[Jaeyong Fanfic] Between Love and Ambition Chapter 5

Dia membuka pintu kamar, dilihatnya Jaehyun yang menatapnya dengan menyesal –mungkin saja, tapi bukan Taeyong namanya kalau mengalihkan wajahnya demi pria egois macam Jaehyun yang suka memerintah seenak hatinya. Dia berjalan tergesa menuju pintu tanpa melihat ke belakang lagi, memakai sepatunya lalu keluar dari tempat ini adalah hal yang diutamakan Taeyong.

Sedangkan Jaehyun memilih melihat Taeyong dalam diam, setelah mendengar suara pintu depan yang tertutup, dia mengetuk pintu kamar Mark, memberitahu anak itu bisa keluar lalu menyerahkan segelas jus jeruk pada sepupunya –awalnya dia ingin memberikannya pada Taeyong, tapi tidak jadi karena kemungkinan pria itu menumpahkan minuman pada wajah Jaehyun lebih besar daripada meminumnya dengan patuh.

“Siapa dia?” Mark bertanya setelah menenggak habis minuman segar ditangannya, menggoyangkan gelasnya pada Jaehyun yang menyerigai tipis.

“Hanya seseorang, tidak perlu kau pikirkan.” Jaehyun menjawab setelah beberapa saat, sedikit kepikiran dengan perkataan terakhirnya pada Taeyong yang sudah pasti melukai perasaan dan harga diri lelaki itu namun Jaehyun tidak mau memperpanjangnya, masih ada waktu untuk menikmati hari libur dan sepertinya Mark tidak begitu mengganggunya.

Hari senin, dan Taeyong akan mendapat hadiah darinya.

.

jaeyong taeyong lee jung jaehyun nct bromance poster fanfic

Title : Between Love and Ambition

Author : Nazimah Agustina

Main Cast : Jung Jaehyun & Lee Taeyong

Other Cast : Tiffany Hwang, Mark Lee, yang lain menyusul yaaa

Main Pair : JaeYong (Jaehyun and Taeyong)

Genre : Romance, Drama, bite humor

Disclaimer : saya Cuma pinjam nama member NCT kok ^^

Rating : Mature

Summary :          [CHAP 5 IS UP!] Jaehyun itu suka bermain-main dengan Taeyong/“Kau terlihat pucat, apa-apaan lingkaran hitam itu? Apa kau berpesta gila semalaman?”-Jaehyun?“Kau benar-benar membenciku ya?”-Taeyong/“Apa dia pegawai yang tidur di ruanganmu tadi?”-Mark/tapi Taeyong itu angkuh sekali sampai tidak ada yang mau mengalah diantara keduanya. JaeYong! NCT!

Warning! : Don’t like don’t read! If you read, don’t forget to review or coment!

.

Chapter 5

.

Taeyong melangkahkan kakinya dengan gontai, dia kesal sekaligus menyesal menghabiskan sisa hari libur yang berharga dengan mendebatkan akan resign atau tidak dari tempatnya bekerja sekarang. Dia merasa sayang melepaskan posisi karyawan tetap di kantor ini, sudah cukup ia dicibir karena resign dari asisten designer yang begitu digandrungi saat ini, mereka bilang posisi Taeyong itu bagus sekali tapi dianya saja yang sombong dimana Taeyong merasa muak mendengarnya, mereka tidak tahu saja dia lebih sering melakukan apa untuk designer itu. Dibanding membantunya dalam membuat pakaian, Taeyong lebih sering membantu mempersiapkan pasangan semalam bosnya yang dia sukai itu. Tapi disisi lain bekerja untuk Jaehyun yang membuatnya tidak nyaman juga dia tidak mau, walaupun ujungnya dia memilih tidak resign sih karena mencari pekerjaan di tempat sebagus ini sulit sekali pastinya di zaman sekarang.

“Kau baik-baik saja?” Taeyong terlihat linglung, rupanya dia sudah berada di ruangan Jaehyun saat ini. Ah dia melamun saat berjalan ke ruangan Jaehyun yang memanggilnya tadi, tapi Taeyong tidak ambil pusing, dia hanya bergumam malas untuk menjawab bos barunya.

“Kau terlihat pucat, apa-apaan lingkaran hitam itu? Apa kau berpesta gila semalaman?” bajingan brengsek ini menangkup kedua pipinya bahkan menunjuk bawah matanya yang kini berkantung setelah bertanya dengan nada khawatir, tapi maaf saja karena Taeyong tidak peduli dengannya.

“Ya, menyenangkan sekali semalam itu.” Dustanya agar Jaehyun tidak bertanya lagi, tidak lupa menurunkan tangan Jaehyun dari wajahnya. Dia sadar dia tidak bersemangat hari ini, terlebih karena harus bertemu Jaehyun yang ingin dia hindari tapi apalah daya Lee Taeyong hanyalah bawahan dari Jung Jaehyun yang menjengkelkan.

“Aaah, kau pasti bersenang-senang semalam suntuk jadi lesu sekali pagi ini.” Jaehyun manggut-manggut akan kesimpulan yang dia tarik sendiri, masih memperhatikan Taeyong yang tidak peduli.

“Ada apa memanggilku memangnya?” Taeyong ingat tujuannya kesini, Jaehyun memanggilnya dan pasti ada alasan masuk akal yang mengharuskannya kesini, tidak mungkinkan lelaki di depannya ingin menemui dia karena merasa menyesal atau rindu begitu? Taeyong tidak ingin membayangkannya omong-omong.

“Aku akan ke Busan dalam waktu dekat, aku ingin kau ikut denganku.” Jaehyun menjawab ceria, sepertinya pria ini dalam mood yang bagus. Entah kapan pastinya Taeyong tidak tahu tapi dia terbiasa memperhatikan mood Jaehyun yang berubah-ubah.

“Untuk apa?” Taeyong masih tidak begitu mengerti, apa dengan Busan? Kenapa harus kesana?

“Akan ada acara dari mitra bisnis kita disana, tebak siapa tamu kehormatannya? Johhny Seo!”

“Maaf?” lelaki yang lebih tua menjawab cepat, dia yang awalnya ingin tidur saja menjadi segar lagi mendengar nama mantas bosnya disebut Jaehyun dengan semangat.

“Aku mengajakmu karena kau pernah bekerja dengannya jadi akan lebih mudah bagi kita untuk menjalin kerja sama kalau dia nyaman denganmu kan? Lagipula aku akan selalu disampingmu jadi kau tidak usah khawatir.” Jaehyun menjelaskan dengan ringan sembari matanya fokus pada koran, tidak tahu saja dia saat ini Taeyong telah mematung mendengar rinciannya.

“Kau benar-benar membenciku ya?” Tidak sadar Taeyong menggumamkannya namun Jaehyun sepertinya tidak mendengar karena tidak menanggapinya. Dia melihat Jaehyun yang kini bahkan menyesap kopinya dengan santai, ingin rasanya dia menumpahkan kopi panas itu ke wajah mesum bosnya tapi berhasil dia tahan keinginan itu. Belum setahun Taeyong pergi dari sisi Johnny dan sekarang Jaehyun sudah ingin mempertemukan mereka dalam perencanaan bisnis, entah Taeyong yang sedang sial atau memang Jaehyun saja yang menyebalkannya tidak perlu diragukan lagi.

“Kau butuh sesuatu? Kau benar-benar tidak terlihat sehat.” Yang ditanya hanya menatap Jaehyun keki, dia itu tidak mau mendapat perhatian penuh racun dari Jaehyun sekarang ini tapi pria Jung seolah tak punya malu untuk berbincang bahkan menyentuhnya setelah pengusiran tempo hari yang membuat Taeyong marah luar biasa padanya.

“Sudah selesaikan? Aku pergi.” Dia menjawab lemah namun di tahan Jaehyun yang kini menatapnya dengan otoriter. Meski masih kesal, Taeyong menurut saja ketika bosnya menawarkan dia beristirahat di ruangannya, kalau dipikir-pikir berbaring di sofa yang empuk lebih nyaman dibanding bilik meja kerjanya. Dia juga tidak ambil pusing saat dirasanya jemari Jaehyun membelai surai coklatnya, selama itu bukan tindak pelecehan, Taeyong baik-baik saja dengan itu.

Tidak selang lama pintu ruangan Jaehyun kembali terbuka tanpa pemberitahuan dari sekretaris ataupun ketukan pintu, Taeyong yang memang belum tertidur melihat siapa yang datang dan dia tidak pernah melihat orang ini sebelumnya sedangkan Jaehyun masih dengan mood bagusnya menyambut orang itu yang kini melihatnya bingung, mungkin dia heran kenapa pegawai biasa-biasa saja sepertinya bisa tiduran di ruangan bos.

“Ketuklah pintu dulu dimanapun kau berada, Mark Lee! Ah biar kutebak, kau mau melihat-lihat kantor barumu ya makanya hanya memakai pakaian santai begini? Memangnya kapan kau mau bekerja disini?” Jaehyun membuka obrolannya dengan Mark, memutus tatapan pemuda yang baru datang itu pada Taeyong yang merasa tidak enak, Taeyong hendak bangkit dari sofa tapi dilarang Jaehyun, selanjutnya Taeyong memilih berbaring memunggungi keduanya untuk menghilangkan malu.

“Aku memang hanya melihat-lihat tapi aku tidak berniat bekerja disini.” Mark menjawab tenang masih mencuri pandang pada Taeyong sekali dua kali yang membuatnya penasaran, dia tidak tahu jika kakak sepupunya punya perhatian sebesar ini pada pegawai karena baik ayah ataupun pamannya tidak pernah cerita soal itu padahal ayahnya Mark itu suka sekali memuji Jaehyun.

“Kau akan jadi pengangguran begitu? Aku tidak menerima pengangguran tinggal denganku jadi bersiaplah angkat kaki darisana.” Rasa kantuk Taeyong pudarlah sudah, jadi pria ini yang datang ke apartement Jaehyun waktu itu. Mark berdecak tidak suka mendengar Jaehyun yang bersikap tegas padanya, “bukan itu maksudku. Aku akan mencari pekerjaan di tempat lain, kau pikir kenapa aku mau kembali ke Korea? Karena ayah setuju dengan syarat-syarat yang kuajukan.”

“Apa syaratnya itu kau bebas bekerja di tempat manapun yang kau mau? Pantas saja ayahmu terlihat gusar saat aku membahasmu. Percuma juga dia menyekolahkanmu jauh-jauh dan mempersiapkan posisi disini kalau kau bekerja untuk yang lain.” Kadang Mark merasa posisi dia dan Jaehyun itu tertukar, sepupunya ini cukup mirip dengan ayahnya kalau untuk urusan keras kepala dan sifat otoriternya, beruntung ayahnya adalah orang yang pandai mengendalikan diri, dia tidak bisa membayangkan bagaimana suram nasibnya jika sang ayah itu seperti Jaehyun yang suasana hati dan tindakannya yang gampang berubah.

Disisi lain Jaehyun cukup iri dengan sepupunya ini, setidaknya dia bisa menentukan dimana ia bekerja nantinya, tidak seperti Jaehyun yang memang telah dipersiapkan  sebagai penerus dari posisi ayahnya sebagai pemegang saham tertinggi. Kalau dilihat-lihat, dia tidak cukup berbeda dengan Mark, mereka sama-sama suka kehidupan bebas dimana Jaehyun hanya bisa melampiaskannya dengan menghamburkan uang dan berkencan dengan beragam jenis wanita. Sedangkan sepupunya mungkin sedikit lebih baik darinya karena setahu dia Mark tidak begitu memperdulikan wanita, anak itu punya beberapa hobi yang dia tekuni dan itu sepertinya lebih menyita waktu sang sepupu.

“Kau mau kemana setelah ini? Aku akan menjadi pemandumu hari ini.” Jaehyun menawarkan pada Mark yang sudah pasti akan setuju, dia bersikap seperti itu agar tidak mengganggu istirahat Taeyong juga ada yang ingin dia bicarakan dengan ayahnya, pastilah Mark akan mengunjungi ruangan ayahnya nanti. Lagipula Jaehyun itu risih melihat tatapan penasaran sang sepupu pada pegawainya daritadi, setelah mengambil berkas yang akan ia serahkan pada ayahnya, Jaehyun menyeret Mark dari ruangan kerjanya menuju tempat sang ayah.

“Harusnya mereka pergi saja daritadi, pergi yang jauh, tidak perlu kembali sekalian juga sangat bagus!” Taeyong mendumel setelah pintu ruangan tertutup. Pria Lee itu tidak mau cepat-cepat beranjak dari ruangan ini karena dia sudah terlanjur merasa nyaman berbaring di sofa empuk dan luas milik bosnya jadi dia ingin tidur setidaknya sampai Jaehyun kembali.

Jaehyun memasuki ruangan ayahnya dengan sedikit gugup. Rencananya hari ini dia akan mengatakan pada ayahnya bahwa Taeyonglah yang akan bertanggung jawab pada peragaan musim dingin nanti. Awalnya dia memang ragu dan Taeyongpun pesimis akan kemampuannya sendiri, tapi Jaehyun sudah berjanji bahwa dia akan memberi Taeyong tanggung jawab ini.

Dia berdecak jengkel ketika retinanya menangkap Tiffany –sepupu cantik tapi menyebalkan berada di ruangan ayahnya. Jaehyun dan Tiffany bagai rival sejati dalam pemasaran, jika Jaehyun memasang target idol yang memiliki fanbase besar sebagai pasar utama maka Tiffany lebih suka memakai aktor dan aktris yang naik daun bahkan pasangan selebritipun dia kontrak menjadi model produk perusahaan.

Seperti halnya wanita itu berhasil membuat pasangan Kim Woo Bin dan Shin Min Ah menjadi model celana jins dan juga pasangan Rain dan Kim Tae Hee untuk iklan pakaian musim semi yang menjadi viral di kalangan netizen, menaikkan kredibilitas perusahaan akan kepercayaan masyarakat meningkat pada mereka.

Jaehyun duduk pada single sofa di hadapan Tiffany sambil melempar senyum sarkastik yang dibalas sama oleh sang sepupu, sedang ayahnya hanya menggeleng maklum melihat putra dan keponakannya yang lebih terlihat seperti musuh saja. Mark sendiri yang sampai saat ini heran kenapa dua sepupunya ini selalu bermusuhan memilih untuk mengabaikan suasana tidak mengenakkan dari keduanya, dia menghampiri Tiffany lalu mengecup pipi wanita itu singkat serta senyuman memikat yang dibalas sama oleh Tiffany yang menyapa, “bagaimana hari pertamamu di Korea setelah tujuh tahun, Markeu?”

“Biasa saja tapi melihat noona yang semakin cantik membuat hariku di Korea menjadi semakin cerah.” Mark duduk disamping Tiffany yang semakin merasa senang karena digombali oleh adik sepupunya itu, sedang Jaehyun menanggapinya dengan, “cantik? Kau pasti sudah rabun karena tidak melihat keriput yang disana-sini pada wajahnya yang semakin menua!”

“Berhenti mengungkit keriput! Kau mau mati hah?” Tiffany membalas galak yang disahut Jaehyun yang mengatakan ini bukan hari pertama Mark di Korea namun wanita itu tidak menanggapi, sepupu wanitanya yang telah memasuki usia kepala tiga itu kembali memfokuskan diri pada Mark yang diladeni oleh pria yang lebih muda.

“Aku kemari hanya untuk memberitahu aku sudah memilih penanggung jawab untuk pagelaran musim dingin nanti, ayah.” Jaehyun berujar setelah berdehem untuk menarik perhatian ayahnya yang sedari tadi memperhatikan obrolan Tiffany dan Mark yang bagi Jaehyun tidak asyik sama sekali untuk disimak, tidak lupa menyerahkan berkas Lee taeyong sebagai referensi untuk ayahnya nanti.

“Benarkah? Siapa itu?” bukan ayahnya yang menjawab tapi Tiffany yang nampak tertarik dengan topik bahasan yang dibuka Jaehyun.

“Namanya Lee Taeyong.”

“Lee Taeyong? Aku tidak pernah mendengar namanya, Jae.”

“Dia belum ada setahun bekerja disini. Dia salah satu orangku jadi wajar saja kau tidak kenal.”

“What? Apa dia sehebat itu, Jae?” Jaehyun menatap Tiffany malas yang kini tersenyum lebar, sedang Mark diam saja karena tahu Lee Taeyong yang mana saja tidak.

“Dia pernah bekerja dengan Johnny Seo selama tiga tahun sebagai asisten pribadi.” Jaehyun menyerigai kecil menatap Tiffany yang nampak semakin penasaran, wanita ini salah satu fangirl Johnny Seo makanya dia mendukung penuh saat Jaehyun mengungkapkan keinginan untuk menjalin hubungan bisnis, Jaehyun kemudian menatap ayahnya yang kini manggut-manggut saja.

“Jika dia memang sudah siap dan kau percaya padanya, maka lakukanlah.”

“Aku penasaran apa yang telah dia berikan padamu sehingga kau menyerahkan pagelaran ini padanya.” Tiffany menggumam, bukan tanpa alasan juga dia berpikir demikian karena selama ini untuk urusan pagelaran Jaehyun tidak pernah turun tangan sendiri memilih penanggung jawab karena biasa Tiffany lah yang mengurus semuanya.

“Apa dia pegawai yang tidur di ruanganmu tadi?” Ingin rasanya Jaehyun menenggelamkan Mark dan kalimat spontannya yang membuat ayah dan Tiffany menatap keduanya bergantian dengan bingung, dimana Jaehyun terpaksa mengatakan jika Taeyong kurang sehat jadi dia menawarkan ruangannnya untuk beristirahat sebentar agar ketiganya tidak berpikiran macam-macam, bisa rusak reputasinya jika ketahuan oleh mereka kalau dia menjalin hubungan gelap dengan pegawainya, laki-laki pula.

Jaehyun memasuki ruangannya dan langsung melihat pemandangan Taeyong dengan wajah damai yang kini tidur di sofa miliknya. Dia tidak ingin mengganggu laki-laki itu sebenarnya tapi apalah daya sifat usilnya yang hanya kumat di depan Taeyong membuat dia mencium juga melumat pelan bibir pegawainya tersebut.

Jaehyun sudah akan bereuforia saat Taeyong masih dengan mata terpejam membalas lumatan dengan manisnya, dia tidak tahu jika laki-laki ini punya sisi polos yang membuat Jaehyun ingin merasakannya juga. Alih-alih melepas ciumannya, laki-laki itu malah menggerayangi tubuh Taeyong yang terganggu juga tidurnya.

“Lepaskan aku, brengsek!” Mengumpat bukanlah kebiasaan abadi Lee Taeyong tapi akan menjadi hal wajib bagi dirinya jika itu berurusan dengan Jung Jaehyun yang maha menjengkelkan. Bukannya berhenti, Jaehyun malah mengecupi bahunya yang masih tertutupi kemeja kuning muda, dia bahkan menggigit gemas tulang selangka Taeyong yang menjerit pelan dibuatnya.

Ketika Taeyong menoleh kebelakang untuk memprotes tindakan Jaehyun yang menggigit bahunya, lelaki itu justru mendapat serangan cumbuan mesra dari Jaehyun pada bibirnya yang membuat Taeyong terbuai ditambah tangan nakal pria yang lebih muda sudah membuat kemejanya acak-acakan.

“Aish sudahlah! Kau membuatku berantakan! Aku mau pergi!” kewarasan telah kembali pada Taeyong yang menggeleng-gelengkan kepalanya untuk menghilangkan fantasi liar yang sempat menguasai pikirannya. Dia itu masih belum gila seperti Jaehyun yang bahkan merengut saat taeyong memutus ciuman keduanya, bagaimana jika mereka ketahuan melakukan perbuatan tidak senonoh di kantor? Wah bisa mampus dia! Kalau Jaehyun sih pasti aman mengingat status ayahnya yang merupakan presdir, tapi tidak dengan Taeyong yang pasti bukan hanya dipecat secara tidak hormat tapi juga malu seumur hidup jika hal ini ketahuan orang-orang di kantornya.

Tapi Jaehyun tetaplah seorang otoriter yang begitu menyebalkan, tanpa berkata-kata pria itu dengan seenaknya menarik tubuhnya dengan kuat hingga Taeyong jatuh dalam dekapannya lalu kembali menawan bibir mereka dalam ciuman menuntut, lelaki itu bahkan menahan rahang Taeyong dengan kuat agar dia tidak bisa melepas ciuman dengan mudah. Di sisi lain Jaehyun tidak boleh lupa kalau Taeyong itu pria sombong yang penuh harga diri, dia bergerak liar berniat melepaskan diri dari Jaehyun yang justru membuat Jaehyun semakin tertantang padanya, dia menyukai Taeyong yang tidak mudah luluh dengan bujuk rayunya, menyukai Taeyong dengan mulut kasarnya, menyukai Taeyong dengan keangkuhan yang mencapai langit, juga selalu menyukai lelaki sombong itu ketika telah takluk dalam sentuhan panasnya.

“A…aaahh!” desahan keluar dari mulut Taeyong atas kecerobohannya sendiri bergerak tidak karuan dalam pangkuan Jaehyun, bukannya lepas dari kungkungan bosnya, Taeyong malah jadi gila sendiri saat selangkangan keduanya bergesekan kasar, membuat matanya berkunang-kunang akan gairah yang meletup-letup yang tentunya disambut seringai senang Jaehyun saat menatap kedua netra bawahannya yang mulai berselimut nafsu.

Napas taeyong semakin pendek-pendek saja ketika Jaehyun mencengkram tangannya untuk memegang penis bosnya yang masih tertutupi celana bahan itu, jika ini Taeyong yang dalam mode normal pastilah dia sudah memukuli Jaehyun tanpa ampun tapi sekarang ini Taeyong berada dalam mode tidak normal dimana dia menuruti saja apa yang Jaehyun inginkan untuk dia lakukan termasuk melakukan handjob seperti ini.

Ketukan keras pada pintu mengeluarkan erangan marah dari Jaehyun yang wajahnya telah memerah juga napas yang tidak beraturan seiring semakin kasar dan cepatnya Taeyong mengurut penisnya yang kian lama kian mengembung. Dia semakin berdecak jengkel ketika mendengar suara Tiffany lah yang berada di balik pintu ruang kerjanya, wanita itu suka sekali mengganggu kesenangannya daridulu hingga sekarang.

Jaehyun berdiri tergesa-gesa memperbaiki penampilannya, Taeyong juga melakukan hal yang sama dan meringis sendiri saat melihat wajah kesakitan Jaehyun yang belum sempat ejakulasi padahal sudah hampir sampai tapi digagalkan oleh wanita yang membuka pintu dan berjalan dengan langkah percaya diri ke arah mereka.

“Ada apa denganmu Woojae?” Tiffany terlihat khawatir karena wajah Jaehyun yang merah padahal beberapa waktu lalu dia tampak baik-baik saja, wanita itu bahkan menyentuh dahi Jaehyun untuk mengecek suhu tubuhnya yang mengundang tatapan penasaran Taeyong tentang hubungan keduanya.

“Itu bukan urusanmu, penyihir sialan.” Bukannya marah dengan umpatan dari pria di depannya, wanita itu tertawa kecil dengan anggun yang semakin membuat Taeyong bingung. Mereka terlalu ‘akrab’ untuk ukuran rekan kerja kan? Bisik Taeyong dalam hatinya.

“Apa kau yang bernama Lee Taeyong? Yang akan menjadi penanggung jawab pagelaran musim depan?” tiba-tiba saja wanita itu bertanya padanya, Taeyong membaca name tag wanita itu dan yakin jika marga dia dan Jaehyun berbeda. Taeyong mengangguk kaku setelah melihat Jaehyun sebentar yang masih terlihat kesal dengan keberadaan wanita ini di ruangannya.

“Kau memiliki style yang bagus, kau pernah bekerja untuk designer ternama jadi seharusnya aku tidak perlu heran. Apa kau sudah punya bahan untuk pagelaran nanti?” Tiffany tidak peduli jika pertanyaannya barusan mengundang tatapan curiga dari Jaehyun seperti sekarang ini dimana laki-laki itu memicingkan mata tidak suka padanya. Taeyong nampak gelagapan karena tidak menyangka Jaehyun benar-benar serius akan penawaran lelaki itu tempo hari, yang untungnya ditangkap oleh Tiffany yang cepat-cepat melanjutkan, “pasti belum, kalau begitu kau bisa ikut aku untuk melihat proses pemotretan dan iklan untuk musim gugur ini? Siapa tahu saja kau mendapat ide dengan itu.” Kemudian menarik tangan Taeyong tapi dicegah Jaehyun yang menatap Tiffany sengit.

“Dia orangku jadi hanya aku yang menentukan dia akan pergi denganmu atau tidak dan aku memutuskan untuk tidak membiarkan dia pergi denganmu.” Pelan namun penuh penekanan Jaehyun katakan pada Tiffany yang hanya menatap sepupunya malas.

“Aku hanya ingin membantu orangmu itu, dia orang baru disini dan aku yang biasa mengurus pagelaran tiap musimnya. Kau bahkan tidak pernah turun tangan untuk pagelaran secara langsung jadi bagaimana kau akan membimbingnya?” Tatapan wanita cantik itu tidak kalah mengintimidasi dari Jaehyun, Taeyong yang menyaksikan tepat diantara keduanya menjadi bingung sendiri. Dia sejujurnya sangat tertarik dengan penawaran Tiffany, jika dia tidak bisa menolak pagelaran ini maka sudah seharusnya dia mendapat bimbingan dari professional bukan? Tiffany adalah jawabannya tapi Jaehyun terlihat sekali membenci wanita ini.

“Daripada kita berdebat tidak jelas seperti ini, bagaimana jika kita tanyakan pada orangnya langsung? Lee Taeyong-ssi, apa kau ingin ikut denganku sebentar untuk membahas yang mungkin akan menginspirasimu untuk pagelaran nanti atau kau akan mematuhi perkataan bosmu yang bahkan tidak bisa membantumu dalam menentukan tema pagelaran itu sendiri?” Taeyong semakin takjub saja melihat wanita ini yang mampu membuat Jaehyun terlihat sangat emosi sekarang, dia yang memang sebal sekali dengan Jaehyun mengangguk mantap juga senyuman terbaiknya dia berikan pada Tiffany yang cukup membuat Jaehyun menatap tidak suka juga tidak berdaya pada keputusan yang Taeyong ambil untuk mengikuti sepupu wanitanya.

Tiffany berjalan terlebih dahulu meninggalkan ruangan Jaehyun, Taeyong yang senang melihat wajah tertekuk bosnya menatap gundukan pada celananya yang pasti masih terasa sakit, dengan usil pria yang lebih tua mencengkram selangkangan Jaehyun yang tentu saja langsung memekik dengan tidak elit serta menyakitkan, sedang Taeyong kabur denngan tawa yang ditahan begitu saja menyusul Tiffany yang memandang pria Lee dengan heran namun tidak bertanya apapun padanya.

“Kau kenal penyanyi Kim Taeyeon kan?” Taeyong mengangguk saja pada Tiffany yang sibuk menunjukkannya koleksi yang siap dipasarkan untuk musim ini.

“Dia adalah model kita untuk musim gugur. Dengan berlatar single terbaru dia yang bergenre balada, kita akan menjadi brand utama untuknya, koleksi ini telah dipamerkan pada pagelaran untuk musim gugur beberapa waktu lalu. Temanya kali ini adalah sweater yang biasanya berimej monoton, namun kita melalui Taeyeon akan membuat imej baru pada sweater yaitu imut dan seksi. Kau lihat dia? Sweater putih dipadukan rok mini berwarna merah maroon juga sepatu boot akan membuat imej berbeda yang lebih segar dari biasanya.” Taeyong mengikuti arah pandang dan jari telunjuk Tiffany saat Taeyeon sedang difoto dengan pakaian tersebut. Wanita cantik itu juga mengambil beberapa pasang pakaian dari wardrobe untuk dijelaskan padanya.

“Kau lihat ini juga, sweater hitam ini memiliki jaring-jaring di lengannya, dan untuk menambah kesan seksi ada dua lubang kecil yang mengintip belahan dada. Dipadukan dengan celana panjang ketat warna putih juga syal merah ini menambah suasana musim gugur yang berbeda dari biasanya.” Tiffany senang dapat menjelaskan ide-idenya pada Taeyong yang terlihat serius, laki-laki itu bahkan mengeluarkan buku catatan kecil untuk mencatat poin-poin penting penjelasannya. Setidaknya Jaehyun yang menjengkelkan itu memiliki satu orang pegawai yang patuh membuat Tiffany lega, sebenarnya wanita itu ingin memperhatikan sepupu bongsornya itu seperti dia memperhatikan Mark tapi Jaehyun itu terlalu bebal padanya jadi dia kesal sendiri ketika harus berurusan dengan pria berlesung pipi itu.

“Aku senang Woojae memiliki pegawai sepertimu, jika pagelaran ini sukses mungkin akan memperbaiki hubungan kami yang retak.”  Taeyong menghentikan gerakan pulpennya yang beradu pada notes setelah Tiffany mengucapkannya dengan penuh harapan. Dia dapat menebak hubungan Jaehyun dan Tiffany walau tidak yakin juga, panggilan Woojae yang disematkan Tiffany untuk Jaehyun cukup membuktikan mereka dulunya sangat dekat ditambah fakta wanita di depannya begitu mengagumkan baik dari fisik maupun ketegasannya yang sangat cocok jika disandingkan dengan Jaehyun, mereka akan jadi pasangan paling serasi di kantor ini menurut Taeyong yang merasa jengah juga memikirkan pria semenyebalkan Jung Jaehyun bisa berada di sisi wanita sebaik Tiffany Hwang.

Taeyong jadi penasarankan apa hubungan dua orang ini di masa lalu, sepasang kekasih kah?

.

To Be Continue

Iklan

About agustinazimah

Nazimah Agustina | 24 Aug 1995 | East Borneo | Indonesia | SMTown Lovers | KiHae Shipper | Donghae Biased | Artworker

Posted on 26 Desember 2016, in Between Love and Ambition, Fanfiction and tagged , , , , , , , , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Bagaimana menurut anda?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: