[NCT JaeYong Fanfiction] Pernikahan… Simulasi? Chapter 2

“Bagaimana kalau menikah secara simulasi saja?” Jaehyun bertanya dengan hati-hati, sepertinya ini satu-satunya cara agar Taeyong mau mengubah status single but happiness kebanggaannya itu.

“Menikah simulasi? Apa maksudnya?” Taeyong menanggapi dengan dahi berkerut, walaupun dia membenci pernikahan tapi kalau ada embel-embel simulasi di belakangnya itu tidak benar juga, ‘kan?

“Kau menikah namun dengan perjanjian, kalau merasa tidak cocok atau menemukan pasangan yang sesuai ya tinggal bercerai saja, gampang, ‘kan? Lagipula hyung pasti capek bibi Yoona selalu saja meunjukkan foto-foto wanita  atau pria untuk melakukan kencan buta yang melelahkan, belum lagi beliau juga sering mengenalkanmu dengan banyak anak kenalannya, setidaknya keluarga hyung tidak pusing lagi kalau hyung mau menikah.” Jaehyun menjelaskan tapi Taeyong menatapnya tidak suka.

“Aku bahkan tidak tertarik dengan mereka semua dan aku tidak memikirkan siapapun yang pantas untuk kunikahi.” Taeyong menolak dengan tegas dan Jaehyun hanya menghela pelan, dia menenggak kopinya habis lalu membalas, “aku mau kok jadi pasangan simulasimu, hyung.”

Sedetik kemudian Taeyong tersedak kopinya sendiri karena tawaran mengejutkan dari Jaehyun tersebut.

jaeyong-wall

Title : Pernikahan… Simulasi?

Main Cast : Lee Taeyong & Jung Jaehyun

Main Pair : JaeYong!

Author : Nazimah Agustina

Genre : Drama, Romance, Friendship, Family, Humor

Rating : Teen

Disclaimer : saya Cuma pinjam nama member NCT  kok xD

Summary : Taeyong selalu didesak untuk menikah tapi dia membenci pernikahan itu sendiri. / “Aku tidak ingin menghancurkan hubungan baik kita.” – Taeyong /“Lihatlah kelakuannya, dia sudah tua tapi tetap saja kekanakan!” – Yoona /“Kalau kita menikah, aku janji hyung akan tinggal di apartemenku secara gratis.”  – Jaehyun / Kemudian Jaehyun menawarkannya untuk melakukan pernikahan dengan perjanjian. JAEYONG! NCT!

Warning! BoysLove! NCT Fanfic! Jaeyong Couple! Don’t Like Don’t Read! Review Please…

.

Instagram : agustinazimah

Line : nazimahagustina

Chapter 2

.

“Kenapa kau mau melakukannya?” tanya Taeyong setelah membereskan kekacauan yang dia buat tadi, dia nyengir saja ketika Jaehyun dengan wajah datar membersihkan noda kopi semburan Taeyong pada wajah gantengnya, walau ekspresinya kesal tapi Jaehyun tidak berkomentar dengan reaksi berlebihan Taeyong sampai menyemburkan kopi dengan kurang ajar ke wajah dan pakaian bos seperti itu.

“Usiaku tahun depan sudah tiga puluh, artinya tahun depan aku akan bernasib sama seperti hyung yang ditodong kapan menikah sedangkan hyung tahu sendiri kalau aku tidak ada waktu untuk berkencan atau apalah itu. Jadi untuk menghindari pertanyaan memuakkan itu, aku ingin sudah lebih dulu menikah dan kebetulan hyung sudah sangat pusing soal masalah itu juga, ‘kan?” Taeyong manggut-manggut saja dengan penjelasan masuk akal Jaehyun yang sengaja dia tekan dan pelankan agar Taeyong mngerti maksudnya.

“Ah ya kau kan terlalu workholic, aku bahkan ragu kau pernah berkencan atau tidak karena lebih sering bersama dokumen-dokumen menyebalkan itu. Aku yang benci hubungan terikat saja masih suka melakukan kencan buta dan hubungan satu malam, tapi kau? Kau bahkan tidak pernah sempat melakukannya.” Taeyong menanggapi terselip ejekan di dalamnya, dia menyambut riang pesanan kopinya yang baru lalu meminumnya perlahan.

“Jadi bagaimana?” mendadak moment Taeyong meminum kopi menjadi sangat lambat bagi Jaehyun, seperti adegan slow motion yang membuatnya jengkel. Yang lebih muda mendesah kecewa saat Taeyong menggelengkan kepala pertanda tidak setuju dengan penawarannya.

“Apa mungkin aku tidak memenuhi kriteria hyung?” Jaehyun tidak bisa tidak bertanya dengan penasaran apa alasan penolakan terebut. Dia tahu jelas kalau Taeyong hanya bergantung padanya selama ini. Dia seratus persen yakin jika dialah yang paling mengerti Lee taeyong luar dan dalam karena telah bersama dengannya selama lima belas tahun sesudah perkenalan mereka di pesta pernikahan kedua ibu Taeyong.

Taeyong memperhatikan Jaehyun yang frustasi dengan kekehan kecil. Setelah dipikir-pikir, pria didepannya memang tangkapan yang bagus sekali sih. Jaehyun itu sudah tampan, atletis, tinggi, pengertian, punya pekerjaan bagus, dari keluarga baik-baik yang terpandang pula, pantas saja teman-teman satu angkatan Taeyong dulu berlomba mendekatinya hanya untuk dikenalkan dengan Jaehyun saat lelaki itu menjemputnya di sekolah ataupun di kampus dulu. Teman yang merangkap bosnya ini seperti karakter pemeran utama pria yang menjadi incaran para ibu untuk menjadikannya menantu dalam drama, tapi lima belas tahun sudah sangat cukup bagi Taeyong untuk tidak tergoda dengan pesona Jaehyun.

“Jangan diam saja, ayolah! Memangnya kurang apa sih aku? Apa aku kurang baik, kurang tampan, kurang atletis, atau apa gitu?” Jaehyun meninggikan suaranya, sesaat kemudian dia menarik dan membuang napasnya panjang untuk tetap tenang yang menyernyitkan kening Taeyong karena tingkah tidak biasa Jaehyun ini, biasanya pria Jung itu kelewat kalem menghadapi segenting apapun situasinya.

“Aku tidak ingin menghancurkan hubungan baik kita.” Taeyong menjawab cepat lalu tersenyum teduh menatap Jaehyun yang terdiam, “aku tidak mau karena masalahku yang konyol ini menyeretmu dalam hubungan rumit nantinya, bisa jadi kita akan bertengkar karena pernikahan tidak berguna itu. Aku tidak mau menyakiti teman yang sudah kuanggap adikku sendiri, kalaupun aku harus memilihmu atau Jeno, aku pasti lebih memilihmu dibanding adik tiriku yang sok bule itu.” Taeyong bercerita masih dengan senyum di wajahnya, mata besar milik laki-laki itu berbinar penuh perhatian tiap kali berbicara sambil melihat Jaehyun yang membuang muka, masih kecewa rupanya.

“Jangan ngambek begitu, ayo pulang!” Taeyong bangkit lalu mengusak surai hitam Jaehyun pelan.

“Tunggulah di mobil, aku bayar tagihan kita dulu.” Yang lebih muda membalas setelah menjauhkan jemari Taeyong dari kepalanya, yang lebih tua mengangguk lucu lalu mencubit pipi gembil Jaehyun gemas lalu mengusak rambutnya lebih kasar lagi kemudian cepat-cepat menjauh sambil tertawa sebelum Jaehyun berseru protes.

Jaehyun tersenyum ketika melihat Yoona menyuapi Taeyong dengan kue kering sesaat setelah Taeyong menyerukan salam. Yang disuapi menguyah untuk menilai eksperimen yang sudah berapa kali Taeyong tidak tahu diiringi tatapan tidak  sabar dari ibunya, dia bersorak ketika Taeyong memberikan jempol padanya pertanda kue buatannya kali ini layak untuk dimakan. Wanita yang masih cantik di usianya yang tidak lagi muda itu melihat Jaehyun lalu menyuapi teman anak sulungnya itu yang dengan senang hati diterima Jaehyun dengan cara membuka mulutnya lebar.

“Bagaimana Jaehyunie?” ibu Taeyong bertanya dengan ramah pada Jaehyun yang masih tersenyum sambil melihatnya.

“Ini sekali enak bibi, terima kasih kuenya.” Sebenarnya Yoona paling suka dengan ekspresi Jaehyun saat memakan sesuatu karena wajah anak itu sudah mendeskripsikan bagaimana rasa makanan yang dia coba, berbeda sekali dengan putranya yang entah enak atau tidak tetap saja datar sekali wajahnya itu.

“Tidak perlu berterima kasih, nanti sebelum pulang bawalah satu toples untuk ibumu, ya.” ibu Taeyong menyuapkan kue lagi ke mulut Jaehyun sebelum teringat apa yang ingin dia katakan pada putra sulungnya tadi, “Taeyongie, ambil map di meja itu dan lihat-lihatlah siapa tahu ada yang menarik perhatianmu!” Taeyong mendengus malas mendengar suara milik ibunya yang masih belum menyerah juga menjodohkannya dengan banyak orang. Dia melewati saja meja yang dimaksud ibunya menuju kamar yang ditanggapi dengan decakan kesal Yoona yang kemudian mengambil map itu.

“Lihatlah kelakuannya, dia sudah tua tapi tetap saja kekanakan!” wanita itu mendumel, Jaehyun tersenyum sopan saja lalu mengalihkan perhatian ibu Taeyong dengan, “sepertinya kue buatan bibi yang lain sudah matang.”

Ibu Taeyong cepat-cepat berjalan menuju dapur diekori Jaehyun yang membantunya untuk mengeluarkan loyang dari oven. Daridulu ibu Taeyong memang agak terobsesi dengan kue kering, dessert, coklat, dan sejenisnya. Persis seperti Taeyong yang lebih suka memakan makanan seperti itu dibanding nasi, buah memang jatuh tidak jauh dari pohonnya.

“Kau memang yang terbaik, Jaehyun-ah! Taeyong itu sudah lama sekali menempel denganmu tapi kepribadiannya tidak pernah berubah, padahal akan sangat bagus kalau dia tertular sikap sopan santunmu yang manis ini.” Jaehyun membungkuk sopan dan tersenyum malu mendengar pujian  yang selalu dia dengar dari wanita itu, dia melihat was-was ketika ibu Taeyong mengambil map yang sempat dia abaikan tadi lalu tersenyum cerah menatap Jaehyun sambil berujar, “apa kau mau melihat-lihat? Siapa tahu ada yang cocok denganmu.”

“Ah tidak perlu bibi, aku sudah punya calon kok.” Jaehyun menolak halus lalu tertawa sumbang membalas tawaran Yoona yang sebenarnya berniat baik agar dia cepat-cepat ketemu jodoh. Jangankan Taeyong, dia saja tidak mau memeriksa isi map itu karena ibu Taeyong pasti akan bercerita tentang orang-orang yang ada difoto lalu merencanakan kencan buta yang tidak disukai Jaehyun.

“Kau sudah punya? Berarti hanya Taeyong yang membutuhkannya, anak itu benar-benar menyedihkan, dia tidak takut apa kalau sendirian seumur hidup? Kalian juga tidak mungkin akan terus bersama kalau Jaehyun nanti menikahkan.” Yoona bercerita sedih, dia mencicipi kue buatannya dengan sedikit merajuk dan Jaehyun merasa tidak enak hati sudah menolak tawaran wanita paruh baya itu kalau harus melihat adegan bak drama televisi seperti ini.

“Sebaiknya bibi jangan terlalu memaksa Taeyong hyung lagi, berhenti mempertemukannya dengan orang yang tidak dia kenal. Cobalah untuk mendekatkannya dengan orang yang sudah dia percaya, bibi tahu sendirikan kalau Taeyong hyung itu agak tsundere yang menyebalkan sekali.” Jaehyun menasehati dengan perlahan, takut-takut Yoona akan hilang kendali seperti mengamuk misalnya karena ibu dan anak itu sebenarnya sama saja menyebalkannya kalau sudah dalam mood yang buruk.

Saat ini Jaehyun dan Taeyong berada di supermaket dengan Jaehyun mendorong troli sedang Taeyong memegang menu belanja, tadi ibu Taeyong menyuruh putranya untuk mengisi kulkas mereka yang hampir kosong dan Jaehyun yang kelewat baik menawarkan diri untuk membantu Taeyong jadi berakhirlah mereka belanja bersama sekarang.

“Hyung yakin benar-benar tidak mau menikah?” Jaehyun mengungkit lagi topik yang paling ingin Taeyong hindari, didepannya pria Lee bernapas jengkel tapi berusaha menahan untuk tidak memarahi Jaehyun mengingat selama ini lelaki itu tidak pernah repot-repot ikut campur dalam urusan percintaannya, mungkin Jaehyun hari ini salah minum obat makanya jadi selalu menanyai Taeyong tentang menikah, menikah dan menikah.

“Aku tahu kau mendengarku tapi kenapa tidak dijawab, sih?” Jaehyun kesal juga Taeyong pura-pura tidak mendengarnya. Lelaki itu hanya membaca menu, mengambil yang akan dibeli lalu meletakkannya dalam troli yang didorong Jaehyun.

“Bisa diam tidak sih? Kalau tidak, lebih baik pulang sana.” Taeyong menjawab jutek tanpa menoleh kearahnya sama sekali. Jaehyun memejamkan matanya sejenak, dia jadi heran kenapa bisa tahan dengan Taeyong selama belasan tahun kalau sifatnya saja begini dinginnya.

“Kau mengusirku?” Jaehyun bertanya pelan dengan suara disedih-sedihkan, mungkin saja Taeyong mau menanggapinya dengan begitu.

“A-aku tidak bermaksud begitu kok Jae!” Taeyong agak panik, dia berbalik berjalan menuju Jaehyun yang agak tertinggal darinya.

“Hyung masih mau tinggal terpisah dari orang tua tidak?” tiba-tiba saja Jaehyun mengalihkan topik pembicaraan ketika Taeyong sudah sejajar lagi dengannya. Taeyong yang daridulu memang ingin pindah ke apartemen jadi tertarik, dia mengangguk antusias berkata, “itu sih impian terbesarku tapi ibuku tidak akan mengijinkannya. Beliau bilang tidak mau berpisah dariku meski aku menikah, aku jadi tidak tega meninggalkannya padahal aku hanya perlu membawa barang-barangku lalu menyewa kamar. Makanya waktu ibuku terus mendesakku menikah, aku akan menggunakan alasan yang sama dengan ibu jadi beliau tidak akan menang melawanku.” Jaehyun ikut tertawa mendengar Taeyong terbahak mengakhiri penjelasannya.

Sejak kuliah, Taeyong bilang ingin mandiri jadi mau pindah tempat tinggal, tapi ibunya yang terlalu protektif itu tidak pernah setuju dengan keinginan Taeyong sampai sekarang. Sebenarnya Taeyong iri sekali dengan Jaehyun karena bosnya itu sejak pertama kuliah sudah diperbolehkan tinggal sendiri, di apartemen elit yang penuh fasilitas mewah lagi. Tiap Taeyong bercerita pada Yoona tentang kepindahan Jaehyun, ibunya selalu menjawab karena Jaehyun sangat bertanggung jawab dan tidak akan lupa dengan keluarga makanya dia diijinkan untuk tinggal terpisah, tapi tidak dengan Taeyong karena ada kemungkinan dia tidak akan membukakan pintu jika ibunya berkunjung ke rumahnya sendiri nanti, ahahahaha.

Seperti membalas dendam, setiap ibunya bertanya ataupun memaksanya untuk menikah, Taeyong akan menjawab ‘kalau aku menikah, aku pasti akan pindah. Aku tidak mau berpisah dengan ibu yang paling cantik dan kucintai ini!’ dan itu cukup membuat ibunya kesal dan berhenti mengintrogasi putra nakalnya yang kemudian ditertawai Taeyong keras-keras.

“Kalau kita menikah, aku janji hyung akan tinggal di apartemenku secara gratis.” Jaehyun membuyarkan kenangan lucu sekaligus mengesalkan Taeyong dengan sang ibu. Yang ditawari demikian menggigit bibir bawahnya bimbang tidak tahu harus menjawab apa tapi penawaran Jaehyun memang sangat menggiurkan sih.

Kalau dia menerima pernikahan simulasi itu bukan hanya membungkam mulut cerewet keluarga terutama ibunya tapi juga kehidupan bebas siap menanti di depannya, apalagi dia akan menikah dengan Jaehyun yang sudah dikenalnya selama lima belas tahun.

“Apa ada kontrak didalamnya?” Taeyong bertanya, dia tidak lupa dengan kata simulasi yang berada di belakang kata pernikahan yang mungkin akan mereka jalani nanti. Jaehyun mengangguk, “kita akan meminta bantuan Tiffany nuna untuk mengurus kontrak itu. Tentang isi perjanjiannya, selama itu masuk akal, aku akan mengikuti semua syarat dari hyung.” Taeyong tersenyum lebar mendengar semua kebebasan yang akan didapatnya jika menikahi teman seperjuangannya itu.

Jung Jaehyun memang paling bisa membuat penawaran yang memikat hati, tidak heran dia ditempatkan dibagian pemasaran dan promosi di kantor.

.

To Be Continue

.

Duh entah kenapa jadi absurd gini dan mendadak konyol di hubungan Yoona dan Taeyong, wkwkw. Sebenarnya saya ngetik ini sambil bayangin Between Love and Ambition tapi dengan versi yang lebih smooth gitu. Jaehyun tetap dengan imej perayu ulungnya lalu Taeyong tetap dengan si bodoh yang mau-mau aja kena rayuan maut Jaehyun, ahahaha.

Karakter Taeyong disini gak segalak di BLA, terus karakter Jaehyun juga gak semesum fanfic sebelah yang entah kapan updatenya, mendadak saya bingung mau lanjutinnya, huhuhu.

Iklan

About agustinazimah

Nazimah Agustina | 24 Aug 1995 | East Borneo | Indonesia | SMTown Lovers | KiHae Shipper | Donghae Biased | Artworker

Posted on 30 Januari 2017, in Fanfiction, Pernikahan Simulasi and tagged , , , , , , , , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Bagaimana menurut anda?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: