[Jaeyong Fanfic] Between Love and Ambition Chapter 4

“Apa yang kau lakukan hah?” Taeyong menatap Jaehyun horror saat bosnya itu menarik tubuhnya untuk dicium, bedanya ciuman Jaehyun ini sekedar ciuman kilat yang ringan namun tetap mampu membuat wajah Taeyong memerah malu.

Jaehyun tersenyum lalu mengecup bibir Taeyong lebih lama kemudian berseru, “selamat pagi!”

“Pagi kepalamu!” Taeyong beringsut masih dengan selimut dimana Jaehyun kembali menarik tubuhnya lalu menciumi lehernya kilat dan ringan, membuat Taeyong keheranan karena tahu betul jika bosnya ini penasaran padanya, untuk itu Jaehyun selalu mengganggunya dengan obrolan mesum tidak kenal tempat. Lalu sekarang apa?

“Pagelaran itu milikmu.” Jaehyun menggumam tidak lupa meniup telinga kiri Taeyong kemudian terkekeh senang.

“Aku tidak mau, aku masih belum pantas menangani acara sebesar itu jadi aku akan melupakan yang semalam asal kau mau melepasku sekarang. Aku tahu kau hanya ingin pamer padaku, sudah puaskan? Jadi bisakah kita membuka lembaran baru dari awal? Seperti bos dan karyawan sewajarnya, bukan hubungan seperti ini.” Taeyong mengeluarkan isi kepalanya pada Jaehyun yang tidak berkata apapun namun lelaki yang lebih muda mendekapnya lebih erat.

“Bagaimana kalau kutahan kau disini sampai hari senin?” Taeyong tahu jaehyun itu bajingan gila tapi saat ini bocah itu benar-benar sudah kehilangan akal! Taeyong yang sudah kesal sampai ubun-ubun menggeplak kepala Jaehyun keras agar lelaki itu sadar jika hari ini Sabtu.

Tiga hari bersama Jaehyun di kamarnya? Tidak, terima kasih!

jaeyong taeyong lee jung jaehyun nct bromance poster fanfic

.

Title : Between Love and Ambition

Author : Nazimah Agustina

Main Cast : Jung Jaehyun & Lee Taeyong

Other Cast : Mark Lee, yang lain menyusul yaaa

Main Pair : JaeYong (Jaehyun and Taeyong)

Genre : Romance, Drama, bit humor

Disclaimer : saya Cuma pinjam nama member NCT kok ^^

Rating : Mature

Summary : [CHAP 4 IS UP!] Jaehyun itu suka bermain-main dengan Taeyong/“aku tidak tahu kau sangat suka nonton TV, harusnya semalam aku merekam aktivitas kita-“-Jaehyun/“Kau gila ya?”-Taeyong/“Aku tidak tahu kau bisa tidur dengan laki-laki, Jae?”-Mark/tapi Taeyong itu angkuh sekali sampai tidak ada yang mau mengalah diantara keduanya. JaeYong! NCT!

Warning! : Don’t like don’t read! If you read, don’t forget to review or coment!

.

Chapter 4

.

Jaehyun menyilangkan kedua lengan guna menutupi kepalanya dari pukulan keras Taeyong yang begitu jengkel sejak beberapa saat lalu. Karena merasa capek, Taeyongpun mengakhiri acara hajar-menghajar Jaehyun dengan pekikan lalu bernafas perlahan untuk menenangkan diri.

“Aku mau tidur lagi, jangan ganggu aku!” pria yang lebih tua berujar galak pada Jaehyun yang mencibir, “kau tidak lapar?”

“Selera makanku hilang melihatmu!” Taeyong membalas dari dalam selimut. Jaehyun yang tidak puas dengan jawaban Taeyong kembali hendak menggoda laki-laki itu tapi tidak jadi karena Taeyong membuka selimutnya menatap Jaehyun tajam seolah lelaki itu tau apa yang akan Jaehyun lakukan.

Dengan kikuk Jaehyun meninggalkan kasurnya, memasuki kamar mandi juga bertanya, “mau mandi bersamaku?” setelahnya dia cepat-cepat menutup pintu sebelum ponselnya yang dilempar Taeyong mengenai kepala. Sepertinya ponsel itu tidak bisa lagi dia digunakan setelah ini.

“Tidak menggunakan mesin cuci?” Jaehyun sudah rapi dengan baju santainya, menatap Taeyong yang kini tengah mencuci selimut, alas tidur, dan sarung bantal guling di kamarnya semalam. Dia menyernyit heran pada Taeyong yang memilih mencuci menggunakan tangan dan air hangat untuk merendam cucian padahal disampingnya ada mesin cuci.

“Tidak perlu. Aku biasa pakai tangan kok. Kau pergilah, aku malas melihatmu.” Pria bermarga Lee menyahut ketus tanpa menoleh pada orang lain di tempat ini, tangannya masih sibuk mengucek sarung bantal. Rencananya Taeyong akan pulang setelah pakaiannya kering, mungkin sore nanti.

Jaehyun masih memperhatikan Taeyong yang memakai sweater dan boxer miliknya dari belakang, dia kemudian memutuskan pergi ke dapur untuk memasak sarapan mereka berdua. Orang bilang cara menarik perhatian paling ampuh itu melalui perutnya, siapa tahu Taeyong bisa bersikap lebih baik padanya karena menyukai makanan olahan Jaehyun kan?

Hampir setengah jam berlalu, kini Taeyong tinggal menaruh cuciannya pada pengering lalu menggantungnya, untuk urusan melipat biarlah Jaehyun yang mengurusnya kan itu milik Jaehyun.

“Akh Jung sialan!” makinya pelan merasakan sakit pada bokongnya, saat ini dia merasa seperti kakek tua renta yang sakit pinggang karena perbuatan biadab Jaehyun. Indra penciumannya menangkap aroma sedap dari dapur, dilihatnya Jaehyun yang kini berkecimpung bersama kompor yang mengundang decakan kagum Taeyong.

“Kukira orang sepertimu tidak bisa ke dapur, Jung.” Sapanya mendekati Jaehyun lalu mengambil piring dan mangkuk yang memang tengah dibutuhkan Jaehyun, lelaki itu mengkode Taeyong dengan tangan sebelumnya omong-omong.

“Aku menghabiskan masa remaja di New York jadi mau tidak mau harus terbiasa dengan dapur, Lee.” Jawabnya kalem lalu mematikan kedua kompor kemudian memindahkan masakannya ke piring dan mangkuk yang diambil Taeyong. Taeyong membiarkan saja saat Jaehyun mengambilkannya nasi, sebenarnya dia lapar juga apalagi kini Jaehyun menghidangkannya beberapa makanan sederhana namun menggugah selera.

“Taeyong-ah?”

“Biarkan aku makan dengan tenang!” Jaehyun menggerutu jengkel mendengarnya, dia kan Cuma mau mengobrol tapi pria di depannya bersikap apatis sekali padanya, namun Jaehyun memutuskan untuk kembali menikmati sarapannya hingga mengundang perhatian Taeyong karena Jaehyun itu makan dengan sangat baik, kalau tidak mau Taeyong sebut dengan rakus sih, ckckck.

Related Post :

“Kenapa menatapku seperti itu?”

“Makanmu banyak sekali.”

“Kau saja yang makan terlalu sedikit, lihatlah tubuh kurusmu itu!” Jaehyun menyahut sengit pada Taeyong yang hanya mendengus. Pria yang lebih tua lalu mengambil apel dan langsung menggigitnya.

“Jadilah milikku dan aku akan menjamin kehidupanmu.” Pria yang lebih muda berucap dengan santai sembari terus memperhatikan mulut Taeyong yang menggigit apel di tangannya.

“Uhuk! Kau bilang apa tadi?” Taeyong sedikit tersedak namun dengan cepat menguasai diri, mempertanyakan perkataan Jaehyun yang mungkin saja salah dengar.

“Jadilah milikku.” Jaehyun mengulang masih dengan santai, tersenyum tipis lalu memangku tangan pada Taeyong yang jengah pada bosnya ini

“Dengan atau tanpamu juga hidupku sudah terjamin, jadi maaf saja ya.” jawabnya enteng, menghabiskan apel lalu beranjak begitu saja setelah membawa piring bekas sarapan keduanya ke westafel. Jaehyun mengekorinya, memperhatikan kegiatan cuci piring disamping Taeyong dalam diam.

“Aku serius.” Ujarnya memecah kesunyian yang tentunya dibalas Taeyong dengan, “Aku lebih serius.” Dan hening setelahnya, Taeyong agak bingung juga namun masa bodoh pada Jaehyun yang tidak menjawab lagi. Setelah menaruh piring, mangkuk dan gelas ke tempat semula, Taeyong sudah disambar bibirnya oleh Jaehyun yang mengecupnya lembut.

“Sudahlah, aku mau pulang.” Taeyong berkata sesaat setelah memutus ciuman keduanya, dia menarik diri namun Jaehyun tidak mengizinkan, “sudah kubilang kau disini sampai hari Senin.”

“Kau gila ya?” ejek Taeyong yang kini telah benar-benar terbebas dari Jaehyun, dia pergi ke kamar laki-laki itu bermaksud memakai pakaiannya untuk pulang.

“Mau kau apakan lemariku huh?”

“Aku pakai bajumu dulu, nanti kuganti.”

“Kau tidak bisa keluar darisini tanpa izin dariku.”

“Karena aku milikmu begitu? Apa aku satu-satunya dalam hidupmu? Bagaimana dengan keluargamu? Apa orang tuamu akan menerima dengan lapang dada jika tahu anak mereka berbeda begitu saja hah?” Taeyong menyemburnya dengan emosi, dia tahu laki-laki di depannya lebih muda darinya tapi Jaehyun bahkan sudah dua puluh enam tahun, pada usia itu dia pasti sudah bisa memikirkan segala resiko dari ucapannya barusan.

“Kau bahkan tidak bisa menjawabnya.” Baru saja Taeyong hendak melanjutkan kegiatan memilih pakaian Jaehyun yang akan cocok dia kenakan namun Jaehyun sudah menutup pintu lemarinya, “tinggallah untuk sementara, kau bisa melakukan apapun disini.” Ucapnya serius pada Taeyong yang menghela nafas, ini akan jadi yang hari panjang rupanya, ujarnya dalam hati.

Taeyong berlalu begitu saja menuju kasur, bersantai disana sembari menyalakan televisi dan mencari channel favoritnya. Membiarkan saat Jaehyun sudah berada disampingnya, lelaki itu menyernyit heran saat Taeyong berhenti pada kartun Spongebob Squarepants.

“Oh Lee, aku tidak tahu orang tua sepertimu menyukai hal kekanakan seperti ini.” Ujarnya sarkas tapi Taeyong tetap tidak menanggapi, lelaki itu terlihat sudah tenggelam pada tontonan didepannya. Tidak ada perlawanan berarti saat Jaehyun kembali menggodanya, memeluknya dari belakang dengan bisikan-bisikan aneh hingga, “aku tidak tahu kau sangat suka nonton TV, harusnya semalam aku merekam aktivitas kita-“

“DIAMLAH JUNG!” cukup sudah Taeyong bersikap baik pada bosnya ini! Dengan kalap dia memukulkan bantal pada Jaehyun yang merintih kesakitan namun juga tertawa di sela-selanya.

“Kau mau mati hah!” Taeyong masih bersemangat memukuli bahkan sesekali menjambak kepala Jaehyun karena sudah kelewat jengkel hingga Jaehyun berhasil mengunci Taeyong yang kini tidak bisa bergerak.

“Lepaskan aku Juuuunnng!”

“Tidak mau! Kau akan memukuliku lagi nanti.”

“Aku tidak akan menghajarmu kalau kau tidak menyebalkan tahu! Lepaskan aku sekarang atau kau mati di tanganku!” Jaehyun melepaskan kunciannya pada tubuh Taeyong, laki-laki itu menatap penuh dendam sedangkan Jaehyun hanya tersenyum polos mempersilakan Taeyong melanjutkan menonton tv.

Taeyong menurut saja, memfokuskan diri pada channel favoritnya meskipun Jaehyun tetap usil padanya namun tidak dia tanggapi, dia malah menyamankan posisi dari dekapan Jaehyun, rasanya nyaman juga dipeluk seperti ini saat menonton tv, batinnya.

“ahahahahha…” tawa mengalun lembut dari bibir Taeyong yang disukai Jaehyun, bagaimanapun juga lelaki itu lebih sering memaki dan meneriakinya jadi saat ini Jaehyun merasa gemas sendiri ketika tubuhnya ikut bergetar karena tawa lelaki itu. Dia mengecup ringan kedua pipi Taeyong, terus-terusan begitu hingga Taeyong jengah sendiri, memperingatkannya yang tentu tidak mempan.

“Berhentilah menggangguku Jung.” Keluhnya hendak turun dari ranjang tapi dicegah oleh Jaehyun.

“Lanjutkan saja tontonanmu, jangan pedulikan aku.” Jaehyun berujar kalem, Taeyong mendecih sinis namun mengikutinya juga, tidak begitu lama ketika Jaehyun kembali menyatukan bibir keduanya dalam ciuman menuntut.

“Ah! Ah! Ah! Aahhhhhh…” Taeyong mendongakkan kepalanya, melihat Jaehyun yang kini tangannya penuh sperma miliknya yang baru saja dia keluarkan. Mengumpat pelan saat melihat sendiri dirinya tidak mengenakan bawahan apapun karena tangan lihai bosnya itu.

“Kau mengotori kasurku Lee, jadi jangan harap kau bisa keluar dari tempat ini dengan mudah.” Harusnya sedari awal Taeyong menjaga jarak dari Jaehyun, lelaki ini sungguh berbahaya bagi orientasi seksualnya yang dengan susah payah dia kembalikan, bukan tidak mungkin dia menjadi gay lagi karena lelaki sialan ini. Dia memang menyukai Johnny dulu tapi itukan hanya perasaan sepihak, mungkin Johnny itu terlalu profesional pada pekerjaan hingga tidak menambahkan dirinya yang merupakan pegawai menjadi salah satu teman tidurnya, padahal Taeyong itu suka mengkode atasannya dan sekarang Taeyong menyesal akan hal itu karena pada saat ini malah bosnya yang baru yang suka menggodanya, ckck.

Belum sempat Taeyong bernafas lega setelah ejakulasi pertamanya, Jaehyun terburu-buru membalik dan menduduki tubuhnya yang sontak saja mengundang teriakan taeyong yang tidak terima.

“AKH! ITU SAKIT BODOH!” umpatan keluar dari mulut Taeyong sedari tadi, pantatnya terasa terbakar saat penis milik atasannya ini memaksa masuk, belum reda sakit akibat semalam dan bos kurang ajarnya ini kembali melakukan pelecehan seperti ini padanya. Taeyong mengambil bantal untuk menutupi kepalanya dengan mulut yang mengeluarkan desahan memalukan tiada henti, dia itu malu sekali karena ini masih siang tapi sudah dilecehkan oleh Jaehyun seperti ini, jika semalam dia bisa menyalahkan alkohol yang dua botol dia tenggak sendiri maka sekarang ini dia seratus persen sadar dan bisa dibuat terlena begitu mudahnya dengan Jaehyun.

Taeyong merinding luar biasa saat mendengar geraman rendah Jaehyun tepat di telinganya juga sperma lelaki yang lebih muda memenuhi lubang analnya, dia menoleh menatap Jaehyun yang memejamkan matanya menikmati ejakulasi, katakan Taeyong gila atau apapun itu karena dia malah menyeka rambut yang menutupi dahi Jaehyun yang membuat lelaki itu membuka matanya dan menatapnya balik dengan intens.

Pria bermarga Lee mengakhiri tatapan mereka dengan kikuk, dia hendak bangkit namun Jaehyun menahan pinggangnya dan kembali mengajaknya bercumbu panas. Taeyong membalas saja saat lelaki itu terus menyesap bibirnya dengan posisi Taeyong yang menindih Jaehyun hingga Taeyong mendadak menjauhkan tubuhnya saat mendengar bel yang berbunyi.

“Aish! Siapa sih yang bertamu di hari libur begini?” Jaehyun kesal sekali sedangkan Taeyong telah memasang wajah horrornya menatap Jaehyun yang mencoba menenangkannya, “tidak akan ada yang tahu dengan apa yang akan kita lakukan, kau tenang saja.” Ujarnya bersimpati namun tidak dengan taeyong yang kembali menggeplak kepalanya keras.

“Cepat bukakan pintunya!”

“Iya-iya, kau ini tidak sabaran sekali.” Jaehyun menyahut sambil memasang baju santai dan boxer, “aku akan segera kembali, tunggulah sebentar.” Ujarnya diakhiri senyuman lalu cepat-cepat menutup pintu kamar sebelum remote TV yang melayang mengenai kepalanya.

Masih menggerutu Jaehyun menghampiri pintu, mengumpat kaget melihat adik sepupunya beserta dua koper besar di samping tubuhnya.

“Kau mau tinggal disini hah?” semburnya di detik berikutnya, dia tahu Mark akan pulang ke Korea Selatan dalam waktu dekat, tapi tidak sekarang juga apalagi dengan membawa barang-barangnya seolah-olah paman Sang Yoon –ayah Mark- tidak punya rumah saja.

“Aku belum bilang apa-apa tapi kau sudah tahu maksudku, kau baik sekali Woojae-ya!” Mark yang tidak menangkap nada kesal dari sepupunya cengengesan saja, dia hendak melangkah masuk tapi dihalangi Jaehyun masih dengan tampang galaknya.

“Tidak, tidak! Kau tidak boleh tinggal disini!”

“Kenapa? Kita keluarga dan tempat tinggalmu terlalu besar untukmu sendiri.” Wajah Mark menjadi bingung, seingatnya Jaehyun tidak seperti ini padanya dulu, kenapa sekarang dia pelit sekali sih?

“Aku bilang tidak ya tidak! Memangnya hanya aku keluargamu hah? Kenapa tidak tinggal di rumah ayahmu saja?”

“Lalu kenapa kau tinggal berpisah dari paman bibi padahal kalian berada di kota yang sama? Kenapa juga kau perhitungan sekali denganku?” Jaehyun menggeram jengkel, sepupunya ini benar tapi tetap saja Jaehyun tidak terima kalah bicara dengan Mark yang tiga tahun lebih muda darinya.

“Pergilah ke tempat Tiffany, dia pasti akan menerimamu dengan senang hati karena dia sangat menyayangimu. Aku akan memberikan uang taxi untukmu tenang saja.” Jaehyun memberikan option lain, sepupu tertuanya yang sebenarnya tidak Jaehyun sukai karena mereka itu saingan dari dulu ketika masih di luar negeri, walaupun Tiffany itu lebih tua empat tahun darinya tapi wanita itu sangat jarang mau mengalah padanya jadilah mereka bagai musuh hingga sekarang.

Other Post :

“Fany noona saat ini pasti tidak ada di rumah, hari libur begini dia pasti pergi bersama teman-teman sosialitanya. Aku kesini karena aku tahu kau lebih sering berada di rumah saat libur, aku benar-benar capek jadi biarkan aku masuk.” Mark memaksa masuk, dia mendorong koper besarnya yang tidak bisa Jaehyun cegah. Ketika Mark melepas sepatunya, dia melihat ada dua pasang sepatu dan menyernyit bingung karena keduanya sepatu laki-laki, bukan high heels atapun sepatu wanita lainnya, apalagi posisi dua pasang sepatu itu tidak rapi jadi ada kemungkinan pemakainya tergesa-gesa saat melepasnnya, mungkin karena mabuk? Analisa yang bagus Mark.

“Aku tidak tahu kau bisa tidur dengan laki-laki, Jae?” tanyanya spontan, dihadiahi pukulan kelas pada kepalanya dari Jaehyun. Pria bermarga Jung berjalan lebih dulu, menunjukkan kamar kosong lain di apartementnya untuk ditempati Mark yang saat ini tersenyum lebar membayangkan akan bercumbu pada kasur, dia lelah sekali omong-omong.

Jaehyun hendak membuka pintu namun dia berbalik menghadap Mark yang tersenyum padanya, “masuklah dan jangan keluar sampai aku menyuruhmu, mengerti?” Mark mengangguk antusias dan Jaehyun membukakan pintu untuknya kemudian membantu anak itu memasukkan koper lalu menutup pintunya.

“Siapa yang datang?” Taeyong bertanya ketika Jaehyun memasuki kamar, laki-laki itu terlihat bad mood setelah menerima tamu tak diundang, tidak mungkinkan yang datang itu penagih hutang sampai Jaehyun terlihat kesal sekali? Taeyong mengenyahkan pikiran itu, rasanya Jaehyun tidak mungkin punya hutang mengingat status chaebol dia.

Jaehyun tidak menjawab melainkan membuka lemarinya, dia terlihat memilih pakaian lalu melemparkannya ke kasur, “kau mau pulangkan? Pakailah lalu pergi, tidak perlu kau ganti baju itu.” Katanya enteng lalu keluar kamar begitu saja sedangkan Taeyong sedikit terkejut dan marah. Memangnya siapa yang membawa Taeyong kemari? Jaehyun. Siapa yang menahannya pergi? Jaehyun. Dan sekarang siapa yang mengusirnya begitu saja? Jaehyun. Tiga fakta itu sudah cukup untuk membuat kemarahan Taeyong sampai ubun-ubun, lelaki itu melangkah pelan namun memekik sakit pada bagian belakang tubuhnya namun cepat-cepat membungkam mulutnya sendiri menggunakan tangan karena tidak mau teriakan sakitnya didengar Jaehyun, bisa semakin terlihat menyedihkan dia kalau Jaehyun mendengarnya. Taeyong mengambil pakaian dengan kasar dan memakainya cepat, tidak peduli lagi dengan rasa sakit yang ada selama dia bisa pergi dari apartement Jaehyun. Sudah cukup dia dipermalukan sampai saat ini dan dia bertekad ini yang pertama dan yang terakhir, lagipula Jaehyun pasti sudah tidak penasaran padanya kan? Bosnya itu pasti akan melupakan semalam dan hari ini dengan cepat juga tidak akan lagi mengganggunya karena ambisi sesaatnya pada Taeyong telah selesai, semoga saja.

Dia membuka pintu kamar, dilihatnya Jaehyun yang menatapnya dengan menyesal –mungkin saja, tapi bukan Taeyong namanya kalau mengalihkan wajahnya demi pria egois macam Jaehyun yang suka memerintah seenak hatinya. Dia berjalan tergesa menuju pintu tanpa melihat ke belakang lagi, memakai sepatunya lalu keluar dari tempat ini adalah hal yang diutamakan Taeyong.

Sedangkan Jaehyun memilih melihat Taeyong dalam diam, setelah mendengar suara pintu depan yang tertutup, dia mengetuk pintu kamar Mark, memberitahu anak itu bisa keluar lalu menyerahkan segelas jus jeruk pada sepupunya –awalnya dia ingin memberikannya pada Taeyong, tapi tidak jadi karena kemungkinan pria itu menumpahkan minuman pada wajah Jaehyun lebih besar daripada meminumnya dengan patuh.

“Siapa dia?” Mark bertanya setelah menenggak habis minuman segar ditangannya, menggoyangkan gelasnya pada Jaehyun yang menyerigai tipis.

“Hanya seseorang, tidak perlu kau pikirkan.” Jaehyun menjawab setelah beberapa saat, sedikit kepikiran dengan perkataan terakhirnya pada Taeyong yang sudah pasti melukai perasaan dan harga diri lelaki itu namun Jaehyun tidak mau memperpanjangnya, masih ada waktu untuk menikmati hari libur dan sepertinya Mark tidak begitu mengganggunya.

Hari senin, dan Taeyong akan mendapat hadiah darinya.

.

.

To Be Continue…

 

Id line: nazimahagustina

Instagram : agustinazimah

Iklan

About agustinazimah

Nazimah Agustina | 24 Aug 1995 | East Borneo | Indonesia | SMTown Lovers | KiHae Shipper | Donghae Biased | Artworker

Posted on 26 Desember 2016, in Between Love and Ambition, Fanfiction and tagged , , , , , , , , , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Bagaimana menurut anda?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: