada Jaehyun yang juga menarik nafasnya banyak-banyak, “aku hakh lebih tua darimu hakh! Sopanlah padaku!” Jaehyun memberikan tatapan mencela pada Taeyong yang menyemburnya begitu.

“Aku bosmu hakh dan aku lebih besar darimu hakh!” Jaehyun membalas sengit, Taeyong kembali memunggunginya dengan wajah merah menahan nafsu dan kesal. Bagaimanapun juga ini pengalaman pertama bagi Jaehyun maupun Taeyong, kedua anak adam itu sama keras kepalanya, sama-sama mementingkan ego diri sendiri yang setinggi langit itu.

Jaehyun sebenarnya kaget, Taeyong itu terlihat lebih kecil dan lemah dibanding dirinya tapi keangkuhan lelaki itulah masalahnya, dia mengeluarkan semua kekuatan lelakinya untuk melawan Jaehyun yang masih bersikap lembut tadi. Sedang Taeyong tidak mau bersikap sebagai orang yang didominasi karena ia pernah sangat berharap pada Johnny dahulu dan akhirnya dikecewakan, di masa lalu Taeyong selalu berpenampilan dan bersikap semanis yang ia bisa namun kepahitanlah yang didapatnya, jadi jangan harap Jaehyun dapat menguasainya dengan mudah!

“Baik, taklukkan aku kalau kau bisa!” Jaehyun menggeram rendah, dia sudah memutuskan untuk tidak lagi bersikap baik pada Taeyong yang berbalik melihatnya penasaran, “hhhmmpph” dia memukul bahu Jaehyun kuat karena tidak siap dengan ciuman menuntut dari Jaehyun.

Other Post :

Taeyong membalas ciuman Jaehyun pada akhirnya, saling membelit lidah yang baik Taeyong dan Jaehyun merasa pegal sekaligus kesal karena tidak ada yang mau mengalah hingga Jaehyun berhasil menindih karyawannya yang tersedak liurnya sendiri, moment ini dimanfaatkan Jaehyun untuk kembali mencumbu Taeyong, cepat-cepat lelaki yang lebih muda memasukkan lidahnya pada mulut Taeyong yang melotot kaget padanya. Belum berhasil mengalahkan Jaehyun pada ciuman, Taeyong kembali dibuat gelagapan pada tangan nakal atasannya yang kembali menggenggam kejantanannya kuat lalu mulai mengurutnya pelan.

Taeyong benar-benar mengutuk Jaehyun dalam pikirannya, lihat saja apa yang akan Taeyong lakukan setelah ini selesai. Namun itu hanya pemikirannya, nyatanya lelaki yang lebih kecil mulai menikmati permainan Jaehyun yang kian melembut, dia mulai merileks-kan tubuhnya yang tadi menegang, ternyata atasannya ini jago juga di ranjang, pujinya dalam pikir kemudian.

“Bagaimana?” Jaehyun melepaskan ciumannya setelah dia merasa Taeyong mulai tenang,  menatap karyawannya yang sibuk mendesah-desah karena pusat tubuhnya yang dipijat Jaehyun dengan tertatur.

“Lebih ah cepat ah.” Jaehyun menaikkan sebelah alisnya menatap bawahannya yang kini sudah tidak berdaya dihadapannya, menatap tangan besarnya yang kini mengurut pelan milik Taeyong yang mulai mengeluarkan cairan. Disentilnya pelan kejantanan Taeyong yang disambut empunya dengan desisan panjang, “itu sakit bodoh!” umpatnya yang membuat Jaehyun mengalun tawa.

.

Taeyong sudah tidak tahu harus berkata apa lagi, alkohol sialan yang membuat kesadarannya makin menghilang ia salahkan karena kini Jaehyun benar-benar menguasai dirinya. Dia itu malu sekali saat bosnya memposisikan tubuhnya sesuka hati, seperti saat ini tubuh telanjangnya telah menungging tepat di depan Jaehyun yang tampak begitu besar saat Taeyong mengintip, belum lagi dia sudah lelah karena marah-marah sedari tadi sedangkan Jaehyun yang hanya menjadi objek kemarahannya bersikap santai yang membuat lelaki lebih muda mendapat keuntungan besar saat ini.

“Pelan-pelan bodoh!” Taeyong berteriak kalap saat kejantanan Jaehyun mulai memasuki lubang analnya yang sumpah sakit sekali! Jaehyun hanya memandang bawahannya itu kesal namun tetap berkonsentrasi pada kegiatannya, berusaha selembut mungkin agar Taeyong tidak lagi memarahinya, membuat telinganya sakit saja.

“Ssshh..” Jaehyun menggeram rendah merasakan rektrum Taeyong yang membungkus miliknya kuat sedang Taeyong terus meringis, lelaki yang lebih tua menjambak rambutnya sendiri untuk melampiaskan kesakitan pada tubuh bagian belakangnya yang kini dilecehkan oleh Jaehyun.

“Akh… akh… akh…” keduanya mendesah keras saat milik Jaehyun sudah tertanam sempurna di tubuh Taeyong yang sejujurnya merasa pegal sekali dengan posisi menungging ini. Dia juga mau tidur karena pusing kepalanya tapi mana bisa dia tidur kalau keadaannya seperti ini.

“Aku… bergerak… oke?” Jaehyun berbisik dengan gugup, Taeyong menjawab dengan anggukan lemah. Keringat sebesar biji jagung menuruni pelipis keduanya yang gemetaran saat Jaehyun mulai menggerakkan kejantanannya sedangkan Taeyong menggerakkan tubuhnya pada arah yang berlawanan, ingat kalau Taeyong itu hanya ingin cepat tidur bukan ingin memuaskan Jaehyun juga? Jangan sampai lupa!

“Akh! Akh! Akh!” Taeyong terus mendesah-desah keras seiring semakin kuatnya Jaehyun menumbuk prostatnya. Kepalanya semakin pusing namun dia menyukainya, perutnya terasa mual namun tidak terasa mengganggu, malah Taeyong meraba kejantanannya sendiri yang kurang belaian, kedua tangan Jaehyun sibuk memegangi pinggul Taeyong karena dia tahu lelaki itu pasti sudah roboh jika dia melepasnya. Keduanya mendesah panjang saat cairan ejakulasi menyembur di kejantanan masing-masing dimana Jaehyun pun dibuat tak berdaya karena lelah, bagaimanapun juga Taeyong itu laki-laki dan memuaskan laki-laki itu lebih menyusahkan dari memuaskan wanita!

.

Keduanya masih bernafas tidak teratur saat kegiatan seksual tadi selesai. Taeyong yang daritadi ingin tidur langsung saja menutup mata dengan sebelah lengannya, tidak peduli dengan bau keringat dan sperma dimana-mana yang sesungguhnya begitu menyengat penciuman.

Jaehyun bangun untuk mengambil selimut yang sengaja ia lempar ke lantai agar tidak mengenai cairan sperma dan keringatnya dan Taeyong, ditutupinya tubuh lelaki bermarga Lee itu yang dengan refleks tangannya menaikkan selimut itu ke dadanya.  Jaehyun berusaha keras sampai sejauh ini untuk memiliki Taeyong jadi dia ingin memberikan kesan baik padanya setidaknya untuk malam ini.

.

.

Taeyong terbangun keesokan paginya dengan berantakan, kepalanya berat sekali namun dia tidak bisa tidak bangun saat cahaya matahari mengganggu tidurnya. Dilihatnya Jaehyun yang menyemprotkan pengharum ruangan karena lelaki itu merasa mual mencium kamarnya sendiri saat bangun tadi.

“Apa yang kau lakukan hah?” Taeyong menatap Jaehyun horror saat bosnya itu menarik tubuhnya untuk dicium, bedanya ciuman Jaehyun ini sekedar ciuman kilat yang ringan namun tetap mampu membuat wajah Taeyong memerah malu.

Jaehyun tersenyum lalu mengecup bibir Taeyong lebih lama kemudian berseru, “selamat pagi!”

“Pagi kepalamu!” Taeyong beringsut masih dengan selimut dimana Jaehyun kembali menarik tubuhnya lalu menciumi lehernya kilat dan ringan, membuat Taeyong keheranan karena tahu betul jika bosnya ini penasaran padanya, untuk itu Jaehyun selalu mengganggunya dengan obrolan mesum tidak kenal tempat. Lalu sekarang apa?

“Pagelaran itu milikmu.” Jaehyun menggumam tidak lupa meniup telinga kiri Taeyong kemudian terkekeh senang.

“Aku tidak mau, aku masih belum pantas menangani acara sebesar itu jadi aku akan melupakan yang semalam asal kau mau melepasku sekarang. Aku tahu kau hanya ingin pamer padaku, sudah puaskan? Jadi bisakah kita membuka lembaran baru dari awal? Seperti bos dan karyawan sewajarnya, bukan hubungan seperti ini.” Taeyong mengeluarkan isi kepalanya pada Jaehyun yang tidak berkata apapun namun lelaki yang lebih muda mendekapnya lebih erat.

“Bagaimana kalau kutahan kau disini sampai hari senin?” Taeyong tahu jaehyun itu bajingan gila tapi saat ini bocah itu benar-benar sudah kehilangan akal! Taeyong yang sudah kesal sampai ubun-ubun menggeplak kepala Jaehyun keras agar lelaki itu sadar jika hari ini Sabtu.

Tiga hari bersama Jaehyun di kamarnya? Tidak, terima kasih!

 

TO BE CONTINUE

Iklan

About agustinazimah

Nazimah Agustina | 24 Aug 1995 | East Borneo | Indonesia | SMTown Lovers | KiHae Shipper | Donghae Biased | Artworker

Posted on 26 Desember 2016, in Between Love and Ambition, Fanfiction and tagged , , , , , , , , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Bagaimana menurut anda?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: